Kegaduhan Politik Domestik Membuat Rapuh IHSG

NERACA

Jakarta – Kegaduhan politik dalam negeri sejak pemilihan pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) masih memberikan kekhawatiran bagi pelaku pasar saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Begitu juga dengan pemilihan pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), meskipun tidak seburuk perjalanan saat pemilihan ketua DPR. Tapi kondisi ini memberikan gambaran, ketidakstabilan politik dalam negeri memicu sentimen laju indeks harga saham gabungan (IHSG).

Tengok saja, IHSG Rabu seharian berada di zona merah karena tetap merespon negatif terpilihnya paket pimpinan MPR versi Koalisi Merah Putih (KMP). Pasalnya, pelaku pasar yang selama ini cenderung mendukung Koalisi Indonesia Hebat (KIH) mulai mengamankan portofolio dengan melepas saham. Tercatat mengakhiri perdagangan, indeks BEI ditutup anjlok 74,322 poin (1,48%) ke level 4.958,519. Sementara transaksi asing yang melakukan aksi jual sebesar.

Menurut pengamat pasar modal yang juga analis Recapital Securities, Andrew Argado, kondisi politik di dalam negeri yang kurang kondusif membuat pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) beberapa hari terakhir bervariasi,”Saat ini, investor cenderung masih khawatir terhadap pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla dalam menjalankan program-programnya nanti dapat terkendala, hal itu karena dukungan di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang cenderung minim," katanya di Jakarta, Rabu (8/10).

Dia mengatakan bahwa bervariasinya pergerakan indeks BEI juga dikarenakan sebagian investor masih menunggu realisasi program-program pemerintahan baru nanti. Pasalnya, kepastian realisasi program menjadi salah satu acuan bagi investor untuk menempatkan dananya di pasar modal.

Sementara Kepala Riset Woori Korindo Securities Indonesia (WKSI) Reza Priyambada melihat apabila para partai politik mengedepankan pemilihan yang lebih tertib dan kondusif maka diperkirakan akan dapat memberikan imbas positif pada IHSG.

Bagi analis First Asia Capital David Sutyanto, belum stabilnya politik dalam negeri perlu diwaspadai para pelaku pasar dan perlu mencermati perkembangan politik dalam negeri, khususnya kabar kabinet yang akan ditentukan oleh Presiden terpilih Joko Widodo, ”Pasar tengah menanti pelantikan presiden terpilih Oktober ini dan pengumuman tim kabinet dalam waktu dekat," ucap David.

Hal senada juga disampaikan David Summual, Ekonomi PT Bank Central Asia Tbk, sentimen negatif politik dalam negeri memicu penarikan dana asing dalam dua bulan terakhir secara besar-besaran. Lihat saja, pasar uang Indonesia mengalami penurunan hingga 77% dari posisi Rp 26 triliun menjadi Rp 6 triliun. Salah satu penyebabnya adalah politik nasional yang masih agak gaduh, meski pemilihan presiden (pilpres) telah usai,”Capital inflow Juli masih Rp 26 triliun. Kemudian Agustus turun jadi Rp 14 triliun, dan September turun lagi ke Rp 6 triliun. Ini capital inflow di obligasi korporasi, obligasi pemerintah, dan saham. Turunnya memang agak drastis,”ujarnya.

Menurut David, setidaknya ada 2 faktor yang menyebabkan penurunan capital inflow ini. Pertama adalah harga atau valuasi saham-saham Indonesia yang sudah terlalu mahal. "Valuasinya sudah terlalu mahal, sementara earnings (kinerja) masih belum jelas. Semua masih meraba-raba," kata David.

Faktor kedua, lanjut David, adalah kegaduhan politik nasional. Dikhawatirkan kebijakan pemerintahan baru pimpinan presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) akan terjegal di parlemen yang dikuasai Koalisi Merah Putih."Misalnya reformasi fiskal dengan menaikkan harga BBM (bahan bakar minyak) bersubsidi. Atau kebijakan-kebijakan terobosan lainnya," sebut David

Dalam jangka pendek, David memperkirakan situasi politik belum akan tenang. Pasalnya, hingga kini belum ada titik terang peta koalisi politik. Dirinya juga berharap gonjang-ganjing politik ini akan mereda pada 20 Oktober, saat Jokowi efektif memulai pemerintahannya. Diharapkan saat itu juga sudah terlihat koalisi pendukung Jokowi yang kuat dan efektif."Mudah-mudahan 20 Oktober ada kabar baik. Dengan begitu, sentimen negatif di market bisa mereda dan kembali bullish," katanya. bani

Related posts