Bersatu dan Bersama-sama

Oleh: Prof Dr H Imam Suprayogo, Dosen UIN Malang

Selasa, 07/10/2014
Bersatu itu adalah keharusan, sebab Islam mengajarkan yang demikian itu. Siapapun yang bersatu akan kuat dan buahnya akan meraih kemenangan. Ajaran Islam tentang persatuan sedemikian jelas, baik diungkapkan melalui al Qur'an maupun hadits nabi. Di manapun, kapanpun, dan apapun aliran atau madzhabnya, umat Islam seharusnya tidak boleh bercerai berai.

Umpama saja umat Islam di seluruh dunia bersatu, maka akan kuat dan akhirnya akan unggul. Bersatu tidak harus bersama-sama. Banyak orang sedang bersama-sama tetapi belum tentu bersatu, dan sebaliknya, banyak orang bersatu tetapi belum tentu dalam keadaan bersama-sama. Memang yang bagus dan atau ideal adalah bersatu dan sekaligus juga bersama-sama.

Umat Islam seringkali dalam menjalankan ritual tidak selalu bersama-sama. Shalat misalnya, bisa dilakukan dengan sendiri-sendiri, baik di rumah atau di masjid. Akan tetapi bisa dilakukan secara bersama-sama atau berjama'ah. Demikian pula, pelaksanaan hari raya atau memulai bulan ramadhan, kadang bersama-sama atau kadang juga tidak. Ada kalangan yang mendasarkan pada hisab dan lainnya pada hasil ru'yat. Perbedaan itu ternyata tidak menghalangi niat baik dan mulia, ialah menjaga persatuan.

Bersatu dalam keadaan berbeda-beda akan lebih baik daripada bersama-sama tetapi tidak bersatu. Orang-orang yang sedang dalam keadaan bersama-sama tetapi tidak bersatu justru membahayakan. Orang yang sedang bersama-sama tetapi saling bertengkar, konflik, bermusuhan, bahkan perang, maka akan berbahaya. Orang yang sedang bermusuhan atau konflik lebih baik berada pada tempat terpisah.

Sebaliknya berbeda-beda, tetapi bersatu akan lebih baik. Apalagi, manusia memang diciptakan dalam keadaan unik, atau khas. Tidak pernah ada dua orang atau bahkan lebih memiliki kesamaan total, baik wajahnya, tinggi badannya, bentuk muka dan rambutnya, suaranya, perilakunya, dan lain-lain. Setiap orang pasti memiliki perbedaan. Akan tetapi, dalam keadaan berbeda-beda itu akan menjadi lebih bagus manakala bisa disatukan.

Oleh karena itu, perbedaan pelaksanaan ritual, seperti awal puasa, jatuhnya hari raya, dan lain-lain tidak perlu dipermasalahkan. Menganggap apa yang dijalankan adalah yang paling benar sebenarnya tidak tepat, sebab benar- atau tidaknya pelaksanaan ritual, dan apalagi diterima atau tidaknya kegiatan ritual tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Sekarang ini, jutaan orang menjalankan ibadah haji di wilayah Arafah, Minna, dan Makkah. Semuanya menginginkan agar hajinya mabrur. Akan tetapi, siapa sebenarnya yang benar-benar mabrur, maka tidak akan ada seorang pun yang tahu.

Maka tatkala ada perbedaan awal puasa, jatuhnya hari raya, dan lain-lain yang menyangkut kegiatan ritual, tidak perlu diperdebatkan. Berdebat tentang persoalan ritual tidak akan ditemukan titik akhir, siapa sebenarnya yang paling benar. Semuanya akan mengaku benar, dan memang seharusnya begitu. Oleh karena itu, perintah ritual itu sebaiknya dikerjakan saja, sepanjang yang ia bisa. Tentang apakah diterima atau tidak kegiatan itu, diserahkan saja kepada Yang Maha Menerima. Yakinlah bahwa kegiatannya itu akan diterima. Allah swt., adalah Dzat Yang Maha Menerima amal kebaikan.

Akhirnya, memang yang paling ideal itu adalah tatkala sedang bersama-sama dan sekaligus juga bersatu. Tetapi rupanya keadaan ideal itu tidak selalu bisa dilaksanakan. Oleh karena itu, biarlah umat Islam berbeda-beda, atau tidak bersama-sama, tetapi yang terpenting dan tidak boleh tidak, apapun alirannya, golongannya, organisasinya, dan bahkan madzahabnya, adalah harus bersatu. Hanya dengan bersatu itu, umat Islam akan kuat, mandiri, dan berhasil menjadi contoh bagi umat lainnya. Wallahu a'lam.(uin-malang.ac.id)