Industri Nasional Lesu, Ekspor Ikut Turun

NERACA

Jakarta – Pemerintah berencana merevisi target ekspor 2014 sebesar 5% dari target yang dipasang sebesar US$190 miliar. Pengamat Ekonomi Dani Setiawan menyatakan salah satu indikator penurunan ekspor karena industri dalam negeri belum berjalan secara optimal sehingga tren penerimaan dari hasil ekspor ikut mengalami penurunan. “Industri nasional masih melempem karena bersaing dengan produk asing yang membanjiri Indonesia, otomatis ekspornya menurun," kata Dani di Jakarta, Senin (6/10).

Dani mengatakan industri nasional khususnya usaha kecil menengah (UKM) belum bisa bersaing dengan produk-produk impor murah dari Tiongkok. Menurutnya, regulasi yang mengatur tentang perindustrian juga masih menguntungkan pemodal asing. Oleh karena itu dibutuhkan regulasi yang berpihak kepada industri nasional. "Dengan regulasi yang seperti ini, industri nasional tidak memiliki daya tahan terhadap hantaman produk impor yang relatif murah," katanya.

Dani menyebut peningkatan ekspor yang sangat lambat menyebabkan pemerintah tidak memiliki uang. Padahal, kata dia, utang luar negeri bisa ditutup dengan devisa hasil penerimaan ekspor. Ia menambahkan, untuk meningkatkan daya saing ekspor produk-produk nasional perlu pondasi ekonomi yang kuat agar UKM Indonesia mampu bersaing dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). “Masalah di regulasi dan strukturalnya harus dikenali dulu agar kebijakan yang diambil bisa tepat sasaran,” katanya.

Sekedar informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ekspor Indonesia pada Juli 2014 mengalami penurunan sebesar 7,99% dibanding Juni 2014 dari US$15.409,5 juta menjadi US$14.178,2 juta. “Penurunan ekspor Juli lalu disebabkan oleh penurunan ekspor nonmigas sebesar 7,86% dari US$12.623,5 juta menjadi US$11.631,5 juta," ujar Ketua BPS Suryamin.

Suryamin mengatakan, penurunan ekspor Indonesia juga dipengaruhi melemahnya ekspor migas sebesar 8,59% dari US$2.786 juta dollar AS menjadi US$2.546,7 juta. Penyebab penurunan tersebut kata dia disebabkan karena menurunnya ekspor minyak mentah sebesar 32,43% menjadi US$677,8 juta dan ekspor hasil minyak sebesar 3,64% menjadi US$307,7 juta.

Sementara itu, ekspor gas mengalami peningkatan sebesar 6,68% menjadi US$1.561,2 juta. Jadi kata Suryamin, volume ekspor migas Juli 2014 untuk minyak mentah dan hasil minyak turun masing-masing sebesar 33,97% dan 12,58% dibandingkan bulan Juni 2014. "Dibandingkan Juli 2013, maka nilai ekspor nonmigas Juli 2014 mengalami penurunan 9,17%, sementara secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia dari Januari-Juli 2014 sebesar US$103.002,8 juta atau turun 2,97%,” kata Suryamin.

Seperti diberitakan sebelumnya, pemerintah dalam hal ini Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menyatakan bahwa pihaknya berencana untuk merevisi target ekspor Indonesia 2014, dari sebelumnya US$190 miliar menjadi kurang lebih US$180,5 miliar atau turun sebesar lima persen. “Kita akan merevisi turun sekitar lima persen dari US$190 miliar, untuk tahun ini,” kata Lutfi.

Penurunan target ekspor 2014 tersebut tercatat lebih rendah daripada pencapaian pada tahun 2013, karena pada saat itu Kementerian Perdagangan menargetkan ekspor senilai US$179 miliar, sementara realisasinya mencapai US$182,6 miliar. Lutfi mengatakan keputusan tersebut akan diambil setelah melihat kondisi yang ada dalam waktu dua minggu ke depan, hal tersebut khususnya berkaitan dengan turunnya harga crude palm oil (CPO) yang merupakan komoditas andalan ekspor Indonesia. “Kemungkinan dalam waktu dua minggu yang akan datang, jika tidak ada suatu terobosan yang baik maka kita harus merevisi turun,” ujar Lutfi.

Menurut Lutfi, penurunan harga CPO sudah mulai terjadi sejak awal Januari 2014 lalu, dimana pada saat itu tercatat harga CPO sebesar US$920 per metric ton, sementara saat ini sudah berada pada level US$726 per metric ton. “Saya sedang menghitung apabila tidak ada perbaikan, terlebih tahun lalu ekspor CPO kita mencapai US$20 miliar,” kata Lutfi.

Namun, Lutfi meyakini bahwa untuk tahun 2015, diperkirakan kinerja ekspor akan menjadi jauh lebih baik mengingat struktur industri dalam negeri sudah mengalami perbaikan yang terlihat dari tingginya jumlah impor untuk barang modal dan bahan baku penolong “Jika kita berinvestasi untuk barang-barang tersebut, kita akan mendapatkan keuntungannya 2-3 tahun kedepan, dengan struktur ekspor yang mulai berbeda dan bernilai tambah tinggi,” kata Lutfi.

Related posts