Memodernisasi Alutsista TNI

Demi Menjaga Kedaulatan NKRI

Sabtu, 11/10/2014

NERACA

Meningkatkan kemampuan TNI telah menjadi tuntutan zaman yang harus dipenuhi. Kekuatan militer berorientasi pada kekuatan modern. Selama sepuluh tahun terakhir kekuatan pertahanan nasional terus meningkat seiring dengan sejumlah program yang dilaksanakan oleh pemerintah termasuk penambahan dan modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista).

Ya, militer tak hanya bertumpu pada kekuatan personil maupun hanya kecanggihan alutsista. Melainkan alutsista dan personil menjadi satu keutuhan tak terpisahkan. Selain memiliki persenjataan yang canggih dan personil mental kuat, TNI harus juga harus terlatih dan profesional.

“TNI sedang menuju ke arah profesional, kalau sekarang TNI belum profesional karena kebutuhan alutsista belum terpenuhi. Tapi, semangat profesional itu terus kita gelorakan,” kata Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko

Lalu bagaimana dan apa saja yang perlu dilakukan untuk menjadikan TNI lebih profesional?

Untuk menjadikan TNI yang profesional, salah satunya diperlukan dukungan alutsista yang memadai, sehingga anggaran yang dibutuhkan juga sangat besar. Hingga saat ini pemenuhan alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI untuk menuju kekuatan pokok minimum atau "Minimum Essential Force" (MEF) baru mencapai 42%. Untuk itu, diharapkan pemerintahan baru di bawah kepemimpinan Presiden dan Wakil Presiden terpilih Joko Widodo-Jusuf Kalla terus meningkatkan alokasi anggaran, agar target pencapaian kekuatan pokok minimum pada 2019 bisa terpenuhi.

Seperti apa kekuatan pertahanan Indonesia dimata internasional?

Pada puncak acara HUT ke-69 TNI, gegap-gempita dan deru mesin-mesin pesawat terbang TNI AU, TNI AL, dan TNI AD bergantian dalam belasan flight misi menunjukkan dirinya.Momen dipamerkannya kekuatan alutsista ini menjadi penegasan TNI terhadap dunia internasional agar tidak ada negara yang meremehkan kemampuan pertahanan Indonesia.

Apa yang berbeda dari HUT TNI di tahun-tahun sebelumnya?

HUT TNI di Armatim sebelumnya (2008) melibatkan lebih dari 100 kendaraan tempur (ranpur), 50 pesawat berbagai jenis, dan KRI tidak lebih dari 30. Pada HUT tahun lalu di Lanud Halim, ditampilkan alutsista tanpa KRI. Bandingkan dengan penyelenggaraan 2014. Selain diterjukan lebih dari 200 ranpur gabungan TNI-AD, TNI-AL, dan TNI-AU, jumlah KRI dan pesawat meningkat 2–3 kali.

Hingga kini alutsista apa saja yang telah diproduksi di dalam negeri?

Di antara sekian banyak produk, alutsista produk dalam negeri adalah panser Anoa dan Komodo, tank AMX, helikopter Nbell 412, dan pesawat CN 235.

Selama 2010-2014 sudah berapa banyak alutsista yang dibeli?

Beberapa di antaranya dibeli dari luar negeri, seperti 16 pesawat tempur Sukhoi dari Rusia, 180 tank kelas berat Leopard dan Marder dari Jerman, 37 unit meriam 155 MM Howitzer dari Prancis, 38 unit rudal MLRS dari Brasil, 3 unit kapal selam dari Korsel, dan 8 unit helikopter serang Apache dari Amerika Serikat.