Awali Pekan Ini, IHSG Cenderung Menguat

Senin, 13/10/2014

NERACA

Jakarta – Setelah menguat dalam beberapa hari, dimanfaatkan pelaku pasar untuk ambil untung terhadap pada perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) akhir pekan kemarin. Alhasil, indeks harga saham gabungan (IHSG) seharian tertekan dan ditutup terkoreksi 30,919 poin (0,62%) ke level 4.962,960. Sementara Indeks LQ45 terkoreksi 5,720 poin (0,68%) ke level 838,676.

Menurut Kepala Riset Recapital Securities, Andrew Argado, melambatnya pertumbuhan ekonomi di kawasan Eropa membuat mayoritas bursa saham global mengalami koreksi, termasuk indeks BEI,”Melambatnya ekonomi di Eropa itu dapat menjadi kendala perbaikan ekonomi AS, karena Eropa merupakan salah satu pasar utama bagi AS, itu yang membuat bursa AS melemah dan berdampak ke bursa lain," ujarnya di Jakarta, kemarin.

Sehingga, lanjut dia, kondisi itu membuat investor mengambil langkah "wait and see" dengan kecenderungan keluar, salah satu dampaknya terasa pada pasar saham. Sementara dari dalam negeri, kata Andrew Argado, saat ini tidak terlalu cukup signifikan dalam menggerakan pasar, pelaku pasar saham cenderung mulai meninggalkan sentimen politik,”Secara fundamental ekonomi indonesia juga masih stabil," ungkapnya.

Sementara itu, Riset Sinarmas Sekuritas memprediksi awal pekan ini, IHSG akan bergerak berfluktuasi dengan kecenderungan menguat di kisaran level 4.933-4.980 poin,”IHSG BEI akan dipengaruhi oleh data neraca perdagangan Tiongkok yang diperkirakan meningkat," katanya.

Pada perdagangan akhir pekan, saham-saham konsumer bisa bertahan positif berkat aksi beli selektif. Sayangnya sembilan sektor lainnya melemah sehingga menyeret IHSG ke zona merah. Transaksi investor asing tercatat melakukan penjualan bersih senilai Rp 621,745 miliar di pasar reguler dan negosiasi.

Perdagangan berjalan sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 170.027 kali dengan volume 3,965 miliar lembar saham senilai Rp 4,2 triliun. Sebanyak 73 saham naik, 211 turun, dan 79 saham stagnan. Bursa-bursa di Asia kompak menutup perdagangan di teritori negatif. Sentimen melambatnya ekonomi dunia memicu aksi jual di pelaku pasar regional.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Gudang Garam (GGRM) naik Rp 800 ke Rp 56.600, Merck (MERK) naik Rp 500 ke Rp 161.000, Tower Bersama (TBIG) naik Rp 375 ke Rp 8.300, dan Mayora (MYOR) naik Rp 325 ke Ro 30.025. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 875 ke Rp 24.625, Astra Agro (AALI) turun Rp 425 ke Rp 21.900, Matahari (LPPF) turun Rp 300 ke Rp 15.500, dan Astra Internasional (ASII) turun Rp 225 ke Rp 14.150.

Perdagangan sesi pertama, indeks BEI ditutup terpangkas 37,625 poin (0,75%) ke level 4.954,254. Sementara Indeks LQ45 terkoreksi 7,190 poin (0,85%) ke level 837,206. Ekonomi Jerman yang melambat ditambah rencana The Federal Reserves menaikkan tingkat suku bunga menjadi sentimen negatif di pasar. Aksi jual tak henti-hentinya terjadi.

Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 86.874 kali dengan volume 1,918 miliar lembar saham senilai Rp 2,063 triliun. Sebanyak 62 saham naik, 194 turun, dan 66 saham stagnan. Bursa-bursa di Asia masih tak berdaya di teritori negatif. Sentimen melambatnya ekonomi dunia memicu aksi jual di pelaku pasar regional.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Gudang Garam (GGRM) naik Rp 725 ke Rp 56.525, Merck (MERK) naik Rp 500 ke Rp 161.000, Tower Bersama (TBIG) naik Rp 375 ke Rp 8.300, dan Bali Towerindo (BALI) naik Rp 100 ke Rp 2.350. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 700 ke Rp 24.800, United Tractor (UNTR) turun Rp 475 ke Rp 18.850, Astra Agro (AALI) turun Rp 425 ke Rp 21.900, dan Matahari (LPPF) turun Rp 400 ke Rp 15.400.

Diawal perdagangan, indeks BEI juga dibuka melemah 45,59 poin (0,91%) ke posisi 4.948,28. Sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) turun 11,42 poin (1,35%) ke posisi 832,97,”Bursa Asia, termasuk indeks BEI pada pagi ini bergerak melemah mengikuti bursa saham di AS akibat kekhawatiran ekonomi di Eropa yang cenderung menurun," kata Analis Samuel Sekuritas, Tiesha Narandha Putri.

Menurut dia, melambatnya ekonomi di negara-negara Eropa itu akan menyebabkan ekspektasi pertumbuhan ekonomi AS menjadi terkoreksi, sehingga kondisi mendorong investor mengamankan sebagian asetnya."Bank Sentral Eropa (ECB) menyatakan perbaikan di kawasan Eropa kehilangan momentum," katanya.

Dari dalam negeri, lanjut dia, kembali melemahnya mata uang rupiah terhadap dolar AS serta potensi tekanan pada saham-saham perbankan dan properti setelah mengalami kenaikan signfikan pada perdagangan sebelumnya menambah sentimen negatif bagi indeks BEI.

Sementara itu, tim lain, analis teknikal Mandiri Sekuritas dalam kajiannya mengemukakan bahwa hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia (BI) mengindikasikan kegiatan usaha pada triwulan III-2014 tumbuh melambat dibandingkan triwulan sebelumnya maupun pada periode sama tahun lalu.

Berdasarkan keterangan BI, disebutkan, hal itu tercermin dari saldo bersih tertimbang (SBT) yang sebesar 11,25%, lebih rendah dari SBT triwulan sebelumnya sebesar 21,05% dan 13,35% pada triwulan III-2013. Tercatat bursa regional, di antaranya indeks Bursa Hang Seng dibuka melemah 322,75 poin (1,37%) ke 23.211,78, indeks Nikkei turun 152,95 poin (0,99%) ke 15.334,14 dan Straits Times melemah 26,11 poin (0,81%) ke posisi 3.232,02. (bani)