BEI Anggap Kajian APEI Tidak Rasional - Soal Fraksi Harga Saham

NERACA

Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) membantah kajian dari Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) bila kebijakan fraksi harga saham telah menurunkan likuiditas di pasar. Bahkan penilaian tersebut, kata Direktur Utama BEI, Ito Warsito tidak tepat, “Saya sudah pelajari presentasi dari APEI. Menurut saya, banyak yang kurang pas. Contohnya itu mereka membandingkan perdagangan semester pertama 2013 dengan semester pertama 2014,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Menurut Ito, APEI seharusnya membandingkan periode semester dua 2013 dengan semester pertama 2014 yang kondisi perekonomiannya relatif lebih setara. Disebutkan, pada tahun 2013 kondisi perekonomian nasional masih sangat bagus karena nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sebesar Rp 9.600.

Dia menjelaskan, pada semester pertama 2014 dan semester kedua 2013 itu ada neraca yang defisit. Dimana ada nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang kurang lebih sama, “Sedangkan membadingkan dengan semester pertama 2014 rupiah terhadap dolar AS berkisar Rp 11.500-Rp 12.000-an. Ini berbeda sekali,,”kata Ito.

Lebih lanjut, Ito menuturkan perdagangan di semester kedua 2013 dengan semester pertama 2014 terjadi kenaikan sekitar 11%. Oleh karena itu, dugaan bahwa adanya fraksi harga telah menurunkan likuiditas. Itu keliru sekali.

Meski begitu, Ito mengakui memang terjadi penurunan nilai rata-rata transaksi harian yang hingga saat ini hanya sebesar Rp 6,4 triliun. Namun, pihaknya tidak berencana untuk mengubah kelompok fraksi harga saham terkait dengan permintaan APEI,”Memang, terjadi penurunan transaksi dari Rp 7 triliun menjadi katakanlah Rp 6,4 triliun. Tapi, jangan membandingkannya dengan awal 2013 dan awal 2014. Ini seperti membandingkan mangga dan duria karena kondisi ekonominya jauh berbeda,”tandasnya.

Sebagai informasi, BEI menerapkan pengelompokan fraksi harga saham terdiri atas harga saham kurang dari Rp 500 memiliki fraksi Rp 1, kemudian kelompok saham Rp 500-Rp 5.000 sebesar Rp 5, dan harga saham lebih dari Rp 5.000 dengan fraksi Rp 25.

Sementara kebijakan sebelumnya, bursa membagi lima kelompok fraksi, yakni harga saham di bawah Rp 200 memiliki fraksi Rp 1, harga saham Rp 200-Rp 500 fraksinya Rp 5, harga saham Rp 500-Rp 2.000 dengan fraksi Rp 10, harga saham Rp 2.000-Rp 5.000 dengan fraksi Rp 25, dan kelompok harga saham Rp 5.000 fraksi harganya senilai Rp 50.

Direktur Teknologi Informasi dan Manajemen Risiko BEI Adikin Basirun pernah bilang, kebijakan penyederhanaan fraksi saham dimaksudkan agar investor lebih mudah memantau pergerakan pasar. Sementara kebijakan perubahan lot size itu, adalah untuk memberikan fasilitas kepada investor ritel agar bisa melakukan diversifikasi investasinya dan dapat menjangkau saham yang harganya tinggi. (bani)

BERITA TERKAIT

Saham Bank Agris Masuk Pengawasan BEI

NERACA Jakarta – Lantaran terjadi peningkatan harga saham di luar kewajaran atau unusual market activity (UMA), saham PT Bank Agris…

BPJS-TK Minta Pendampingan KPK Soal Pengelolaan Dana

BPJS-TK Minta Pendampingan KPK Soal Pengelolaan Dana NERACA Jakarta - Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJS-TK) meminta pendampingan kepada Komisi…

Novanto Bantah Pernyataan Nazaruddin Soal Fahri Hamzah

Novanto Bantah Pernyataan Nazaruddin Soal Fahri Hamzah NERACA Jakarta - Mantan Ketua DPR RI Setya Novanto membantah pernyataan mantan Bendahara…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

TBIG Berikan Layanan Kesehatan di Jateng

Sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR), PT Tower Bersama InfrastructureTbk (TBIG) memberikan bantuan pangan dan…

BEI Perpanjang Suspensi GREN dan TRUB

Lantaran belum melakukan pembayaran denda, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memperpanjang penghentian sementara perdagangan efek PT Evergreen Invesco Tbk (GREN)…

Bukalapak dan JNE Hadirkan Layanan JTR

Sebagai bentuk komitmen Bukalapak untuk terus berusaha memberikan layanan terbaik dan mengoptimalkan jasa layanan pengiriman barang besar yang dapat mempermudah dan…