Sistem Komunikasi Berbasis Manajemen Risiko

Oleh: Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis

Jumat, 10/10/2014

Berdasarkan teori ekonomi, investasi berarti pembelian (dan produksi) dari modal barang yang tidak dikonsumsi tetapi digunakan untuk produksi yang akan datang (barang produksi). Contohnya membangun rel kereta api, jaringan telekomunikasi atau pabrik. Dipihak lain investasi yang salah menyebabkan krisis ekonomi.

Peraih hadiah Nobel Ekonomi Koopmans dengan teori Hartree-Fock yang berkaitan dengan teorema Koopmans, yang amat terkenal dalam kimia kuantum mengatakan pentingnya alokasi dana berdasarkan teori penggunaan dana secara optimal. Karya yang dianugerahi Nobel itu berfokus pada analisis aktivitas, studi interaksi antara pemasukan dan pengeluaran produksi, dan hubungannya pada efisiensi ekonomi dan biaya tampak relevan dalam menilai kaitan investasi dan terjadinya krisis ekonomi.

Dimulai pada pertengahan 2007 ketika terjadi krisis keuangan Amerika terbesar sejak Great Depression mulai terungkap (Jickling 2010) dengan ribuan pemilik rumah jatuh bangkrut pada hipotek mereka (Pinyo 2008).

Konsekuensi yang dirasakan di seluruh dunia dan Krisis Keuangan Global, kemudian mulai dikenal oleh semua rumah tangga, segera pemerintah Amerika berjuang untuk memberi jaminan lembaga swasta dalam upaya untuk menjaga industri keuangan dan mengurangi dampak dari bertambahnya kekacauan (Shah 2010, Sidelsky 2009). Sementara teknologi komunikasi tengah moncer mencapai puncaknya tertinggi dimana industri informasi, komputer dan telekomunikasi berada pada puncak tertinggi dari kinerjanya selama ini secara teknologi dan bisnis.

Mengapa krisis tidak terdekteksi oleh teknologi komunikasi yang ada? Teknologi informasi meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi. Sedangkan teknologi komunikasi adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke lainnya.

Oleh karena itu, teknologi informasi dan teknologi komunikasi adalah dua buah konsep yang tidak terpisahkan. Jadi Teknologi Informasi dan Komunikasi mengandung pengertian luas yaitu segala kegiatan yang terkait dengan pemrosesan, manipulasi, pengelolaan, pemindahan informasi antar media. Istilah TIK muncul setelah adanya perpaduan antara teknologi komputer (baik perangkat keras maupun perangkat lunak) dengan teknologi komunikasi pada pertengahan abad ke-20.

Perpaduan kedua teknologi tersebut berkembang pesat melampaui bidang teknologi lainnya. Hingga awal abad ke-21, TIK masih terus mengalami berbagai perubahan dan belum terlihat titik jenuhnya. Miniaturisasi komponen elektronik, melalui penciptaan rangkaian terpadu, pada puncaknya melahirkan mikroprosesor. Mikroprosesor inilah yang menjadi 'otak' perangkat keras komputer dan terus berevolusi sampai saat ini.

Perangkat telekomunikasi berkembang pesat saat teknologi digital mulai digunakan menggantikan teknologi analog. Teknologi analog mulai terasa menampakkan batas-batas maksimal pengeksplorasiannya. Digitalisasi perangkat telekomunikasi kemudian berkonvergensi dengan perangkat komputer yang sejak awal merupakan perangkat yang mengadopsi teknologi digital. Produk hasil konvergensi inilah yang saat ini muncul dalam bentuk telepon seluler.

Di atas infrastruktur telekomunikasi dan komputasi ini kandungan isi (content) berupa multimedia mendapatkan tempat yang tepat untuk berkembang. Konvergensi telekomunikasi - komputasi multimedia inilah yang menjadi ciri abad ke-21, sebagaimana abad ke-18 dicirikan oleh revolusi industri. Bila revolusi industri menjadikan mesin-mesin sebagai pengganti 'otot' manusia, maka revolusi digital (karena konvergensi telekomunikasi - komputasi multimedia terjadi melalui implementasi teknologi digital) menciptakan mesin-mesin yang mengganti (atau setidaknya meningkatkan kemampuan) 'otak' manusia. Sekali lagi terasa kontras mengapa kemampuan otak manusia yang meningkat tersebut gagal menangkap informasi yang mengandung resiko sistemik?

Artinya tidak ada proses pembelajaran (learning) akan resiko sistemik sekalipun teknologi sudah meningkat pesat.. Victoria L. Tinio, misalnya, menyatakan bahwa e-learning meliputi pembelajaran pada semua tingkatan, formal maupun nonformal, yang menggunakan jaringan komputer (intranet maupun ekstranet) untuk pengantaran bahan ajar, interaksi, dan/atau fasilitasi dan itu tidak terjadi.

Untuk pembelajaran yang sebagian prosesnya berlangsung dengan bantuan jaringan internet sering disebut sebagai online learning tidak memantau resiko sistemik. Definisi yang lebih luas dikemukakan pada working paper SEAMOLEC, yakni e-learning adalah pembelajaran melalui jasa elektronik yang tidak digunakan oleh sistem komunikasi yang ada.

Meski beragam definisi namun pada dasarnya disetujui bahwa e-learning adalah pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi elektronik sebagai sarana penyajian dan distribusi informasi. Dalam definisi tersebut tercakup siaran radio maupun televisi pendidikan sebagai salah satu bentuk e-learning. Meskipun radio dan televisi pendidikan adalah salah satu bentuk e-learning, pada umumnya disepakati bahwa e-learning mencapai bentuk puncaknya setelah bersinergi dengan teknologi internet.

Sekali lagi teknologi ini gagal pada tahun 2008 menangkap resiko sistemik karena gagal menerapkan sistem manajemen resiko yang bersifat komunikasi dua rah. Dalam komunikasi dua arah (Duplex) pengirim dan penerima informasi dapat menjalin komunikasi yang berkesinambungan melalui media yang sama.

Dengan demikian dibutuhkan teknologi yang ramah investasi untuk mendukung upaya tersebut. HFC,Hyber Fiber Coax, salah satu jenis jaringan yang memadukan kabel koaksial dengan kabel fiber digunakan untuk mengirimkan data, gambar dan suara atau layanan multimedia. Jenis jaringan ini dikembangan setelah melihat kenyataan bahwa sebagian besar jaringan untuk layanan televisi kabel saat itu menggunakan kabel koaksial.

Dengan mulai berkembangnya layanan multimedia di butuhkan jaringan dengan lebar pita (bandwidth) yang lebih besar di jaringan utama untuk melayanin konsumen yang juga semakin bertambah. Karena investasi yang dibutuhkan untuk menggantikan seluruh jaringan dengan kabel fiber sangat besar, maka di kembangan teknik ini dengan harapan mengurangi biaya investasi. Dengan biaya investasi yang semakin murah pada sektor telekomunikasi maka resiko sistemik dalam perekonomian juga dapat dikurangi!