30 Ribu Sapi NTT Masuk ke Jakarta

Jumat, 10/10/2014

NERACA

Jakarta - Kepala Seksi Produksi Bidang Peternakan Dinas Kelautan dan Perikanan DKI Jakarta Erwin Fahry menyatakan bahwa setidaknya ada 30 ribu sapi yang dijual pedagang di wilayah DKI Jakarta berasal dari Nusa Tenggara Timur. "Terhitung Januari-September 2014, sapi dari NTT sudah masuk sekitar 24 ribu ekor. Kami yakin hingga Desember 2014 mencapai 30 ribu ekor," kata Erwin dikutip dari Antara, Kamis (9/10).

Dia mengemukakan DKI Jakarta membutuhkan 336 ribu sapi dalam setahun atau setara dengan 58,8 ribu ton daging sapi. Selain sapi asal NTT, di DKI Jakarta juga dijual sapi asal Lampung, Jawa Timur, Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Namun hanya sapi dari Lampung yang dijual dalam bentuk daging. Ke depan seluruh sapi yang berasal dari Pulau Jawa akan dipotong di Kerawang, Jawa Barat sebelum masuk ke DKI Jakarta.

Sedangkan sapi asal NTT akan diangkut ke Jakarta dalam bentuk daging setelah Pemerintah NTT dan DKI Jakarta melakukan perjanjian kerja sama terkait peternakan sapi. "Seluruh sapi lokal itu bebas dari penyakit," ungkapnya.

Erwin mengatakan sapi dari berbagai daerah itu belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat DKI Jakarta. Karena itu, kata dia, Kementerian Pertanian mengeluarkan kebijakan untuk mengimpor sapi. "Kebijakan impor sapi itu menguntungkan bagi Indonesia," katanya.

Bantuan Dana

Sementara itu, Pemprov NTT mengusulkan bantuan dana Rp 2 triliun ke Pemrov DKI Jakarta untuk mendukung kerja sama peternakan sapi. Targetnya, kebutuhan daging di ibu kota tidak lagi dipenuhi oleh sapi impor. “Dana tersebut akan dimanfaatkan antara lain, untuk pembangunan pusat pembibitan ternak atau breading center dan program penggemukan sapi potong,” kata Thobias Uly, Kepala Dinas Peternakan Provinsi NTT.

Kerja sama sektor peternakan tersebut merupakan tindak lanjut penandatanganan MoU oleh mantan Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo dan Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, 29 April 2014 silam. Sapi-sapi yang dihasilkan di peternakan NTT, akan dipasok ke Jakarta. Selama ini kebutuhan daging sapi 28 juta warga Ibu Kota dipenuhi dari Australia. Dengan adanya kerja sama ini, maka impor sapi bisa ditekan.

Thobias Uly mengatakan, Dinas Peternakan Propisi NTT telah membentuk tim khusus untuk menyusun konsep tentang teknis pelaksanan kerja sama. Di NTT nantinya akan dibangun pusat pembibitan ternak atau breading center, program penggemukan sapi potong, pengolahan produk peternakan sapi. Termasuk juga pengiriman sapi potong ke Jakarta, apakah dalam bentuk sapi hidup atau dalam bentuk daging sapi.

Selain itu, di provinsi tersebut juga akan ada program pengembangan teknologi dan manajemen peternakan sapi, serta pengembangan SDM peternakan. Artinya, bantuan dana sebesar Rp 2 triliun yang disiapkan Pemda DKI Jakarta dalam menyukseskan program kerja sama peternakan ini bersifat menyeluruh. “Tidak sebatas mengenai penjualan ternak sapi potong,” ujarnya.

NTT merupakan provinsi dengan populasi sapi terbanyak di Indonesia. Kondisi alam di sana sangat cocok untuk dijadikan pusat pengembangan peternakan sapi. Saat ini populasi ternak sapi di NTT mencapai 823 ribu ekor, jenis sapi Timor dan sapi Ongole Sumba. Sedangkan DKI Jakarta merupakan provinsi dengan konsumsi daging sapi terbesar, mencapai 60 persen dari total konsumsi sapi nasional.

Ditambahkan Erwin, pihaknya masih mengkaji investasi di sektor peternakan sapi bekerja sama dengan Pemerintah Nusa Tenggara Timur. “Investasi ini menguntungkan bagi DKI Jakarta, namun harus dilaksanakan secara tepat dan prosedural. Kami berupaya dalam pekan ini pengkajian terhadap investasi peternakan sapi ini dapat diselesaikan,” katanya.

Dia menambahkan keuntungan yang didapat masyarakat DKI Jakarta antara lain daging sapi dapat dibeli dengan harga yang lebih murah dibanding saat ini. Harga sapi yang relatif murah dapat menekan inflasi di Jakarta, yang memiliki kontribusi besar terhadap inflasi di Indonesia. “Salah satu penyebab utama inflasi adalah kenaikan harga daging sapi, terutama menjelang perayaan hari besar keagamaan. Sebagian daging sapi yang dikonsumsi masyarakat Jakarta selama ini berasal NTT,” ujarnya.