Kinerja Reksa Dana Syariah Belum Optimal

Belum Berikan Return Maksimal

Rabu, 08/10/2014

NERACA

Jakarta –Berbalik dengan kinerja reksa dana saham konvensional yang mencatatkan pertumbuhan signifikan, justru sebaliknya kinerja reksa dana saham syariah sejak awal tahun (year to date) tidak terlalu maksimal jika dibandingkan tahun sebelumnya.

Jika diperhatikan, karakteristik produk reksa dana syariah juga cenderung defensif, sehingga pada saat pasar saham booming seperti tahun ini, di mana pertumbuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencapai lebih dari 20% (year to date) di akhir September, reksa dana syariah terlihat tidak memberikan return maksimal atau tertinggal dari reksa dana konvensional,”Namun, jika keadaan pasar berubah menjadi tidak kondusif, kinerja reksa dana saham syariah dapat mengungguli reksa dana konvensional,” kata analis Riset PT Infovesta Utama, Yosua Zisokhi di Jakarta, kemarin.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), per akhir Desember 2013, reksa dana saham syariah mencatatkan dana kelolaan (asset under management/AUM) sebesar Rp5,3 triliun. Posisi tersebut masih sama pada awal tahun ini. Namun, per akhir September 2014, AUM reksa dana saham syariah mengalami kenaikan menjadi Rp5,42 triliun.

Angka itu naik sangat tipis jika dibanding dengan kinerja reksa dana saham syariah per akhir September tahun sebelumnya sebesar Rp5,19 triliun. Sementara data Infovesta Utama menunjukkan, sejak awal tahun hingga 3 Oktober 2014, return Infovesta Sharia Equity Fund Index mencetak hasil 14,36%. Sedangkan Infovesta Sharia Balanced Fund Index sebesar 9,91%, dan Infovesta Sharia Fixed Income Fund Index sebesar 4,21%.

Yosua menjelaskan, kinerja rata-rata reksa dana saham syariah hingga akhir September 2014, yang tercermin pada Infovesta Sharia Equity Fund Index bertumbuh 18,97%. Menurut dia, pertumbuhan itu lebih rendah dibandingkan kinerja IHSG sebesar 20,20%.

Adapun penyebabnya, Yosua menjelaskan, tidak bolehnya reksa dana saham syariah masuk ke industri perbankan konvensional pada tahun ini. Akan tetapi, dia memprediksi, reksa dana saham syariah masih berpotensi tumbuh ketika situasi pasar saham mulai bergejolak menyikapi sentimen-sentimen global maupun domestic,”Hal ini karena pada kondisi seperti itu, pasar rawan terkoreksi, sehingga para pelaku pasar akan memburu saham yang lebih defensif, sehingga ada potensi kenaikan harga pada saham-saham tersebut,”ujarnya.

Sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad pernah bilang, peluang pertumbuhan pasar modal syariah dan termasuk reksa dana syariah masih cukup besar. Namun hal tersebut belum digali secara optimal.

Berdasarkan data OJK, dana keloaan reksa dana syariah hingga pada 27 Juni tahun ini mencapai sebesar Rp9,17 triliun. Angka ini hanya naik tipis sekitar Rp210 miliar dibanding kuartal I sebesar Rp8,96 triliun.Disebutkan, dana kelolaan reksa dana syariah pada kuartal I tercatat sebesar Rp8,96 triliun. Naiknya total dana kelolaan tersebut dikontribusi dari bertambahnya jumlah reksa dana berbasis syariah menjadi 65 reksa dana dari sebelumnya 64 reksa dana syariah.

Reksa dana syariah yang memberi kontribusi terbesar adalah reksa dana syariah berbasis saham, diikuti reksa dana syariah berbasis campuran dan di posisi ketiga adalah reksa dana syariah berbasis terproteksi. Kemudian berasal dari reksa dana syariah berbasis pasar uang dan reksa dana syariah berbasis indeks.

Adapun total dana kelolaan tersebut dikontribusi dari reksa dana syariah berbasis campuran sebesar Rp1,75 triliun, reksa dana syariah berbasis terproteksi sebesar Rp1,12 triliun dan reksa dana syariah berbasis saham mencapai Rp5,48 triliun. Sedangkan reksa dana syariah berbasis indeks sebesar Rp7,22 miliar dan reksa dana syariah berbasis pasar uang sebesar Rp277,79 miliar. (bani)