Membaca Format Koalisi Partai Politik

Oleh: Prof Dr H Imam Suprayogo, Dosen UIN Malang

Senin, 13/10/2014
Jumlah partai politik di negeri ini masih cukup banyak, yaitu Golkar, PDIP, Demokrat, Nasdem, PPP, PAN, PKS, Hanura, Gerindra, dan PKB. Masing-masing tentu mengklaim memiliki ciri khas atau kharakteristik yang berbeda. Akan tetapi perbedaan itu sebenarnya tidak begitu tampak. Bagi orang yang mengamatinya hanya selintas, maka tidak mudah membedakan antara Golkar, Nadem, dan Demokrat. Kesulitan yang sama juga tatkala membedakan antara PPP dan PKB.

Sejak pemilihan presiden dan wakil presiden, semua partai politik tersebut melakukan koalisi menjadi dua kekuatan, yaitu koalisi Merah Putih dan Koalisi Indonesia Hebat. Dasar koalisi itu juga tidak mudah ditangkap. Umpama disebut bahwa koalisi itu atas dasar kesamaan idiologi, maka idiologi apa tidak begitu tampak. Juga misalnya atas dasar agama, malah tidak kelihatan. Mungkin saja hal itu atas dasar kepentingan yang bersifat prakmatis.

Umpama koalisi itu mendasarkan agama, maka tidak gampang dicari pembenarnya. PKB sebagai partai politik yang berbasis NU ternyata berkoalisi dengan PDIP, Nasdem, dan Hanura. Sementara itu, PPP, PAN, dan PKS yang semuanya, diakui atau tidak, beridentitas Islam ternyata juga berkoalisi dengan Demokrat dan Gerindra. Padahal kedua partai politik yang disebutkan terakhir ini tidak pernah membawa simbol agama tertentu. Umpama saja koalisi itu menjadi dua dan mendasarkan pada agama, maka PPP akan bersama PAN, PKS, dan PKB. Dan selainnya adalah PDIP, Gerindra, Demokrat, Golkar, dan Hanura. Akan tetapi format itu ternyata tidak demikian.

Oleh karena itu, format koalisi partai politik sekarang ini ada sesuatu yang menarik. Agama tidak dijadikan dasar dalam berkoalisi. Islam atau agama lainnya, tidak dijadikan dasar dalam berkoalisi. Islam misalnya, dipeluk oleh para pendukung partai politik apa saja. Seorang muslim bisa saja memikilih partai politik PPP, PKB, Nasdem, Hanura, PDIP, Golkar, maupun juga Demokrat. Antara menentukan pilihan agama dan afiliasi dalam politik sudah berbeda. Pemilih partai politik tertentu bukan lagi berasal dari pemeluk agama tertentu.

Selain itu koalisi juga bukan mendasarkan pada idiologi tertentu. Jika demikian itu halnya, maka pertanyaannya adalah, apa sebenarnya yang mendasari format koalisi itu. Atas dasar idiologi bukan, dan agama pun juga bukan. Dengan demikian, pilihan politik menjadi terasa aneh. Partai politik berjumlah banyak, tetapi orang tidak mudah mencari pembedanya.

Umpama pembeda itu dipaksa untuk diketahui, maka mungkin saja perbedaan itu hanya sekedar bersifat praktis dan prakmatis, yaitu misalnya ingin memperoleh kemenangan dan atau bagian dari kekuasaan. Mereka bergabung untuk memperoleh jatah jabatan tertentu, atau kursi. Itulah sebabnya mobilitas dalam berkoalisi begitu mudah. Sebuah partai politik, oleh karena tidak memperoleh jatah kursi, dengan mudah berpindah pada kelompok atau koalisi partai politik lainnya.

Hal demikian itu merupakan pertanda bahwa partai politik sudah sangat praktis dan prakmatis. Seseorang didukung menjadi wakil rakyat bukan atas dasar ide atau pandangan briliyan untuk mensejahterakan rakyat, melainkan hanya berdasarkan pada alasan praktis dan pragmatis itu. Siapapun yang memberi keuntungan akan dipilih, dan demikian pula sebaliknya. Membaca kenyataan seperti itu, maka sebenarnya antar partai politik dan bahkan antar koalisi tidak ada yang galak beneran. Sebab, perbedaan yang mendasar sebenarnya sudah tidak ada lagi. Jika ada, maka hanya sebatas pada nama dan bukan esensi yang akan diperjuangkan.

Dalam kenyataan seperti itu, maka yang diperlukan adalah kebersamaan untuk memikirkan dan berbuat untuk rakyat. Antar partai politik sudah sama, sehingga umpama di antara mereka akan berebut kemenangan, maka pertanyaannya adalah ingin menang dengan siapa. Kemenangan itu seharusnya diartikan yaitu tatkala secara bersama-sama telah berhasil mensejahterakan rakyat, dan bukan tatkala berhasil menjatuhkan yang lain. Jika demikian itu yang dilakukan, maka bangsa ini akan terhindar dari keadaan yang mengkhawatirkan. Semua pihak saling mendukung, menjaga, dan memperkokoh untuk kebaikan bersama. Wallahu a'lam. (uin-malang.ac.id)