Melesat Dari Target, BEI Pasang Target Baru

Jumat, 10/10/2014

NERACA

Jakarta –Kendatipun target jumlah IPO tahun ini meleset dari target sebanyak 30 perusahaan, namun tidak membuat PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bersikap konservatif dalam memasang target jumlah IPO dan sebaliknya memasang target lebih tinggi pada tahun 2015 sebanyak 35 perusahaan.

Direktur PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Hoesen mengatakan, tahun depan pihaknya memasang target jumlah penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) sebanyak 35 perusahaan untuk melantai di pasar modal, “Tahun depan, kita pasang target 30 hingga 35 perusahaan yang IPO,”ujarnya di Jakarta, Kamis (9/10).

Keoptimisan Hoesen ini tidak terlepas dengan telah selesainya pergelaran lima tahunan, yakni pemilihan umum serta hadirnya pemerintahan baru. Dirinya meyakini, target IPO tahun depan akan tercapai meski tahun ini meleset dari target.

Tercatat, hingga saat ini BEI telah mengantongi sebanyak 25 perusahaan yang telah dan akan IPO pada tahun 2014 ini. Sebelumnya, Hoesen mengatakan jika sampai hingga akhir bulan September tidak ada lagi perusahaan yang mengajukan IPO maka sangat sulit target tercapai.

Hingga saat ini masih ada tujuh perusahaan yang akan masuk ke BEI, yakni PT Impack Pratama Industri, PT Intan Baruprana Finance (IBF), PT Blue Bird Group, PT ASI Pujiastuti Aviation (Susi Air), PT Karisma Aksara Mediatama, Golden Plantations, dan Archi Indonesia. Namun, PT Karisma Aksara Mediatama telah menyatakan untuk mengundurkan niatnya buat mencatatkan sahamnya di BEI.

Sementara Direktur Utama BEI, Ito Warsito menegaskan, kendala tidak tercapainya target IPO disebabkan situasi ekonomi domestik yang tidak lebih baik dari semester II tahun lalu,”Kemudian juga kondisi politik yang membuat calon-calon emiten memundurkan rencana IPO-nya tahun ini,”ungkapnya.

Pihaknya berharap, sejumlah emiten yang menunda untuk listing pada tahun ini dapat mengimplementasikan rencana bisnisnya pada 2015. Namun, kata Ito, sejauh ini pihaknya masih enggan untuk mempublikasikan nama-nama perusahaan yang membatalkan rencana IPO tersebut."Mungkin beberapa dari mereka sudah diumumkan via media lain. Dan, kami tidak perlu menyebutkan nama-nama perusahaan itu," tandasnya.

Ito juga menambahkan, pelemahan indeks harga saham gabungan (IHSG) beberapa waktu lalu merupakan waktu yang tepat bagi para investor domestik untuk masuk ke pasar modal. Menurutnya, pasar modal Indonesia saat ini masih memiliki prospek yang baik. Namun, komposisi investor di pasar modal lebih dikuasai oleh investor asing yang menguasai sebesar 64% perdagangan, sedangkan investor domestik hanya sebesar 36%."Kondisi seperti saat ini sebenarnya merupakan waktu yang sangat bagus bagi investor domestik untuk mulai masuk ke pasar saham Indonesia," kata Ito.

Lebih lanjut, Ito menuturkan pelemahan IHSG membuat investor asing menjual sahamnya, namun dengan masih besarnya peluang IHSG untuk meningkat masih sangat besar.Jadi, lanjut Ito, dengan harga saham yang murah ini sudah dimanfaatkan oleh investor domestik maka nantinya saat investor asing masuk kembali, harga saham yang telah dijualnya sudah mahal.

Tercatat, pada pembukaan perdagangan hari ini investor asing melakukan penjualan saham-sahamnya mencapai senilai Rp 62,2 miliar dan pembelian sebanyak Rp 49,1 miliar. (bani)