Astra Bakal Mendulang Untung Jangka Panjang

Kembangkan Bisnis Jalan Tol

Senin, 13/10/2014

NERACA

Jakarta – Guna menopang bisnis di sektor otomotif dan industri keuangan, PT Astra Internasional Tbk (ASII) mulai mengoptimalkan bisnis di sektor infrastruktur dan termasuk keseriusan menggarap bisnis tol luar kota. Diharapkan melalui bisnis tol tersebut, perseroan bisa memperkuat pendapatan berulang recurring income.

Kata Deputi Direktur PT Astra Internasional Tbk, Paulus Bambang WS, ekspansi bisnis jalan tol adalah strategi perseroan untuk bisnis jangka panjang. Pasalnya, bisnis tol yang dinilai menjanjikan tersebut akan memberikan pemasukan rutin yang stabil bagi Astra,”Tol bukan bicara berapa kontribusi, tapi long term. Nanti 2025-2030 kita punya recurring revenue yang strong untuk bantu Astra yang otomotifnya up and down,"ungkapnya di Jakarta, kemarin.

Sebagai catatan, PT Astra International Tbk akan mengeluarkan biaya investasi sedikitnya Rp 1 triliun untuk pengembangan jalan tol Mojokerto-Kertosono. Pembangunan tol sepanjang 40,5 km akan dibagi menjadi empat seksi, dengan pembagian seksi I sepanjang 15 km, seksi II 20 km, seksi III 5 km, dan seksi IV setengah km.

Menurut Paulus, seksi I sudah siap diresmikan minggu depan. Sementara, perusahaan akan memfokuskan diri pada penyelesaian seksi II dan III di tahun depan. "Tadi seksi I hampir selesai, 13 Oktober. Minggu depan insyaallah diresmikan Pak Menteri. Seksi II, III targetnya Juli 2015. Seksi I 15 km. Seksi II yang paling panjang 20 km," ujarnya.

Grup Astra pun selama paruh pertama 2014 ini sudah menunjukkan keseriusannya di bidang infrastruktur. Hingga semester I-2014, Grup Astra telah menggelontorkan dana sekitar Rp 1,2 triliun untuk infrastruktur. Perseroan mengalokasikan dana sekitar Rp 2,5 triliun tahun ini untuk infrastruktur.

Selain itu, ditengah beragamnya pencapaian bisnis Grup Astra pada semester pertama tahun ini, perseroan mengklaim masih mencatatkan keuntungan divisi lain ditengah anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS,”Kalau yang agro, senang. Karena dia jualnya kan dengan dollar AS, jadi ada yang ekspor dan ada yang tidak. Plus-minusnya ada. Tapi kalau otomotif kan berat," ujar Paulus.

Diversifikasi yang dilakukan Astra International, menurut Paulus, memegang peranan penting dalam menghadapi keadaan semacam ini. Selain di sektor agraria, ada pula kegiatan usaha perusahaan yang menurut Paulus tidak terlalu terpengaruh anjloknya nilai tukar rupiah. Paulus mencontohkan jalan raya,”Cuma, kalau jalan raya kan tidak ada masalah. Rupiah-rupiah, tidak ada masalah. Jadi, karena Astra bisnisnya banyak, jadi saling begini," imbuhnya.

Lebih lanjut, Paulus juga mengungkapkan bahwa kondisi ekonomi domestik saat ini hanya sementara. Perekonomian Indonesia, menurut dia, akan kembali baik di tahun depan. Kegamangan di sektor politik pun tidak akan selamanya terjadi. "Kami percaya siapa pun (pemimpinnya), ini hanya sementara. Kita percaya Indonesia akan bagus, tahun depan pasti jadi tujuan investasi, siapa lagi di ASEAN kalau tidak Indonesia?" ungkapnya. (bani)