Memacu Daya Saing Dan Efisiensi di Pasar Modal - Kembangkan Sistem Investasi Terpadu

NERACA

Jakarta – Indonesia masih menjadi negara tujuan investasi, khususnya investor asing di pasar modal dengan pertumbuhan ekonomi positif, inflasi yang stabil dan kondisi keamanan politik dalam negeri yang masih terjaga. Tidak hanya itu, banyak alasan mengapa Indonesia menjadi tujuan investasi, disamping populasi masyarakat yang besar menjadikan potensi pasar yang menjanjikan dan juga tawaran bunga obligasi yang tinggi sekitar 8,3% dibandingkan di Amerika Serikat hanya sebesar 3%. Hal ini menjadi kabar baik, karena Indonesia ternyata masih diperhitungkan di dunia internasional.

Namun disatu sisi, hal ini menjadi tantangan bagi industri pasar modal dalam negeri bagaimana memanfaatkan potensi pasar dalam negeri untuk meningkatkan peran investor lokal. Hal ini sangat beralasan, karena peran investor lokal saat ini masih rendah ketimbang investor asing yang mendominasi kepemilikan efek sebesar 60%. Padahal, saat ini pretasi indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) mampu berada diposisi kedua untuk pertumbuhan indeks saham di dunia dan begitu juga kapitalisasi pasar saham yang tiap tahunnya terus tumbuh.

Agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi investor asing, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama lembaga SRO lainnya terus melakukan edukasi dan sosialisasi investor pasar modal guna meningkatkan jumlah investor lokal dengan membidik investor potensial dari kalangan mahasiswa,”Sampai saat ini jumlah investor dari kalangan akademisi atau para investor muda mencapai 7.000 orang dan ditargetkan jumlah tersebut meningkat sampai akhir tahun jadi 10.000 investor,”kata Direktur Pengembangan BEI, Frederica Widyasari Dewi.

Tekad PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memacu jumlah investor lokal tidak hanya bicara soal angka, namun bagaimana membuat industri pasar modal lebih dekat kepada masyarakat sebagai instrument investasi yang menjanjikan. Bahkan untuk itu, OJK terus agresif melakukan pendalaman pasar modal dengan mengeluarkan berbagai kebijakan.

Kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Nurhaida, pengembangan market deepening atau pendalaman pasar dimaksudkan agar masyarakat terjangkau akses pasar modal yang saat masih minim. Disamping itu, pendalaman pasar juga dilakukan agar sektor keuangan bisa lebih likuid dan bersaing di pasar regional maupun internasional,”Tentunya ini tidak bisa terlepas dari suplai yang cukup dari sisi produk dan demand yang cukup mendukung dengan kondisi investor yang banyak. Jika pasar modal bisa tumbuh baik, ini tidak terlepas dari sistem yang ada di infrastruktur," ujar dia.

Bangun Infrastruktur

Maka untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan akses pasar modal yang mudah, tentunya perlu disiapkan pula infrastruktur yang matang. Hal ini dimaksudkan pula guna meningkatkan daya saing industri pasar modal ditingkat regional dan global. Apalagi, menghadapi persaingan pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA 2015), hal ini menjadi mutlak dilakukan sebagai upaya memperkuat basis investor lokal.

Oleh karena itu, menyadari pembangunan infrastruktur merupakan fondasi utama guna memperkuat dan kekokohan pasar modal kedepan. PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai lembaga penyimpanan dan penyelesaian terus melakukan pengembangan infrastruktur dan diantaranya, menerapkan Single Investor Identification (SID) dan Fasilitas AKSes (Acuan Kepemilikan Sekuritas).

Direktur Utama KSEI, Heri Sunaryadi mengungkapkan, keduanya menjadi salah satu rencana pengembangan infrastruktur yang menjadi agenda perseroan sejak akhir tahun 2013,”Pengembangan infrastruktur merupakan modal dasar yang sangat penting di setiap industri. Dengan semakin baik infrastruktur yang dibangun, semakin kokoh dan konsisten pula pertumbuhannya," ujarnya.

Bahkan untuk merealisasikannya, KSEI melakukan langkah dan strategi pengembangan infrastruktur pasar modal dengan menggandeng industri perbankan. Apalagi, industri perbankan yang telah menjadi kebutuhan bagi masyarakat didukung dengan jaringan yang telah mencapai ke pelosok Tanah Air.

"Hal itu merupakan peluang untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam melakukan aktivitas yang berhubungan dengan investasi pasar modal," katanya.

Dirinya optimistis, kemudahan penggunaan fitur perbankan yang telah diketahui secara umum dapat menjadi alternatif bagi masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal. Upaya tersebut tampak memasuki tahun 2014 di mana KSEI telah mencapai kesepakatan dengan PT Bank Permata Tbk melalui kerja sama pengembangan Co-Branding Fasilitas AKSes melalui Anjungan Tunai Mandiri.

Selanjutnya, kata Heri, menjawab tuntutan pasar agar industri pasar modal bisa memiliki daya saing tinggi dengan meningkatkan efisiensi, pihaknya juga merintis pengembangan sistem pengelolaan investasi terpadu di Indonesia dengan menggandeng Korea Securities Depository (KSD).

Menurutnya, kebutuhan infrastruktur yang memadai sesuai tuntutan perkembangan dan pertumbuhan industri reksa dana di Indonesia diharapkan dapat dijawab dengan pengembangan sistem ini,”Dengan infrastruktur yang akan dikembangan ini nantinya diharapkan industri Reksa Dana dapat lebih cepat tumbuh dengan proses bisnis yang lebih efisien untuk para pelaku,”ungkapnya.

Dia menjelaskan, diperlukannya sistem pengelolaan investasi terpadu perlu dikembangkan di Indonesia karena di industri saat ini banyak proses dilakukan secara manual dan tidak terstandardisasi sehingga usaha untuk mengembangkan bisnis reksa dana otomatis berdampak pada peningkatan biaya sehingga tidak efisien. Dalam skala industri, hal ini yang akan menjadi fokus KSEI untuk mengatasi melalui pengembangan infrastruktur yang terintegrasi.

Maka dengan demikian, potensi industri dapat berkembang namun tetap efisien dari sisi biaya. Asal tahu saja, saat ini para pelaku di industri reksa dana seperti agen penjual, manajer investasi, bank kustodian termasuk perusahaan efek masih saling terhubung dengan cara yang beragam, dengan sistem yang dikembangkan oleh masing-masing pelaku. Bahkan masih banyaknya proses yang manual dijalankan dan tidak adanya standar baku untuk berinteraksi antar pelaku tentunya menjadi kendala untuk mengembangkan pasar reksa dana karena proses menjadi tidak efisien dan menimbulkan biaya tinggi.

Belajar dari kesuksesan KSD dalam mengembangkan infrastruktur untuk industri reksa dana dan prodak lainnya, diharapkan pasar modal kedepan makin lebih memiliki daya saing tinggi karena mampu menjangkau masyarakat Indonesia secara luas dan bukan lagi menjadi investasi yang mahal, sehingga ujungnya mampu meningkatkan pertumbuhan dan likuiditas di pasar. (bani)

Related posts