Menakar Keekonomisan Air

Jumat, 10/10/2014

Oleh: Kencana Sari

Peneliti Balitbangkes

Kementerian Kesehatan sejak Januari 2014 mengeluarkan pedoman gizi seimbang. Diantara 10 pesan yang digaungkan salah satunya adalah ‘Biasakan minum air putih yang cukup dan aman’. Agar tetap terjaga kesehatan, dianjurkan untuk mengkonsumsi air putih sebanyak 8-10 gelas per hari.

Hasil penelitian memang menunjukkan bahwa konsumsi air putih sangat kurang. Padahal di perkotaan ketersediaan akan air putih sangat melimpah. Mungkin juga karena masyarakat lebih memilih minuman berasa dan berwarna yang menimbulkan dampak kesehatan tersendiri.

Ketersediaan air minum berasal dari air tanah, PDAM, air hujan atau mata air yang dijadikan produk industri air minum. Semuanya punya permasalahan tersendiri. Tentu saja kita tak bisa selamanya mengggantungkan pada ketersediaan air tanah. Belum karena volumenya menurun saat musim kemarau tiba tetapi juga untuk menjaga kelestarian lingkungan. Masalah lain adalah penurunan muka tanah yang umum terjadi di kota-kota besar. Salah satunya disebabkan oleh eksplorasi air tanah dan beban bangunan. Terlebih banyaknya pembangunan apartemen di perkotaan khususnya yang menimbulkan isu juga terhadap pemenuhan kebutuhan airnya.

Sumber kedua adalah dari Perusahaan Daerah Air Minum. Namun sayangnya cakupan PDAM ini sangat terbatas terutama pada daerah perkotaan. Belum lagi isu dimana PDAM terus merugi karena tarifnya yang lebih murah daripada biaya produksi. Di tahun 2010, 91% PDAM rata-rata tarif airnya lebih rendah dari harga pokok produksi. Belum lagi hanya 43% dari 335 PDAM yang berkategori sehat di tahun 2010. Selain itu juga masih banyak yang bergantung pada kesediaan air tanah selain air permukaan. Maka tak heran produksinya menurun saat musim kemarau tiba.

Sumber lain adalah minuman kemasan. Berbagai perusahaan air mengeluarkan berbagai jenis produk dengan variasi ukuran. Di satu sisi baik untuk memudahkan masyarakat mengakses air putih. Namun penggunaan botol plastik pada air putih kemasan dan produk air lainnya menimbulkan masalah tersendiri. Tahun lalu, ada 38 miliar botol bekas yang dibuang yang setara dengan US$15 miliar. Ada sekitar 1,5 juta ton plastik yang digunakan untuk air kemasan tetapi hanya 5% yang didaur ulang. Bayangkan dampaknya terhadap lingkungan. Padahal untuk memproduksi 1 botol air kemasan membutuhkan 3 liter air untuk memproduksinya. Artinya kita membuang lebih banyak air untuk mengonsumsi hanya satu liter air. Belum lagi keamanan bahan plastik yang digunakan, bebas dari BPA atau tidak.

Di negara maju, pemerintah menyediakan tap water untuk dikonsumsi masyarakat secara gratis, sebab membeli air putih kemasan cukuplah mahal. Satu botol air minum kemasan setara dengan 450 galon tap water. Lalu kenapa tidak Indonesia memulai merencanakan untuk beralih ke tap water. Tak ada alasan menunda karena meski tampak mahal namun nyatanya nilainya lebih ekonomis di jangka panjang. Kedepan Indonesia membutuhkan strategi khusus untuk menjawab kelangkaan air nantinya. Mungkin teknologi yang mengubah air laut menjadi air yang bisa dikonsumsi.