Pasar Modal Tidak Khawatir Gaduh Politik

Jumat, 10/10/2014

NERACA

Jakarta- Meskipun tensi politik dalam negeri belum mereda pasca terpilihnya ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dari Koalisi Merah Putih (KMP), kondisi tersebut tidak membuat kekhawatiran secara berlebihan terhadap kinerja industri pasar modal Indonesia kedepannya.

Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Ito Warsito mengatakan, pihaknyanya tidak khawatir kondisi politik dalam negeri bakal mengganggu pasar modal ke depannya,”Kita selalu optimistis memandang masa depan, saya kira tidak perlu dikhawatirkan apa yang terjadi saat ini di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) maupun Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, nanti juga akan berjalan kembali normal," ujar Ito di Jakarta, Kamis (9/10).

Dia meyakini bahwa pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla nanti tentunya tetap akan bekerja sama dengan anggota dewan itu untuk masa depan Indonesia yang lebih baik, dengan begitu ekonomi nasional bergerak tumbuh.

Menurutnya, optimisme bursa juga datang dari pemerintahan baru yang akan menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi agar neraca keuangan Indonesia mengalami perbaikan."Pemerintahan baru harus menaikan harga BBM bersubsidi, itu merupakan pilihan satu-satunya untuk menjaga neraca keuangan agar tidak bertambah defisit yang mengakibatkan rupiah terpuruk," katanya.

Menurut Ito warsito, jika besaran subsidi ke BBM dikurangi dan dialihkan ke sektor yang lebih produktif seperti infrastruktur, kesehatan maupun pendidikan dapat membuat kegiatan ekonomi Indonesia menjadi lebih baik."Sehingga secara umum, dengan kegiatan ekonomi kita yang baik, akan memacu pertumbuhan di dunia usaha," ucapnya.

Kondisi ekonomi yang positif, lanjut Ito Warsito, akan mendorong perusahaan di dalam negeri melakukan ekspansi. Untuk melakukan ekspansi maka dibutuhkan modal, salah satunya dapat diraih dengan melakukan pelepasan saham ke publik melalui mekanisme penawaran umum perdana saham (IPO).

Sebelumnya pengamat pasar modal yang juga analis Recapital Securities, Andrew Argado pernah bilang, kondisi politik di dalam negeri yang kurang kondusif membuat pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di BEI beberapa hari terakhir bervariasi,”Saat ini, investor cenderung masih khawatir terhadap pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla dalam menjalankan program-programnya nanti dapat terkendala, hal itu karena dukungan di DPR yang cenderung minim,"ungkapnya.

Dia mengatakan, bervariasinya pergerakan indeks BEI juga dikarenakan sebagian investor masih menunggu realisasi program-program pemerintahan baru nanti. Pasalnya, kepastian realisasi program menjadi salah satu acuan bagi investor untuk menempatkan dananya di pasar modal.

Sejauh ini, menurut Andrew Argado, program pemerintahan presiden terpilih Joko Widodo-Jusuf Kalla cukup disukai investor pasar modal Indonesia, terutama mengenai infrastruktur yang akan menjadi fokus utamanya. (bani)