Optimisme Semu Investor Indonesia Terhadap Masa Pensiun

NERACA

Siapapun memimpikan masa pensiun yang indah. Sayangnya meski memiliki sentimen positif, keyakinan hidup sejahtera saat pensiun tidak dibarengi dengan kemauan berinvestasi. Mayoritas masyarakat enggan mengambil risiko berinvestasi. Mereka lebih memilih tabungan dan deposito. Padahal, dalam jangka panjang nilai investasi tersebut akan terus tergerus inflasi sehingga tidak lagi menguntungkan.

Chief of Employee Benefits PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia Nur Hasan Kurniawan mengatakan, berdasarkan Hasil survei Manulife Investor Sentiment Index (MISI) ke-6 tahun 2014, meski memiliki sentimen positif, lebih dari 150 investor atau tiga perempat dari keseluruhan responden mengaku optimistis dapat mempertahankan gaya hidup saat ini hingga pada saat masa pensiun. Bahkan terdapat lebih dari 450 investor atau 97% investor meyakini akan memiliki penghasilan setelah pensiun dengan nilai setara dengan 84% dari penghasilan mereka saat ini.

Sayangnya, kata Hasan, keyakinan tersebut tidak didukung aksi nyata. Optimisme terhadap masa pensiun tersebut tidak disertai dengan cara investasi yang tepat. Tren optimisme yang tidak mendasar ini akan terus terjadi jika tingkat literasi keuangan masayarakat Indonesia tidak ditingkatkan.

"Upaya meningkatkan tingkat literasi keuangan juga, kata dia, seharusnya dapat menggerakkan masyarakat mengerti produk-produk investasi yang benar-benar memberikan imbal hasil tinggi untuk jangka panjang," kata Hasan di Jakarta beberapa waktu lalu

Memang, tingkat melek produk keuangan masyarakat Indonesia memang masih memperihatinkan. Menurut riset yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), saat ini indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia baru 21,8%. Artinya, dari 240 juta jiwa penduduk Indonesia, baru 52 juta jiwa saja yang benar-benar paham tentang industri keuangan dan produk jasa keuangan. Dari enam produk keuangan yang tersedia, baru bank yang cukup dikenal masyarakat (57,28%). Hasil riset OJK juga menunjukkan, tingkat pemahaman paling rendah terdapat di pasar modal, yakni hanya 0,11%. Sisanya hampir merata di sektor perasuransian (11,81%), lembaga pembiayaan (6,33%), pergadaian (5,04%), dana pensiun (1,53%).

Sementara itu Director of Business Development, PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, Putut E. Andanawarih mengemukakan masyarakat Indonesia belum menyiapkan dana pensiun. Hanya 22% investor yang mengikuti program pensiun yang diwajibkan pemerintah. Sayangnya, hanya 15% saja yang memiliki program pensiun dan institusi swasta untuk memenuhi target dana pensiun.

“Jika melihat temuan Manulife, mayoritas investor berharap tabungan saat mereka bekerja dapat menyumbang 26% pengeluaran mereka saat pensiun. Hal itu berarti para investor berekspektasi mendapat imbal hasil yang tinggi dan berjangka panjang dari investasi mereka saat ini. Padahal, tabungan yang direncanakan bisa jadi tergerus laju inflasi," ucap dia

BERITA TERKAIT

Presiden: Indonesia Negara Paling Aktif Tangani Korupsi

Presiden: Indonesia Negara Paling Aktif Tangani Korupsi NERACA Jakarta - Presiden Joko Widodo mengungkapkan bahwa Indonesia adalah salah satu negara…

BPS: Penurunan Angka Kemiskinan di Indonesia Lambat

BPS: Penurunan Angka Kemiskinan di Indonesia Lambat NERACA Bogor - Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan angka kemiskinan di Indonesia terus…

Aturan Saham IPO Dongkrak Investor Baru

Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Tito Sulistio menilai bahwa kajian mengenai aturan untuk meningkatkan alokasi saham bagi investor…

BERITA LAINNYA DI KEUANGAN

Mengajari Anak Menabung, Berbelanja, dan Berbagi

Oleh: Yulius Ardi Head, Managed Investment Product Standard Chartered Bank   Akhir musim sekolah telah diambang pintu dan anak-anak akan…

Sukuk Bisa Sebagai Alternatif Pembiayaan Daerah

Direktur Pembiayaan Syariah Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Suminto mengatakan penerbitan obligasi berbasis syariah atau sukuk bisa…

Keuangan Syariah: - Akan Stagnan Atau Butuh Terobosan

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Muliaman Hadad meminta inovasi dan terobosan pelaku industri untuk mengembangkan keuangan syariah, karena tanpa…