Menghitung Untung Saham Sektor Infrastruktur

Diprediksi Bakal Melesat Awal Tahun

Selasa, 07/10/2014

NERACA

Semarang– Komitmen pemerintah terpilih Jokowi dan Jusuf Kalla yang akan terus melanjutkan pembangunan infrastruktur, direspon positif dari pelaku pasar dan hal ini menjadi berkah bagi saham-saham sektor infrastruktur lantaran bakal kebanjiran order proyek besar dari pemerintah ataupun swasta.

Oleh karena itu, Branch Manager Panin Sekuritas di Semarang Marwahjudi menyakini, saham infrastruktur akan mengalami peningkatan di awal pemerintahan baru seiring dengan dilakukannya pembangunan-pembangunan untuk fasilitas umum,”Setiap awal pemerintahan baru memang saham infrastruktur mengalami peningkatan cukup signifikan karena tentu pada tahun pertama Pemerintah akan konsentrasi pada pembangunan-pembangunan untuk fasilitas umum," ujarnya di Semarang, Senin (6/10).

Menurutnya, sesuai dengan tren pertumbuhan IHSG pada setiap tahun politik, akan ada peningkatan yang cukup signifikan sepanjang tahun tersebut. Berdasarkan data dari Panin Aset Sekuritas, melihat sejarah pertumbuhan IHSG pada tahun politik 1999, ada pertumbuhan hingga 70%, selanjutnya pada tahun 2004 ada pertumbuhan IHSG sebesar 44,98%, sedangkan pada tahun 2009 pertumbuhan IHSG mencapai 86,98%.

Marwahjudi memprediksi, pertumbuhan positif juga akan terjadi pada tahun politik kali ini. Oleh karena itu, tidak perlu ada ketakutan dari para investor baik dalam negeri maupun asing untuk menginvestasikan dana mereka di Indonesia,”Justru saat ini adalah momentum bagus bagi para investor untuk mulai berinvestasi di pasar saham untuk jangka menengah dan jangka panjang," jelasnya.

Menurutnya, meski kondisi politik di Indonesia belum sepenuhnya stabil tetapi selama Pemerintah mengeluarkan kebijakan yang memihak rakyat maka kondisi pasar dalam negeri akan berlangsung baik. Sementara itu pihaknya mengakui, beberapa hari terakhir ini Indeks Harga Saham Gabungan berada di bawah level 5.000, kondisi tersebut salah satunya merupakan akibat dari kondisi ekonomi Indonesia yang belum aman bagi sejumlah investor.

IHSG sendiri berada di level lebih rendah dibandingkan beberapa bulan sebelumnya karena sejumlah investor asing yang menarik uang mereka keluar dari Indonesia,”Kondisi ekonomi ini kan dipengaruhi oleh politik, saat ini suhu politik Indonesia belum sepenuhnya baik. Meski demikian, menurut saya investor tidak perlu takut untuk tetap berinvestasi,”ujarnya.

Sebelumnya, analis First Asia Capital, David Nathael pernah bilang, saham-saham di sektor infrastruktur diperkirakan bakal cemerlang setelah periode pemilihan presiden (pilpres) berakhir. Dalam visi dan misinya, kedua kandidat presiden menyatakan akan meningkatkan pembangunan infrastruktur,”onstruksi akan naik signifikan, karena banyak sekali infrastruktur yang belum dibangun saat ini. Juga karena visi misi kedua capres akan membangun infrastruktur,” kata David.

Perbankan Masih Layak

Dia menyebutkan, saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) dan PT Jasa marga Tbk layak untuk dikoleksi. Selain itu, saham-saham di sektor perbankan juga berpotensi untuk menguat. Sedangkan saham di sektor perkebunan, kenaikannya tidak akan tinggi karena harga komoditas yang cenderung turun.

Hal senada juga disampaikan Vivian Secakusuma, Presiden Direktur PT BNP Paribas Investments, saham-saham yang terkait dengan infrastruktur bakal mengalami kenaikan, seperti perbankan, properti, juga manufaktur. Meski demikian, dia mengingatkan pula perlunya memperhatikan kinerja dari masing-masing perusahaan,”Karena nggak semua saham kinerja bagus. Seperti perbankan, kalau banknya tidak memberi pinjaman untuk proyek infrastruktur, ya nggak akan kena imbas. Lalu, kayak manufaktur juga akan bagus, kalau infrastrukturnya dibangun bagus,” tuturnya.

Analis KDB Daewoo Securities Indonesia Andrew Argado menambahkan, sektor properti juga akan menguat setelah pilpres karena juga terkait infrastruktur.“Dampak setelah pilpres, karena semua komitmen membangun infrastruktur, sektor infrastruktur akan naik. Kalau tahun 2009 sektor mining oke, sedangkan 2014 properti dan finansial yang oke. Kalau banking itu bintang 5, real estate dan konsumer juga ada bintangnya,” kata dia.

Andrew menyarankan agar investor membeli saham-saham berkapitalisasi pasar besar, menjadikan beta saham sebagai acuan, dan memilih saham-saham yang membagikan dividen untuk jangka menengah. Beta saham sering diasumsikan sebagai risiko investasi karena kenaikan dan penuruhan harga saham. Saham dengan beta tinggi menunjukkan tingkat risiko yang tinggi. Namun, keuntungan pun berbanding lurus dengan risikonya. Sementara, saham dengan beta di bawah 1,0 memiliki risiko lebih kecil, linier dengan tingkat keuntungan.“Setelah pilpres, strateginya berinvestasilah di saham-saham big cap. Jadikan beta saham sebagai acuan, dan pilih saham yang membagikan dividen untuk jangka menengah,” kata dia. (ant/bani)