Blue Bird Targetkan Pendapatan Rp 5 Triliun

Tambah Armada

Selasa, 07/10/2014

NERACA

Jakarta - PT Blue Bird menargetkan pendapatan tahun ini dapat meningkat sebesar 25%-30% dibanding realisasi pendapatan pada tahun sebelumnya sebesar Rp3,9 triliun. Artinya, pendapatan perseroan sepanjang tahun ini akan mencapai Rp4,87 triliun hingga Rp5,07 triliun,”Pendapatan tahun ini ditargetkan bisa tumbuh sekitar 25-30% dibanding pendapatan tahun lalu yang sebesar Rp3,9 triliun," kata Direktur Keuangan PT Blue Bird, Robert Rerimassie di Jakarta, kemarin.

Sedangkan pendapatan untuk tahun 2015, menurut Robert, pihaknya menargetkan pertumbuhan pendapatan sebesar 25%, jika dibandingkan dengan pendapatan hingga akhir tahun 2014 yang diperkirakan akan mencapai Rp4,87 triliun hingga Rp5,07 triliun. "Kalau untuk tahun 2015 mendatang, kami juga menargetkan akan meningkat sebesar 25%," ujarnya.

Sekedar informasi, pada tahun 2013 perseroan membukukan pendapatan Rp3,9 triliun, dengan laba bersih sebesar Rp266,76 miliar. Sementara pendapatan hingga April 2014 ini sebesar Rp1,47 triliun, dengan laba Rp271,49 miliar.

Saat ini perseroan memiliki total utang per April mencapai sebesar Rp 3 triliun ke beberapa bank. Kemudian utang yang akan jatuh tempo pada bulan November tahun ini sekitar Rp 1,22 triliun. Kata Robert Rerimassie, perseroan memiliki utang jatuh tempo sekitar Rp 400 miliar kepada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan perseroan juga ada pinjaman kredit investasi yang akan jatuh tempo pada November 2014, yakni senilai Rp 817,39 miliar,”Saat ini total utang kami itu mencapai Rp 3 triliun kepada beberapa bank. Sedangkan, yang akan jatuh tempo pada bulan November nanti itu sekitar Rp 1,22 triliun. Kami berniat untuk IPO yang sebagian dananya nanti akan dialokasikan untuk pembayaran sebagian utang Blue Bird,”ungkapnya.

Dia mengungkapkan rencana pelunasan sebagian utang ini karena perseroan menganggap beban bunga yang ditanggung sudah sangat tinggi rata-rata di angka 11%."Bunganya rata-rata 11%. Kita akan bayar sebagian karena bunganya sudah tinggi. Utang yang kita bayar ada yang sampai di atas 200 bps, 300 bps di atas rata-rata bunga di pasar”ujarnya.

Robert menyebutkan total kreditur perseroan ada delapan perbankan. Pemberi kredit utama dipegang PT Bank Central Asia Tbk dan PT Bank OCBC NISP Tbk."Ada delapan total bank yang major 2 BCA sama OCBC. Kita juga mau kapital kita jadi efisien. Kita mengoptimalkan kinerja. Setelah IPO akan bayar utang langsung. Seminggu atau dua minggu setelah IPO," pungkasnya.

Seperti diketahui, dalam IPO perusahaan jasa transportasi ini akan melepas 531,4 juta saham setara dengan 20% dari modal ditempatkan dan disetor penuh dengan kisaran harga Rp 7.200 hingga Rp 9.300 per saham. Dari total dana IPO sekitar 35,71% akan digunakan untuk membayar utang. (bani)