Middle Income Trap Mengadang - SEKTOR MANUFAKTUR PERLU SEGERA DIREVITALISASI

Jakarta - Indonesia saat ini menghadapi penurunan harga komoditas dan kompetisi global yg semakin ketat. Sementara dari sisi domestik, tingkat produktivitas rendah, kapasitas produksi juga terbatas, kesenjangan infrastruktur dan ketrampilan SDM sangat besar, sehingga berdampak pada kurangnya inovasi teknologi dan tingginya biaya produksi. Karena itu, sektor manufaktur perlu segera direvitalisasi jika Indonesia tidak mau terjebak ke dalam status middle income trap.

NERACA

Wakil Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menilai, sektor manufaktur di Indonesia perlu direvitalisasi, agar dapat kembali memacu pertumbuhan ekonomi dan lebih dapat bersaing dengan negara-negara berkembang lainnya.

"Kita perlu merevitalisasi sektor manufaktur, agar membantu peningkatan neraca perdagangan kita. Serta supaya kita bisa lebih kompetitif," ujar Wamenkeu Bambang Brodjonegoro, saat menjadi pembicara kunci dalam seminar internasional di Bali, akhir pekan lalu.

Menurut dia, peran manufaktur terhadap perekonomian yang terus meningkat hingga tengah tahun 2000-an, telah menurun sejak saat itu. Kecenderungan penurunan kontribusi manufaktur terhadap perekonomian, pada umumnya dapat dianggap sebagai hasil dari pergeseran dini struktur ekonomi.

“Kurangnya kualitas infrastruktur, rendahnya kapasitas sumber daya manusia, rendahnya kapasitas untuk inovasi, dan kelembagaan yang lemah, merupakan beberapa kendala untuk mencapai proses kematangan manufaktur,” ujarnya.

Menurut Bambang, kondisi yang tidak seimbang tersebut, telah menyebabkan penurunan kontribusi sektor manufaktur. Berbeda dengan apa yang terjadi di negara-negara lain, yang memiliki pembangunan industri yang lebih konsisten, seperti Jepang, Korea, dan Taiwan.

Saat ini, kata Bambang, Indonesia masih terus dibayangi jebakan negara kelas menengah (middle income trap). Karena banyak negara yang akhirnya terjebak dalam jebakan status tersebut, dan hanya sedikit yang berhasil menuju negara berpenghasilan tinggi. Dia berharap Indonesia menjadi salah satu negara yang lolos menjadi high income country pada 2040.

"Kita tidak bisa mengandalkan sektor komoditas selamanya. Karena sangat sensitif terhadap guncangan global, seperti yang telah kita saksikan dalam beberapa tahun terakhir. Oleh karena itu, kebutuhan untuk menghidupkan kembali sektor manufaktur, juga sebagai cara untuk menjaga ekonomi dari tantangan eksternal," kata ujarnya.

Komoditas Primer

Menurut ekonom utama LIPI Latief Adam, pemerintah memerlukan kebijakan untuk mendukung industri padat karya yang dianggap sebagai langkah yang baik untuk memaksimalkan penyerapan tenaga kerja Indonesia. Saat ini banyak investor yang tidak tertarik untuk masuk ke industri padat modal, seperti pertanian atau manufaktur. Hal ini disebabkan oleh belum kokohnya undang-undang tenaga kerja, masalah infrastruktur, dan birokrasi yang cukup rumit.

"Akhirnya, mereka lebih suka masuk ke bidang ekstraktif atau perbankan yang tidak perlu mempekerjakan orang yang banyak," ujarnya kepada Neraca, Sabtu.

Menurut dia, investor juga tidak tertarik untuk masuk ke industri ini karena risiko investasinya yang besar. Sektor ini cukup rawan terguncang oleh hal-hal yang mengancam pertumbuhan ekonomi. Krisis global bisa menekan harga komoditas primer. Sehingga, memberikan dampak negatif kepada masyarakat yang mengandalkan hidupnya dari sektor padat karya.

