Diyakini Ekonomi Indonesia Tumbuh 6,5%

NERACA

Jakarta – Kementerian Keuangan sangat yakin pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester II-2011 diyakini menembus angka 6,5% lebih. Angka pertumbuhan ini lebih baik dibandingkan negara-negara maju. "Kita dalam kondisi yang lebih baik dari itu. Bahkan kita perkirakan pertumbuhan ekonomi di kuartal II ada di kisaran 6,5% dan di kuartal III minimum 6,5%semester II di atas 6,5%," kata Menteri Keuangan Agus Martowardojo di Gedung BI, Jakarta, Kamis (25/8)

Menurut mantan Direktur Utama Bank Mandiri ini, kondisi perekonomian Indonesia saat ini cenderung lebih baik dibandingkan dengan negara maju yang mengalami koreksi ke bawah. "Artinya kondisi yang dialami oleh negara-negara maju saat ini, justru sedang mengalami koreksi pertumbuhan ekonomi ke bawah, sementara kita dalam kondisi yang lebih baik," tambahnya

Lebih jauh Agus mengusulkan agar kondisi Indonesia makin lebih baik. Maka harus disertai dengan pertumbuhan infrastruktur dan penyelesaian hambatan investasi.

"Apalagi kalau kita bisa mengatasi aspek infrastruktur dan hal-hal yang menghambat investasi di Indonesia," ujarnya.

Untuk itu, Agus Marto menyatakan pemerintah akan gelontorkan anggaran dalam APBN 2012 sebesar Rp 168 triliun. "Justru kita harapkan inisiatif itu datang dari swasta, BUMN, asing, dan kita menyediakan roadmapnya. Adapun investasi di infrasturktur tahun 2012 akan di kisaran Rp 168 triliun, tapi itu sudah merupakan peningkatan yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya," tuturnya.

Namun, meskipun demikian, Agus Marto belum mau meningkatkan targetnya untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga akhir tahun, yaitu tetap 6,5%. "Tahun ini kita tetap pada 6,5% seperti dalam APBN-P 2011," imbuhnya

Sementara Menko perekonomian, Hatta Radjasa mengaku pemerintah saat ini sedang mengodok kajian mengenai infastructur fund. "Kita harus memikirkan bagaimana dana ini masuk ke infrastruktur, bagaimana kita mempersiapkan infrastructure fund kita. Ini dalam waktu dekat akan kita bahas," ujarnya

Lebih jauh kata Hatta, saat ini infrastructur fund memang sudah diterapkan oleh BUMN hanya yang harus dicermati adalah bagaimana supaya itu tidak missmatch. "Kalau revenue-nya rupiah mengeluarkan bond dolar kan tidak boleh terjadi miss match, kita tidak mau terulang kejadian tahun 1997-1998," tukas Hatta.

Hanya saja, lanjut Hatta, terkait adanya krisis utang yang terjadi di Amerika Serikat (AS) dan Eropa masih membuat para investor melarikan dananya pada emerging market seperti Indonesia. ‘Yang kita hawatirkan itu timbul kalau dana tersebut masuk ke pasar modal. Kita sedang upayakan agar dana-dana itu bisa dimanfaatkan untuk pembiayaan infrastruktur,” ungkapnya.

Hatta mengungkapkan aliran dana asing atau yang biasa disebut capital inflow jangan dibiarkan mengalir pada pasar modal. Pasalnya penyerapan di pasar modal dianggap masih minim. “Sementara inikan emiten kita belum bertambah, jadi kita harus hati-hati menyikapinya. Apalagi yang kita butuhkan adalah untuk pembangunan jangka panjang,”paparnya.

Hatta menjelaskan, dengan adanya quantitive easing di AS maka derasnya capital inflow ke emerging country atau emerging market akan semakin kuat. Dana-dana tersebut, lanjut Hatta, tidak boleh dibiarkan masuk pada shortterm, portofolio, dan sektor-sektor keuangan. "Jadi kita harus mempersiapkan bagaimana dana asing itu bisa ke infrastruktur jangan sampai masuk ke pasar modal semua, apalagi yang masuk ke shortterm dan portofolio itu,” pungkasnya. **cahyo

BERITA TERKAIT

Ekspansi di 2018, Wuling Bakal Tambah Puluhan Diler di Indonesia

Wuling Motors Indonesia ingin menunjukkan komitmennya dalam berinvestasi di Indonesia dengan rencana membangun puluhan jaringan diler pada tahun ini. Brand…

Kembalikan Lagu untuk Anak Indonesia

      Lagu merupakan suatu bentuk seni yang digemari setiap kalangan dan sebuah bentuk ekspresi yang dapat menembus banyak…

Nokia 8 Resmi Meluncur Dipasaran Indonesia

Lama dinanti, smartphone high-end Nokia 8 akhirnya melenggang di pasaran Indonesia. HMD Global selaku pemegang lisensi merek ponsel legendaris itu…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Berantas Pungli, Pelindo I Luncurkan E-Berthing

  NERACA Riau - PT Pelabuhan Indonesia I (Persero) atau Pelindo 1 melakukan Launching E-berthing di Pelabuhan Sri Bintan Pura,…

Konsumen Berhak untuk Tarif Listrik Wajar

  NERACA Jakarta - Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengatakan konsumen berhak atas tarif listrik…

Proyek Irigasi di 2018 Bertambah 2.000

  NERACA Jakarta - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan jumlah proyek irigasi nasional pada 2018 tercatat…