Diyakini Ekonomi Indonesia Tumbuh 6,5%

Jumat, 26/08/2011

NERACA

Jakarta – Kementerian Keuangan sangat yakin pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester II-2011 diyakini menembus angka 6,5% lebih. Angka pertumbuhan ini lebih baik dibandingkan negara-negara maju. "Kita dalam kondisi yang lebih baik dari itu. Bahkan kita perkirakan pertumbuhan ekonomi di kuartal II ada di kisaran 6,5% dan di kuartal III minimum 6,5%semester II di atas 6,5%," kata Menteri Keuangan Agus Martowardojo di Gedung BI, Jakarta, Kamis (25/8)

Menurut mantan Direktur Utama Bank Mandiri ini, kondisi perekonomian Indonesia saat ini cenderung lebih baik dibandingkan dengan negara maju yang mengalami koreksi ke bawah. "Artinya kondisi yang dialami oleh negara-negara maju saat ini, justru sedang mengalami koreksi pertumbuhan ekonomi ke bawah, sementara kita dalam kondisi yang lebih baik," tambahnya

Lebih jauh Agus mengusulkan agar kondisi Indonesia makin lebih baik. Maka harus disertai dengan pertumbuhan infrastruktur dan penyelesaian hambatan investasi.

"Apalagi kalau kita bisa mengatasi aspek infrastruktur dan hal-hal yang menghambat investasi di Indonesia," ujarnya.

Untuk itu, Agus Marto menyatakan pemerintah akan gelontorkan anggaran dalam APBN 2012 sebesar Rp 168 triliun. "Justru kita harapkan inisiatif itu datang dari swasta, BUMN, asing, dan kita menyediakan roadmapnya. Adapun investasi di infrasturktur tahun 2012 akan di kisaran Rp 168 triliun, tapi itu sudah merupakan peningkatan yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya," tuturnya.

Namun, meskipun demikian, Agus Marto belum mau meningkatkan targetnya untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga akhir tahun, yaitu tetap 6,5%. "Tahun ini kita tetap pada 6,5% seperti dalam APBN-P 2011," imbuhnya

Sementara Menko perekonomian, Hatta Radjasa mengaku pemerintah saat ini sedang mengodok kajian mengenai infastructur fund. "Kita harus memikirkan bagaimana dana ini masuk ke infrastruktur, bagaimana kita mempersiapkan infrastructure fund kita. Ini dalam waktu dekat akan kita bahas," ujarnya

Lebih jauh kata Hatta, saat ini infrastructur fund memang sudah diterapkan oleh BUMN hanya yang harus dicermati adalah bagaimana supaya itu tidak missmatch. "Kalau revenue-nya rupiah mengeluarkan bond dolar kan tidak boleh terjadi miss match, kita tidak mau terulang kejadian tahun 1997-1998," tukas Hatta.

Hanya saja, lanjut Hatta, terkait adanya krisis utang yang terjadi di Amerika Serikat (AS) dan Eropa masih membuat para investor melarikan dananya pada emerging market seperti Indonesia. ‘Yang kita hawatirkan itu timbul kalau dana tersebut masuk ke pasar modal. Kita sedang upayakan agar dana-dana itu bisa dimanfaatkan untuk pembiayaan infrastruktur,” ungkapnya.

Hatta mengungkapkan aliran dana asing atau yang biasa disebut capital inflow jangan dibiarkan mengalir pada pasar modal. Pasalnya penyerapan di pasar modal dianggap masih minim. “Sementara inikan emiten kita belum bertambah, jadi kita harus hati-hati menyikapinya. Apalagi yang kita butuhkan adalah untuk pembangunan jangka panjang,”paparnya.

Hatta menjelaskan, dengan adanya quantitive easing di AS maka derasnya capital inflow ke emerging country atau emerging market akan semakin kuat. Dana-dana tersebut, lanjut Hatta, tidak boleh dibiarkan masuk pada shortterm, portofolio, dan sektor-sektor keuangan. "Jadi kita harus mempersiapkan bagaimana dana asing itu bisa ke infrastruktur jangan sampai masuk ke pasar modal semua, apalagi yang masuk ke shortterm dan portofolio itu,” pungkasnya. **cahyo