Latief mengatakan, agenda pembangunan ke depan seharusnya fokus pada penguatan daya saing industri yang berkontribusi besar terhadap pengentasan kemiskinan dan pengangguran. Melalui agenda ekonomi jelas khususnya dalam peningkatan daya saing agar lolos dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap) dalam tiga tahun ke depan.

"Indikasi bahwa Indonesia berada dalam jebakan negara berpendapatan menengah semakin jelas. Indonesia sudah cukup lama berada pada transisi dari negara berpendapatan rendah menjadi negara berpendapatan menengah, kesempatan Indonesia beralih ke kelompok negara berpendapatan menengah atas semakin kecil," ujarnya.

Karena itu, pemerintahan mendatang harus mampu memberi kebijakan industri yang jelas, menyediakan prasyarat dasar bagi penguatan struktur industri domestik, mendorong kemampuan ekspor industri dan mengimplementasikan program-program penguatan industri secara baik. Pemerintah harus segera mengubah haluan ekonominya menjadi lebih berpihak ke sektor pertanian.

"Selain ke sektor pertanian, pemerintah harus memacu pengembangan industri manufaktur yang padat karya. Dalam hal ini, bisa pula ditempuh industrialisasi sektor pertanian yang terintegrasi dari hulu ke hilir," ujarnya.

Pengamat ekonomi Unpad Prof Dr Ina Primiana meminta pemerintah agar mendorong sektor industri manufaktur untuk meraih target jangka panjang agar lebih terjangkau. "Manufaktur merupakan urat nadi untuk mencapai ekonomi yang cepat. Kontribusi manufaktur Indonesia saat ini cenderung mengalami penurunan," ujarnya.

Menurut dia, sumbangsih industri manufaktur bagi perekonomian cukup besar dalam menyerap tenaga kerja. Sayangnya pada saat ini, kualitas pertumbuhan ekonomi yang disumbang oleh industri mengalami penurunan dari sisi kualitas.

"Hal ini disebabkan oleh, salah satunya oleh banyak industri yang padat modal dibandingkan dengan padat karya. Fungsi mesin yang menggantikan tenaga manusia menjadi salah satu penyebab minimnya penyerapan tenaga kerja meskipun angka realisasi pertumbuhan investasi maupun output pada industri kita naik secara signifikan," katanya.

Sebenarnya, kata dia, Indonesia membutuhkan akselerasi pertumbuhan pada sisi manufaktur yang lebih besar lagi. Dengan potensi hilirisasi komoditas unggulan, maka arah untuk menggerakan perekonomian nasional untuk tumbuh lebih besar lagi sangat terbuka luas, khususnya menggenjot industri manufakturnya.

Menurut pengamat infrastruktur UI Nuzul Achjar, posisi daya saing industri manufaktur Indonesia dalam beberapa tahun belakangan masih kurang sehat. Ini karena infrastruktur nasional yang masih minim, tingkat SDM yang rendah dan kurangnya inovasi teknologi mengakibatkan biaya produksi menjadi mahal sehingga produk nasional kurang kompetitif jika bersaing dengan produk luar.

"Negara lain kian kencang meningkatkan daya saing produk mereka, tapi Indonesia masih berjalan di tempat. Produk nasional masih sangat tidak kompetitif jika ditandem dengan produk negara lain. Seolah Indonesia tidur dalam peningkatan kualitas produk," ujarnya.

Oleh karena itu, menurut dia, di masa transisi kepemimpinan baru saatnya Indonesia membangun kembali ( revitalisasi) manufaktur dengan mulai pembenahan infrastruktur, peningkatan SDM dan tekhnologi agar produk nasional siap di tengah persaingan global yang kian ketat. "Presiden baru harus punya semangat baru, jangan hanya saat kampanye semangatnya tinggi. Kini saatnya pemimpin baru membangunkan industri manufaktur nasional guna perbaikan ekonomi lebih baik dimasa mendatang," tegasnya. agus/mohar/bari

Related posts