Menjadikan Kekuatan Militer yang Ditakuti di Asia-Tenggara

Sambut HUT TNI Ke-69 Dengan Alutsista Terbaru

Sabtu, 11/10/2014

Tentara Nasional Indonesia, TNI memperingati ulang tahunnya ke-69 yang di gelar di Makoarmatim Tanjung Perak, Surabaya, Selasa (07/10). Upacara ini dihadiri dan dipimpin langsung Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono.

Dalam upacara puncak perayaan HUT TNI ke-69 tahun ini, dihadiri ribuan anggota TNI dari berbagai angkatan serta para petinggi TNI, sejumlah menteri juga pejabat tinggi Negara pun ikut menghadiri upacara ini. Dalam upacara ini ikut pula dipameran besar-besaran sistem peralatan senjata TNI terbaru hasil modernisasi yang diklaim menjadi salah satu militer yang ditakuti di Asia Tenggara.

Menurut salah satu Lembaga analisis militer, Global Firepower (GLP), melansir daftar Negara-negara dengan kekuatan perang terbesar di dunia. Pada regional Asia-Pasifik, kekuatan militer Indonesia sendiri berada pada posisi ke-9 dibawah, Jepang, Pakistan dan Taiwan, bahkan melampaui Australia yang notabenenya negara yang maju dan juga berkembang.

Pada upacara HUT TNI ini juga ikut diunjukan kekuatan sistem persenjataan terbaru, seperti kehadiran pesawat F-16, Sukhoi, tank Leopard serta kapal frigate terbaru. Dengan kesempatan ini terlihat bahwa militer Indonesia serius mengadopsi teknologi militer terbaru. Modernisasi alat utama sistem alusista TNI merupakan rencana jangka panjang untukmenjangkau kebutuhan mininum TNI.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sendiri sebelumnya telah mengumumkan akan menghabiskan anggaran pertahanan hingga Rp 150 triliun Rupiah antara 2010-2014 dan menargetkan tercapainya kemandirian senjata untuk kebutuhan TNI. Anggaran pertahanan Indonesia dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Dalam kondisi saat ini yang seluruh kebutuhan militer Indonesia belum tercapai, ternyata Indonesia mampu menduduki ranking 15 dunia.

Keberhasilan pemerintah dalam pengadaan alat utama sistem pertahanan (alutsista) membuat banyak pihak yakin TNI akan memiliki kekuatan yang cukup memadai, seperti diungkapkan oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro.

"Renstra pertama (2010-2014), kekuatan TNI yang terkuat di Asia Tenggara lantaran pengadaan alutsista oleh pemerintah yang melengkapi TNI AL, TNI AU dan TNI AD dengan senjata dan peralatan baru," ungkap Purnomo beberapa waktu lalu.

Pada tahun 2014 saja militer Indonesia kedatangan setidaknya 60 pesawat tempur baru berbagai jenis, 15 pesawat angkut berbagai jenis, 55 Heli tempur berbagai jenis, 30 Kapal Cepat Rudal, 3 Kapal Selam, 2 Fregat, ratusan Tank dan Panser berbagai jenis. Belum lagi proyek rudal surface to surface, surface to air, rudal anti tank dan ribuan roket Rhan produksi dalam negeri.

Pemerintahan SBY menargetkan kemandirian senjata untuk kebutuhan TNI pada 2029 nanti. Sebuah penelitian lembaga strategi keamanan di London menyebutkan, anggaran belanja persenjataan di Asia selama tahun lalu meningkat 14 persen, termasuk Indonesia dan negara Asia Tenggara lainnya.

Kekuatan TNI Angkatan Udara akan terus meningkat. Bahkan, ada 102 alat utama sistem senjata (alutsista) baru pada rencana strategis pembangunan TNI AU tahun 2010-2014. Khusus TNI Angkatan Darat, selain membeli 114 unit tank leopard, pemerintah juga mengadakan 28 unit helikopter dan delapan unit Apache tipe AH-64E. Tepatnya sebanyak 30 unit Leopard dan 21 Marder.

Sementara itu untuk matra laut, terdapat Upgrade Kapal perang korvet kelas Fatahillah, Kapal latih pengganti KRI Dewaruci, pengadaan 2 unit Kapal Hidro Oceanografi, dan lain lain. Untuk tank amfibi BMP-3F sebanyak 37 unit. Ketidak pastiankonflik perbatasan di perairan Laut Cina Selatan dianggap menjadi salah-satu pencetus perbaikan sistem persenjataan militer Indonesia. Dalam perkembangan terakhir, Indonesia telah menjalin kerjasama dengan Korea Selatan untuk pengadaan sistem persenjataan utama senilai 8 Miliar DollarAS.