Proyek PLTU Exploitasi Energi Molor Dari Target

Imbas Rupiah Melemah

Kamis, 09/10/2014

NERACA

Jakarta –Proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Tembilahan milik PT Exploitasi Energi Indonesia Tbk (CNKO) diperkirakan mundur dari jadwal semula, yakni Desember 2014. Proyek diestimasi rampung pada akhir 2015.

Head of Investor Relations Exploitasi Energi Wim Andrian mengatakan, mundurnya pembangunan PLTU Tembilahan disebabkan oleh sejumlah faktor. Antara lain, proses renegosiasi harga dengan produsen mesin turbin akibat depresiasi nilai tukar rupiah,”Karena nilai tukar dollar Amerika Serikat (AS) menguat, kami harus negosiasi ulang harga mesin sehingga ada pembengkakan biaya. Namun, mesinnya sudah selesai dibuat di Tiongkok dan akan dikirim ke Indonesia secepatnya,” kata Wim di Jakarta, Rabu (8/10).

Saat ini, proses pembebasan dan pengembangan tanah di Tembilahan baru mencapai 35%. Hal ini disebabkan oleh kondisi tanah lokasi proyek yang berupa gambut. Perseroan juga masih harus melakukan transportation and custom clearance serta melewati tahap uji coba sebelum memulai operasi komersial. Adapun total investasi yang telah dikeluarkan mencapai Rp 144,6 miliar. Dengan begitu, perseroan masih harus mengucurkan sekitar Rp 50,6 miliar untuk menyelesaikan proyek.

PLTU Tembilahan Exploitasi Energi memiliki kapasitas 2 x 7 megawatt (MW). Sesuai rencana, proyek ini digarap bersama kelompok usaha besutan Edwin Soeryawidjaya dan Sandiaga Uno, Grup Saratoga. Sementara itu, pembangunan PLTU di Rengat masih dijadwalkan selesai pada April 2015. Perseroan telah mengeluarkan biaya sebesar Rp 62,6 miliar, dengan estimasi pengeluaran dana lebih jauh sebesar Rp 104 miliar.

Wim mengatakan, kontribusi pendapatan dari PLTU Rengat dan Tembilahan belum signifikan. Kedua pembangkit listrik tersebut diharapkan mulai menyumbang penghasilan pada 2016. Lagipula, kata dia,sebanyak 95% pendapatan perseroan masih berasal dari penjualan batu bara kepada PT PLN. Kontrak dengan PLN memungkinkan perseroan memperoleh kepastian harga batu bara di tengah fluktuasi harga.

Asal tahu saja, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS memberikan dampak terhadap rencana pembiayaan beberapa proyek perseroan. Pasalnya, perseroan harus merogoh kocek lebih dalam untuk memuluskan pembangunan sejumlah proyek pembangkit. Dimana beberapa komponen yang digunakan dalam proyek pembangkit listrik perseroan menggunakan instrumen dollar AS.

Komisaris Utama Exploitasi Energi Indonesia, Andri Cahyadi mengungkapkan bahwa untuk sebagian mesin yang sudah dibeli tidak ikut terkena imbas dari pelemahan nilai tukar rupiah, namun ada beberapa suku cadang yang belum didatangkan. "Kenaikannya ada, mungkin tidak sampai 20%," ujarnya.

Lebih lanjut dia menambahkan, perseroan telah melakukan pembelian mesin-mesin untuk proyek pembangkit listrik dengan kurs Rp8.800 per dollar AS. Pada bisnis batubara, Exploitasi Energi memiliki lima konsesi pertambangan di wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan dengan cadangan batubara bersih perusahaan sebanyak 192 juta ton. Tiga di antaranya telah beroperasi sejak 2012 sementara dua sisanya mulai beroperasi pada awal tahun ini.

Exploitasi Energi membukukan pendapatan usaha sebesar Rp 735,3 miliar pada semester I – 2014, turun 15,7% dibandingkan periode sama tahun lalu senilai Rp 873,1 miliar. Adapun laba bersih tercatat sebesar Rp 9 miliar, anjlok 74% dibandingkan Rp 34,7 miliar pada semester I – 2013. (bani)