Budaya Transisi dalam Kepemimpinan - Oleh: Gandung Prastyo, Pewarta masyarakat, aktif pada Forum Lintas Profesi untuk Demokrasi

Indonesia telahmelaksanakanpemilupresidentahun 2014 yang mengahasilkanpasanganJokowi – JK menjadi presiden terpilih yang akan dilantik pada 20 september 2014. Pergantian pimpinan tentunya akan diikuti dengan pergantian kebijakan yang akan diambil. Begitu pula dengan Negara ini, pergantian pimpinan pasti akan dikuti dengan pergantian cabinet menteri sehingga berpengaruh terhadap pergantian kebijakan pula.

Bergantinya kebijakan menjadi lebih baik merupakan kemajuan bagi bangsa ini. Namun, dapat dibayangkan apabila pergantian kebijakan terjadi setiap 5 tahun sekali saat pergantian presiden. Dengan begitu, program-program jangka panjang tidak akan berjalan dengan baik dan mulus. Beberapa program akan terhenti ditengah jalan di kala pemimpin yang baru memutuskan bahwa program tersebut tidak relevan dan tidak cocok dengan bangsa Indonesia.

Dalam mengahadapi permasalahan tersebut, presiden SBY mempunyai gagasan untuk berbicara empat mata dengan presiden terpilih Jokowi untuk membicarakan masalah kenegaraan dan kepemerintahan. Pertemuan tersebut berlangsung di Bali tanggal 27 Agustus 2014. Pertemuan semacam ini, sangat baik dilaksanakan dan harus di budayakan atau dijadikan tradisi dalam setiap transisi kepemimpinan untuk membahas program-program jangka panjang pemimpin sebelumnya dan pemimpin yang baru mengevaluasi, member masukan, dan melanjutkan program tersebut untuk kepentingan bangsa Indonesia. Tradisi semacam ini perlu dilestarikan agar bagaimanapun program jangka panjang yang dilaksanakan dapat tercapai mengingat Indonesia tidak mempunya Garis Besar Haluan Negara (GBHN)

Tradisi masa kepemimpinan seperti ini juga terjadi di Amerika.Bukannya kita meniru Amerika, melainkan mengambil manfaatnya demi kepentingan bangsa Indonesia. Dalam sebuah buku yang ditulis oleh David A. Sanger, seorang penulis dan analis politik Amerika, berjudul “Obama’s Secret Wars and Surprising Use of American Power”menjelaskan dalam buku itu beberapa hari sebelum penyerahan kekuasaan pada Barack Obama, Geroge Bush yang pada saat itu menjabat presiden menemui Obama dan menekankan beberapa poin penting dalam memimpin Amerika.

Tidak buruk bagi seorang pemimpin untuk menemui pengantinya dengan maksud membeberkan poin-poin yang harus dikerjakan. Seharusnya tradisi seperti ini dilakukan di Indonesia pada setiap pergantian pimpinan di segala bidang sehingga program jangka panjang dapat dilaksanakan dengan baik. Saat ini Masyarakat merindukan ketauladanan pemimpin untuk bekerjasama selalu membangun bangsa. Karena seoarang negarawan sejati dia akan memiliki keikhlasan dan kejujuran untuk membantu siapaun demi melahirkan suatu keadaan yang lebih baik, walau kalah dalam kontestasi apapun. Untuk itu diperlukan jiwa besar untuk bersama-sama membangun negeri tercinta ini, bukan mencari cara dengan segala daya dan upaya untuk menjatuhkan yang pada akhirnya tetap rakyatlah yang dirugikan. Mari bung bersatu membangun negeri Indonesia tercinta.

Selamat kepada Jokowi -JK, pemenang Pilpres 2014. Semoga kita belajar dari kegagalan atau keberhasilan masa lampau. Amanat perbaikan bangsa lima tahun mendatang ada di pundak Jokowi -JK. Siapa tahu pasangan ini membawa terobosan signifikan bagi Indonesia yang berwibawa dan diperhitungkan dalam percaturan global, tetap yakin maju, jika anda teguh menjalankan amanat rakyat dengan benar, anda akan tetap dicintai, dilindungi dan didukung rakyat.***

Related posts