Pasar Obligasi Masih Jadi Daya Tarik

Tawarkan Imbal Hasil Tinggi

Rabu, 08/10/2014

NERACA

Jakarta –Belum redanya tensi geopolitik dalam negeri memicu kekhawatiran pelaku pasar modal, sehingga banyak investor asing melalukan aksi jual saham dan mengerek laju indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Namun demikian, kondisi tersebut tidak mempengaruhi pasar obligasi dalam negeri.

Direktur Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA), Wahyu Trenggono mengatakan, di tengah ketidakpastian politik saat ini, investor asing masih nyaman menempatkan dananya di pasar surat utang (obligasi). Bahkan manakala terjadi outflow di pasar saham beberapa waktu lalu, pasar obligasi malah terjadi inflow hingga Rp4 triliun,”Artinya, ketika pasar saham turun, tidak semua dana benar-benar keluar. Sebagian asing ada yang memindahkan dananya ke portofolio obligasi. Berbeda ketika tahun 2008 dan 2013, dimana di saham dan obligasi sama-sama turun akibat kepanikan,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, dari total surat utang yang tercatat sekitar Rp1.200 triliun, kepemilikan asing masih di sekitar 37%. Posisi tersebut masih tergolong tinggi jika dibanding tahun-tahun sebelumnya yang hanya 27%-29%. Dengan melihat data tersebut, lanjut Wahyu, investor asing masih menganggap situasi saat ini masih dalam level yang wajar, meski jangka pendek akan terjadi resiko volatilitas. “Kalau ada kondisi yang dianggap menghawatirkan di jangka menengah, dan panjang, pasti mereka sudah menarik dananya,” jelasnya.

Ketertarikan asing akan surat utang di Indonesia mengingat imbal hasil yang diberikan masih sangat tinggi. Untuk SUN jangka waktu 10 tahun, bunga yang di berikan bisa mencapai 8,3%. Angka ini jauh jika dibandingkan di AS yang hanya sebesar 3%,”Saat ini jika mereka invest di SUN kita dengan kupon 8,3%, di Amerika cuma sekitar 3%-an. Artinya, di Indonesia masih menarik,”tandasnya.

Kendatipun demikian, Wahyu tidak menafikan bila penerbitan surat utang tahun ini tidak seramai dibandingkan tahun lalu. Alasannya, banyaknya ketidakpastian seperti rencana kenaikan suku bunga di Amerika Serikat membuat kekhawatiran pelaku pasar terhadap risiko obligasi.

Menurutnya, total penerbitan obligasi saat ini baru tercatat sebanyak 27 dengan nilai emisi senilai Rp28,84 triliun. Jumlah ini sangat jauh dibandingkan dengan penerbitan di tahun lalu yang tercatat sebanyak 58 kali senilai Rp65 triliun. Artinya, rencana penerbitan yang tahun ini di tunda kemungkinan besar akan dilakukan banyak perusahaan pada 2015.“Jika dibanding tahun lalu gap-nya banyak sekali. Tahun depan tidak akan ditunda lagi, karena ada utang jatuh tempo yang harus dibayar. Selain itu, kebutuhan ekspansi bisnis akan semakin besar di 2015,” jelasnya.

Sekedar informasi, total emisi Obligasi dan Sukuk yang sudah tercatat sepanjang 2014 di BEI adalah 31 Emisi dari 27 Emiten senilai Rp28,84 triliun. Dengan pencatatan ini maka total emisi Obligasi dan Sukuk yang tercatat di BEI berjumlah 259 emisi dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp220,202 Triliun dan US$ 100 juta, diterbitkan oleh 108 Emiten. Surat Berharga Negara (SBN) tercatat di BEI berjumlah 93 seri dengan nilai nominal Rp1.180,895 triliun. Dan 5 EBA senilai Rp1,949 triliun. (bani)