Sentimen Politik Bikin IHSG Kembali Loyo

Kamis, 09/10/2014

NERACA

Jakarta – Meskipun ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) telah dipilih melalui drama politik yang gaduh, namun belum memberikan respon positif terhadap pergerakan indeks harga saham gabungan (IHGS) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sebaliknya, kondisi tersebut menjadi sentiment terhadap IHSG sehingga pada perdagangan Rabu kemarin ditutup anjlok 74,322 poin (1,48%) ke level 4.958,519. Sementara Indeks LQ45 anjlok 15,034 poin (1,76%) ke level 837,367. Pelemahan indeks BEI terjadi sejak awal perdagangan akibat kondisi politik dalam negeri yang kembali memanas.

Namun menurut analis Woori Korindo Secuties, Reza Priyambada, terkoreksinya IHSG juga tidak bisa lepas dari sentiment global. Dimana laporan IMF soal perlambatan ekonomi dunia menjadi salah satu faktor penggerak bagi bursa saham global ke area negatif,”Kondisi itu mendorong pelaku pasar saham asing kembali melakukan lepas saham di BEI. Dalam data perdagangan BEI, investor asing mengakumulasi jual bersih sebesar Rp232,207 miliar,”ujarnya di Jakarta, Rabu (8/10).

Kendati demikian, dia mengharapkan kinerja emiten pada periode kuartal III 2014 yang sedianya akan segera dirilis dapat menjadi sentimen positif bagi laju indeks BEI ke depannya. Sejauh ini, proyeksinya masih cukup positif.

Sementara itu, dalam riset Sinarmas Sekuritas mengemukakan perdagangan saham Kamis (9/10), IHSG BEI diprediksi akan bergerak melemah di kisaran level 4.933-4.973 poin,”Indeks BEI akan dipengaruhi oleh sentimen global dari hasil laporan lengkap pertemuan The Fed di bulan September 2014," paparnya.

Di sisi lain, dipaparkan bahwa pergerakan IHSG BEI juga akan dipengaruhi oleh pelaku pasar yang kembali mengantisipasi kelanjutan pascasidang Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI hingga pelantikan pemerintah baru pada 20 Oktober 2014..

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 206.347 kali dengan volume 5,2 miliar lembar saham senilai Rp 5,2 triliun. Sebanyak 70 saham naik, 222 turun, dan 66 saham stagnan. Rata-rata bursa Asia menutup perdagangan di zona merah gara-gara kena tekanan sentimen anjloknya Wall Street. Hanya bursa saham Tiongkok yang mampu menguat.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Citra Tubindo (CTBN) naik Rp 150 ke Rp 5.700, Tifico Fiber (TFCO) naik Rp 110 ke Rp 790, Selamat Sempurna (SMSM) naik Rp 100 ke Rp 4.500, Global Teleshop (GLOB) naik Rp 85 ke Rp 975. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain United Tractor (UNTR) turun Rp 1.025 ke Rp 19.425, Matahari (LPPF) turun Rp 750 ke Rp 15.050, Indocement (INTP) turun Rp 725 ke Rp 21.775, dan Semen Gresik (SMGR) turun Rp 650 ke Rp 14.750.

Perdagangan sesi pertama, IHSG ditutup melemah 52,582 poin (1,04%) ke level 4.980,259. Sementara Indeks LQ45 terjun 10,582 poin (1,24%) ke level 841,819. Seluruh sektor saham jatuh ke zona merah akibat tekanan jual tersebut. Saham-saham berbasis industri dasar jatuh paling dalam, sampai 2,69%. Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 11.8.445 kali dengan volume 2,7 miliar lembar saham senilai Rp 2,9 triliun. Sebanyak 62 saham naik, 194 turun, dan 62 saham stagnan.

Bursa regional masih bergerak mixed hingga sesi pertama. Anjloknya Wall Street mengajak pasar saham Jepang dan Singapura melemah. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Citra Tubindo (CTBN) naik Rp 150 ke Rp 5.700, Selamat Sempurna (SMSM) naik Rp 100 ke Rp 4.500, Lautan Luas (LTLS) naik Rp 90 ke Rp 1.345, dan MNC Land (KPIG) naik Rp 85 ke Rp 1.290. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indocement (INTP) turun Rp 800 ke Rp 21.700, Semen Gresik (SMGR) turun Rp 600 ke Rp 14.800, United Tractor (UNTR) turun Rp 600 ke Rp 19.850, dan Siloam (SILO) turun Rp 475 ke Rp 14.250.

Diawal perdagangan, indeks BEI sudah terkoreksi 40,42 poin atau 0,80% menjadi 4.992,42, dan indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 11,35 poin (1,33%) ke level 841,04. Pelemahan indeks ini dipicu penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi global oleh lembaga Dana Moneter Internasional (IMF).

Kata analis Samuel Sekuritas, Tiesha Narandha Putri, bursa Asia pagi sudah terkoreksi dan termasuk indeks BEI mengikuti bursa Amerika Serikat akibat IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global,”IMF menurunkan pertumbuhan global seiring masih adanya kekhawatiran krisis geopolitik di Timur Tengah dan Ukraina," katanya.

Dari dalam negeri, lanjut dia, sentimennya juga dinilai cenderung negatif, terpilihnya pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dari Koalisi Merah Putih (KMP) membuat sebagian investor khawatir terhadap pemerintahan baru nanti akan mendapat kendala dalam menjalankan kebijakan-kebijakannya.

Oleh sebab itu, dirinya menyakini IHSG bergerak melemah seiring dengan sentiment yang ada. Sementara menurut kajian tim analis teknikal Mandiri Sekuritas mengemukakan bahwa Bank Indonesia (BI) yang kembali mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 7,5% dinilai positif oleh investor.

Disebutkan, langkah itu diambil demi mempertahankan stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan dari risiko domestik dan eksternal. Maka dengan pertimbangan tersebut, pelemahan terhadap indeks BEI tidak terlalu dalam dan sebaliknya hanya terbatas. Tercatat bursa regional, di antaranya indeks Bursa Hang Seng dibuka melemah 218,06 poin (0,93%) ke 23.204,46, indeks Nikkei turun 217,36 poin (1,38%) ke 15.566,47 dan Straits Times melemah 18,28 poin (0,57%) ke posisi 3.225,56.