Semen Indonesia Geluti Bisnis Properti

Manfaatkan Land Bank 450 Hektar

Senin, 13/10/2014

NERACA

Jakarta –Masih menjanjikannya bisnis properti ditengah perlambatan pertumbuhan ekonomi, menjadi pertimbangan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) untuk ekspansi bisnis merambah bisnis properti dengan memanfaatkan lahan milik perseroan seluas 450 hektar di Gresik Jawa Timur dalam waktu dekat.

Rupanya perseroan menyakini, bisnis properti yang bakal digeluti ini bakal terserap pasar dan mampu menopang penjualan di bisnis semen. Apalagi, manisnya bisnis properti sudah banyak dilakukan BUMN konstruksi lainnya, seperti WIKA, PTPP dan Adhi Karya dengan spin off anak usaha bidang properti.

Sekretaris Perusahaan Semen Indonesia, Agung Wiharto mengatakan, perseroan akan membangun kawasan perumahan dan wisata, termasuk di dalamnya pembangunan museum semen dan juga kebun raya. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan utilisasi lahan yang selama ini tidak terpakai,”Di Gresik itu awalnya lahannya tidak ditempati, tetapi kita bayar pajaknya tiap tahun, rencananya lahan ini yang akan kita manfaatkan,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Di dalam bisnis ini, perseroan tidak sendirian, Semen Indonesia akan menggandeng beberapa pihak lain untuk secara bersama-sama membangun proyek properti yang dimaksud. Dimana, perseroan akan menggandeng PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) dan beberapa BUMN konstruksi lainnya.

Nantinya Semen Indonesia hanya akan menyediakan aset berupa tanah, sedangkan untuk pembangunannya akan dikerjakan oleh pihak lain. Skema kerja sama yang akan dijalankan adalah dengan membentuk anak usaha yang akan bertanggung jawab atas lini bisnis baru perseroan.

Untuk memuluskan ambisinya, Semen Indonesia siap menyuntikkan dana sebagai setoran awal sebesar Rp100 miliar hingga Rp200 miliar kepada entitas usaha baru tersebut. Sementara Direktur Utama Semen Indonesia, Dwi Soetjipto menambahkan, pengembangan sektor hilir di bidang properti ini merupakan salah satu cara revitalisasi aset yang ada, artinya aset nonproduktif dibuat menjadi aset produktif.

Namun, saat ini banyak permasalahan legal yang menghambat pengembangan sektor hilir, seperti dispute aset BUMN apakah merupakan kekayaan negara atau kekayaan negara yang dipisahkan,”Tapi kalau berpikirnya tidak harus dijual, bisa langsung dimanfaatkan, kayaknya ya luar biasa. Harga tanah di sana sekarang sudah Rp3 juta per meter," ungkapnya.

Meski akan dibangun di lahan bekas pabrik semen, Dwi menuturkan, struktur tanahnya sangat padat. Begitu pula dengan akses air bersih, perseroan memastikan unit bisnis baru ini untuk memikirkan waterplannya. Selama ini, pabrik Semen Gresik pun telah memiliki waterplan.

Sebagai informasi, perseroan menyampaikan kesiapannya untuk melakukan pengembangan bisnis hilirisasi yang tidak hanya memproduksi semen, melainkan menjadi international trading company, memproduksi barang jadi seperti beton cetak, serta bergerak di bidang properti, logistik, dan tentu saja infrastruktur,”Jika kami memiliki kemampuan, kami harus masuk ke sektor infrastruktur. Selain dapat menyelesaikan permasalahan ekonomi makro, juga menciptakan potensi keuntungan bisnis,” papar Dwi.

Dirinya menjelaskan, alasan merambah bisnis infrastruktur lantaran pembangunan infrastruktur tidak hanya mengandalkan pemerintah. Apalagi, seretnya kucuran dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk proyek infrastruktur menjadi kendala bagi pemerintah.

Oleh karena itu, seharusnya kendala tersebut bisa menjadi peluang dengan peran investasi yang ditopang oleh pelaku bisnis dalam negeri di sektor tersebut. (bani)

Topik Terkait

bisnis properti gresik