Pertumbuhannya Diklaim Tercepat di Dunia

Ekonomi Indonesia

Rabu, 08/10/2014

NERACA

Jakarta - Tim peneliti dari National University of Singapore (NUS), Tan Kong Yam mengatakan julukan negara ekonomi menengah dengan pertumbuhan tercepat di dunia atau rising middle power dunia pada Indonesia. Pemberian julukan ini melihat perbaikan tingkat daya saing di sejumlah Provinsi di Tanah Air."Indonesia terkenal sebagai rising middle power di dunia," katanya dalam acara Investment Award di Jakarta, Selasa (7/10).

Sejak 2011, NUS bekerja sama dengan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) untuk menyusun peringkat daya saing di 33 Provinsi di Indonesia. Sehingga dia tahu betul perbaikan daya saing tiap provinsi.Yam optimis ekonomi Indonesia akan terus tumbuh ke depannya. Tidak hanya itu, Indonesia juga diyakini akan memberikan sumbangsih dan kontribusi untuk negara lain di kawasan.

"Diharapkan Indonesia akan memimpin kawasan Asia Pasifik dan memimpin terwujudnya partnership menuju perdagangan bebas ," tegasnya.Potensi kenaikan ekonomi Indonesia bisa dilihat dari hasil penelitian yang dilakukan NUS. Beberapa provinsi di Indonesia Timur, Sumatera Utara, Gorontalo, Bengkulu mencatatkan lompatan ekonomi 12-13 peringkat dengan fokus 20 persen pada indikator terendahnya.

"Provinsi-provinsi di Jawa dan Sumatera selama ini dikenal maju, tapi ternyata ada kemajuan pesat di Provinsi Kalimantan dan Sulawesi. Ini bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua."

Dari penelitian ini juga disebut Sumatera merupakan wilayah dengan stabilitas makro paling apik. Sementara untuk sublingkup perencanaan pemerintah dan institusi, Provinsi di Sulawesi bisa menjadi percontohan bagi Provinsi lain.

"Indonesia harus meningkatkan produktivitas pertanian dan sebagainya. Jika ingin membangun industri pengolahan sumber daya alam, perlu diiringi dengan peningkatan sumber daya manusia tanpa melupakan aspek governance, seperti infrastruktur," tuturnya.

Namun begitu berbeda dengan ungkpan Mantan Menteri Ekonomi, Jenderal (Purn) Luhut Pandjaitan. Dia menegaskan dari data yang di evaluasi sejak 5 tahun terakhir, bahwa peningkatan pertumbuhan ekonomi Indonesia berkisar rata-rata 5,9 persen per tahun. Angka ini cukup jauh bila dibandingkan dengan sejumlah negara berkembang lainnya, yang sudah beranjak diatas 6 persen.

“Angka pertumbuhan tersebut jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang di Asia (Developing Asia), jika kita melihat dari sejumlah data-data pertumbuhan ekonomi,” tutur Luhut.

Menurutnya, beberapa data dari Global Financial Crisis tahun 2008 hingga 2009 lalu, ekonomi Indonesia masih tumbuh berada dikisaran 4,6 % hingga 6,0%. Justru ini menunjukkan kekuatan ekonomi domestik Indonesia yang cukup kuat terutama di sektor konsumsi.

Sementara, ekonomi Indonesia yang tumbuh cukup baik selama periode 2008 hingga 2012 lalu, namun ternyata belum dapat mengurangi ketimpangan dalam distribusi pendapatan masyarakat Indonesia secara menyeluruh.

“Kalau dilihat dari tabel Indeks Koefisien Gini Indonesia Tahun 2004-2007 bahwa yang mengukur distribusi ketimbangan pendapatan, naik dari 35 di tahun 2008 ke 41,0 di tahun 2012, ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan hanya dinikmati oleh sebagian golongan tertentu dan tidak merata kepada rakyat,” tuturnya. [agus]