Blue Bird Targetkan Pendapatan Rp 5 Triliun - Tambah Armada

NERACA

Jakarta - PT Blue Bird menargetkan pendapatan tahun ini dapat meningkat sebesar 25%-30% dibanding realisasi pendapatan pada tahun sebelumnya sebesar Rp3,9 triliun. Artinya, pendapatan perseroan sepanjang tahun ini akan mencapai Rp4,87 triliun hingga Rp5,07 triliun,”Pendapatan tahun ini ditargetkan bisa tumbuh sekitar 25-30% dibanding pendapatan tahun lalu yang sebesar Rp3,9 triliun," kata Direktur Keuangan PT Blue Bird, Robert Rerimassie di Jakarta, kemarin.

Sedangkan pendapatan untuk tahun 2015, menurut Robert, pihaknya menargetkan pertumbuhan pendapatan sebesar 25%, jika dibandingkan dengan pendapatan hingga akhir tahun 2014 yang diperkirakan akan mencapai Rp4,87 triliun hingga Rp5,07 triliun. "Kalau untuk tahun 2015 mendatang, kami juga menargetkan akan meningkat sebesar 25%," ujarnya.

Sekedar informasi, pada tahun 2013 perseroan membukukan pendapatan Rp3,9 triliun, dengan laba bersih sebesar Rp266,76 miliar. Sementara pendapatan hingga April 2014 ini sebesar Rp1,47 triliun, dengan laba Rp271,49 miliar.

Saat ini perseroan memiliki total utang per April mencapai sebesar Rp 3 triliun ke beberapa bank. Kemudian utang yang akan jatuh tempo pada bulan November tahun ini sekitar Rp 1,22 triliun. Kata Robert Rerimassie, perseroan memiliki utang jatuh tempo sekitar Rp 400 miliar kepada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan perseroan juga ada pinjaman kredit investasi yang akan jatuh tempo pada November 2014, yakni senilai Rp 817,39 miliar,”Saat ini total utang kami itu mencapai Rp 3 triliun kepada beberapa bank. Sedangkan, yang akan jatuh tempo pada bulan November nanti itu sekitar Rp 1,22 triliun. Kami berniat untuk IPO yang sebagian dananya nanti akan dialokasikan untuk pembayaran sebagian utang Blue Bird,”ungkapnya.

Dia mengungkapkan rencana pelunasan sebagian utang ini karena perseroan menganggap beban bunga yang ditanggung sudah sangat tinggi rata-rata di angka 11%."Bunganya rata-rata 11%. Kita akan bayar sebagian karena bunganya sudah tinggi. Utang yang kita bayar ada yang sampai di atas 200 bps, 300 bps di atas rata-rata bunga di pasar”ujarnya.

Robert menyebutkan total kreditur perseroan ada delapan perbankan. Pemberi kredit utama dipegang PT Bank Central Asia Tbk dan PT Bank OCBC NISP Tbk."Ada delapan total bank yang major 2 BCA sama OCBC. Kita juga mau kapital kita jadi efisien. Kita mengoptimalkan kinerja. Setelah IPO akan bayar utang langsung. Seminggu atau dua minggu setelah IPO," pungkasnya.

Seperti diketahui, dalam IPO perusahaan jasa transportasi ini akan melepas 531,4 juta saham setara dengan 20% dari modal ditempatkan dan disetor penuh dengan kisaran harga Rp 7.200 hingga Rp 9.300 per saham. Dari total dana IPO sekitar 35,71% akan digunakan untuk membayar utang. (bani)

BERITA TERKAIT

DPRD Jabar Targetkan Raperda Kewirausahaan Disahkan Akhir 2018

DPRD Jabar Targetkan Raperda Kewirausahaan Disahkan Akhir 2018 NERACA Bandung - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Barat menargetkan rancangan…

Pemerintah Tetapkan Hasil Penjualan SBR004 Rp7,3 Triliun

    NERACA   Jakarta - Pemerintah menetapkan hasil penjualan Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR004 sebesar Rp7,3 triliun dengan…

PT Lintas Marga Sedaya Raih Pembiayaan Rp8,8 Triliun

    NERACA   Jakarta - PT Lintas Marga Sedaya (LMS), menerima pembiayaan sindikasi sejumlah Rp8,8 triliun. Pembiayaan sindikasi ini…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Model Bisnis Sangat Potensial - Digitaraya Jadi Investor Strategis Pertama Passpod

NERACA Jakarta – Keseriusan PT Yelooo Integra Datanet (Passpod) untuk segera melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), menarik banyak perhatian…

Lagi, BEI Suspensi Saham Mahaka Media

Lagi, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan saham PT Mahaka Media Tbk (ABBA) pada perdagngan saham Rabu (19/9).…

Obligasi Masih Ramai di Sisa Akhir Tahun

NERACA Jakarta – Meskipun dihantui sentimen kenaikan suku bunga, potensi pasar obligasi dalam negeri hingga akhir tahun masih positif. “Dengan…