Minim Wirausahawan, Pasar Indonesia Dikuasai Produk Asing

Rabu, 08/10/2014

NERACA

Jakarta – Penduduk Indonesia yang mencapai 240 juta orang serta daya beli masyarakat yang tinggi menjadikan Indonesia sebagai pasar yang potensial bagi investor baik dalam maupun luar negeri. Namun sayangnya, hal itu lebih banyak dimanfaatkan oleh investor asing lantaran Indonesia dipenuhi oleh produk-produk asing.

Salah satu penyebab banyaknya produk asing di Indonesia, menurut Direktur Keuangan PT Dwi Aneka Jaya Kemasindo Tbk Witjaksono adalah karena jumlah pengusaha yang masih jauh dibawah angka ideal. Saat ini, Witjaksono mengatakan rasio pengusaha Indonesia hanya 1,6%, padahal idealnya sebuah negara maju harus memiliki rasio pengusaha diatas 5%.

Menurut dia, dari angka 1,6% tersebut jumlah pengusaha yang berusia di bawah 40 tahun hanya 0,8%. “Ini sangat memperihatinkan, untuk itu kita tergerak untuk menciptakan pengusaha-pengusaha belia di negeri ini,” kata Witjaksono di Jakarta, Senin (6/10).

Witjaksono menegaskan tidak adanya karakter untuk berwirausaha yang ditanamkan sebagian besar orang tua sejak dini menyebabkan minimnya jumah pengusaha muda di Indonesia. “Kebanyakan para orang tua selalu menanamkan dan mempersiapkan anak mereka menjadi pekerja ketimbang menjadi pengusaha,” kata Witjaksono.

Selain itu, Menurut Witjaksono sistem pendidikan di Indonesia saat ini kurang sukses menanamkan kesadaran berwirausaha. Dampaknya, jumlah masyarakat berminat menjadi pengusaha sampai sekarang masih minim.

“Kurikulum 2013 dirancang oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tak juga memasukkan materi kewirausahaan secara terpadu di pelbagai tingkat pendidikan. Wirausaha itu harus dibangun melalui budaya kita, hal itu kemudian didampingi dengan ilmu pengetahuan, sayangnya kurikulum 2013 yang baru ini masih belum jelas, kacau, apalagi mengenai ilmu kesenian dan budayanya," katanya.

Akibat dari minimnya kesadaran berwirausaha, lulusan sekolah di negara ini, kurang bermental baja dalam pekerjaan. "Lebih cenderung melahirkan orang-orang yang pandai membuat perencanaan dibandingkan orang yang tipe pekerja,” lanjutnya.

Untuk jumlah wirausahawan di Indonesia, tercatat hingga Februari 2014, ada 44,2 juta orang yang berusaha membuka lapangan kerja secara berdikari. Sementara, total penduduk bekerja di republik ini mencapai 118,1 juta orang.

Bila dibedah lagi, wirausahawan di Indonesia terdiri dari jumlah penduduk berusaha sendiri 20,32 juta orang, berusaha dibantu buruh tidak tetap 19,74 juta orang dan berusaha dibantu buruh tetap 4,14 juta orang.

Mengacu data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, jumlah wirausahawan ini masih minim. Sebab, baru mencapai 1,56% dari total populasi. Bank Indonesia pun mencatat tingkat kewirausahaan Indonesia masih kalah dari negara-negara di kawasan. Jumlah pelaku usaha mandiri di Malaysia, Thailand, dan Singapura, melampaui 4% dari keseluruhan populasi.

Hal senada juga diungkapkan oleh Wakil Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menyebut salah satu syarat Indonesia menjadi negara maju adalah tumbuh dan berkembangnya para pengusaha besar. Sayangnya jumlah pengusaha besar di Indonesia dinilai masih minim. "Untuk menjadi negara maju harus banyak entrepreneurship (kewirausahaan). Indonesia itu sangat kurang, menggunakan indikator manapun kita sangat kurang. Ini menjadi fakta," kata Bambang.

Bambang melihat perkembangan daftar orang terkaya di Indonesia sejak tahun 1990. Hingga saat ini daftar orang terkaya di Indonesia mayoritas masih dipegang oleh orang yang sama. Atau paling tidak yang berubah hanya kepemilikan yang dipegang dan diwariskan oleh sang anak.

"Agak menyedihkan banyak nama di tahun 90-an yang muncul kembali di tahun 2013. Artinya untuk jadi orang kaya di Indonesia itu susah. Sangat sedikit orang kaya baru atau OKB beneran. Boleh dibilang kita krisis pengusaha yang berkualitas dan kompetitif. Kita belum bisa seperti Korea. Pengusahanya hanya itu-itu aja, paling yang berkembang pemilik jadi anaknya," paparnya.

Menurut Bambang, mayoritas atau kebanyakan pengusaha di Indonesia tergolong pengusaha yang nanggung atau bukan sulit menjadi pengusaha besar. Contohnya Indonesia mempunyai banyak pengusaha di sektor UKM tetapi hanya sedikit dari jumlah pengusaha di sektor itu yang berhasil naik kelas. Kemudian banyak pengusaha Indonesia juga lebih tertarik masuk ke dunia politik. "Indonesia ini butuh pengusaha lebih banyak. Kalau cepat masuk ke politik akibatnya kita kekurangan pengusaha. Negara yang kekurangan pengusaha tidak pernah jadi negara maju," imbuhnya.

Untuk sektor ini, Indonesia harus banyak mencontoh negara Tiongkok. Bambang menjelaskan laju perkembangan pengusaha besar di Tiongkok meningkat cukup signifikan setiap tahunnya. "Dalam konteks geopolitik China yang akan menjadi pesaing Amerika untuk entrepreneurship. Jadi kita perlu dorong entrepreneurship ini. Negara Filipina kenapa ekonominya stuck di middle income trap? Karena tidak berkembang entrepeneurship. Hal lain yang menjadi masalah ekonomi di Filipina adalah ekonomi mereka hanya dipegang 15 orang," jelas Bambang.