Pertumbuhannya Diklaim Tercepat di Dunia - Ekonomi Indonesia

NERACA

Jakarta - Tim peneliti dari National University of Singapore (NUS), Tan Kong Yam mengatakan julukan negara ekonomi menengah dengan pertumbuhan tercepat di dunia atau rising middle power dunia pada Indonesia. Pemberian julukan ini melihat perbaikan tingkat daya saing di sejumlah Provinsi di Tanah Air."Indonesia terkenal sebagai rising middle power di dunia," katanya dalam acara Investment Award di Jakarta, Selasa (7/10).

Sejak 2011, NUS bekerja sama dengan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) untuk menyusun peringkat daya saing di 33 Provinsi di Indonesia. Sehingga dia tahu betul perbaikan daya saing tiap provinsi.Yam optimis ekonomi Indonesia akan terus tumbuh ke depannya. Tidak hanya itu, Indonesia juga diyakini akan memberikan sumbangsih dan kontribusi untuk negara lain di kawasan.

"Diharapkan Indonesia akan memimpin kawasan Asia Pasifik dan memimpin terwujudnya partnership menuju perdagangan bebas ," tegasnya.Potensi kenaikan ekonomi Indonesia bisa dilihat dari hasil penelitian yang dilakukan NUS. Beberapa provinsi di Indonesia Timur, Sumatera Utara, Gorontalo, Bengkulu mencatatkan lompatan ekonomi 12-13 peringkat dengan fokus 20 persen pada indikator terendahnya.

"Provinsi-provinsi di Jawa dan Sumatera selama ini dikenal maju, tapi ternyata ada kemajuan pesat di Provinsi Kalimantan dan Sulawesi. Ini bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua."

Dari penelitian ini juga disebut Sumatera merupakan wilayah dengan stabilitas makro paling apik. Sementara untuk sublingkup perencanaan pemerintah dan institusi, Provinsi di Sulawesi bisa menjadi percontohan bagi Provinsi lain.

"Indonesia harus meningkatkan produktivitas pertanian dan sebagainya. Jika ingin membangun industri pengolahan sumber daya alam, perlu diiringi dengan peningkatan sumber daya manusia tanpa melupakan aspek governance, seperti infrastruktur," tuturnya.

Namun begitu berbeda dengan ungkpan Mantan Menteri Ekonomi, Jenderal (Purn) Luhut Pandjaitan. Dia menegaskan dari data yang di evaluasi sejak 5 tahun terakhir, bahwa peningkatan pertumbuhan ekonomi Indonesia berkisar rata-rata 5,9 persen per tahun. Angka ini cukup jauh bila dibandingkan dengan sejumlah negara berkembang lainnya, yang sudah beranjak diatas 6 persen.

“Angka pertumbuhan tersebut jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang di Asia (Developing Asia), jika kita melihat dari sejumlah data-data pertumbuhan ekonomi,” tutur Luhut.

Menurutnya, beberapa data dari Global Financial Crisis tahun 2008 hingga 2009 lalu, ekonomi Indonesia masih tumbuh berada dikisaran 4,6 % hingga 6,0%. Justru ini menunjukkan kekuatan ekonomi domestik Indonesia yang cukup kuat terutama di sektor konsumsi.

Sementara, ekonomi Indonesia yang tumbuh cukup baik selama periode 2008 hingga 2012 lalu, namun ternyata belum dapat mengurangi ketimpangan dalam distribusi pendapatan masyarakat Indonesia secara menyeluruh.

“Kalau dilihat dari tabel Indeks Koefisien Gini Indonesia Tahun 2004-2007 bahwa yang mengukur distribusi ketimbangan pendapatan, naik dari 35 di tahun 2008 ke 41,0 di tahun 2012, ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan hanya dinikmati oleh sebagian golongan tertentu dan tidak merata kepada rakyat,” tuturnya. [agus]

BERITA TERKAIT

Minat Perusahaan Untuk IPO Tetap Tinggi - Kondisi Ekonomi Masih Baik

NERACA Jakarta - Nilai tukar rupiah yang sempat mengalami depresiasi cukup dalam dan memberikan sentimen negaif terhadap kondisi indeks harga…

KOTA DEPOK - Pengoperasian Terminal Diharapkan Tumbuhkan Ekonomi Baru

KOTA DEPOK Pengoperasian Terminal Diharapkan Tumbuhkan Ekonomi Baru NERACA Depok, Jawa Barat - Wali Kota Depok Mohammad Idris berharap pengoperasian…

Pemerintah & DPR Sepakat Kurs Rp 14.500 per US$ - PERUBAHAN ASUMSI MAKRO EKONOMI RAPBN 2019

Jakarta-Pemerintah dan Badan Anggaran (Banggar) DPR akhirnya sepakat untuk mengubah kembali asumsi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjadi Rp14.500 dari…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Naik Rp1,25 Triliun, Banggar Tetapkan Anggaran Subsidi Energi Rp157,79 Triliun

      NERACA   Jakarta - Rapat Panitia Kerja Badan Anggaran DPR menyetujui alokasi subsidi energi sebesar Rp157,79 triliun…

Operasi Pasar Beras Bulog Tak Diserap Maksimal

      NERACA   Jakarta – Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengakui bahwa beras yang digelontorkan melalui operasi…

Presiden Teken Perpres Defisit BPJS Kesehatan Ditutupi dari Cukai Rokok

      NERACA   Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengakui telah menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) mengenai penggunaan cukai…