Verena Finance Tunda Obligasi Rp 412 Miliar - Dampak Ketatnya Likuiditas

NERACA

Jakarta – Tingginya suku bunga saat ini ditengah ketatnya likuiditas antar industri keuangan, memicu beberapa perusahaan industri keuangan untuk menunda penerbitan obligasi. Hal inilah dilakukan PT Verena Multi Finance Tbk (VRNA) yang membatalkan rencana penerbitan obligasi melalui skema Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) senilai Rp412 miliar menjelang berakhirnya masa pernyataan efektif rencana emisi tersebut pada 30 November 2014.

Dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin, disebutkan dari rencana emisi total sebesar maksimal Rp1 triliun, hanya sebesar Rp588 miliar yang berhasil telah dilepas perseroan di pasar dalam periode 2012-2014. Direktur Utama Verena Multi Finance, Hadi Budiman menjelaskan, pembatalan penerbitan surat utang tersebut disebabkan kondisi likuiditas pasar yang ketat sehingga menyebabkan tingginya suku bunga. “Kami tidak akan menerbitkan sisa dana ini sampai batas akhir pernyataan efektif pendaftaran,” ujarnya.

Sepanjang 2012-2014, perseroan telah melakukan tiga kali penerbitan obligasi berkelanjutan, yaitu Obligasi Berkelanjutan I Verena Multi Finance Tahap I Tahun 2012 sebesar Rp300 miliar, Obligasi Berkelanjutan I Tahap II tahun 2013 senilai Rp153 miliar, dan Obligasi Berkelanjutan I Tahap III tahun 2014 sejumlah Rp135 miliar.

Asal tahu saja, sebelumnya ada juga PT Hutama Karya (Persero) menunda penerbitan obligasi senilai Rp 500 miliar dari rencana semula tahun ini menjadi 2015. Penundaan ini akan berakibat terhadap pembatalan sementara pengerjaan beberapa proyek perseroan.

Sekretaris Perusahaan Hutama Karya Ari Widiantoro mengatakan, penundaan emisi obligasi dilakukan hingga peringkat obligasi perseroan mengalami peningkatan, sehingga kupon yang ditawarkan bisa lebih murah tahun depan,”Permintaan kupon obligasi berkisar 12-13% terlalu berat bagi perseroan. Oleh karena itu, kami memilih menunda emisi tersebut hingga peringkat obligasi perseroan bisa dinaikkan dari posisi A-,”paparnya.

Nantinya, dana hasil penerbitan obligasi ini akan digunakan untuk membiayai pengembangan (ekspansi) bisnis di sektor energi, infrastruktur, konstruksi, dan dermaga. Hutama Karya juga membuka peluang mitra strategis untuk menggarap proyek tersebut.

Hutama Karya pernah menerbitkan obligasi senilai Rp 750 miliar tahun lalu. Dana hasil obligasi tersebut sudah terserap seluruhnya. Sebagian besar digunakan untuk modal kerja 70% dan sisanya sebesar 30% untuk pengembangan usaha."Dana obligasi itu kami gunakan untuk proyek tol Belawan, anak usaha precast dan realty, dan pembangunan tol Depok-Antasari tahun lalu," ujar Ari. (bani)

Related posts