Industri Reksa Dana Bakal Tumbuh 10%

Senin, 06/10/2014

NERACA

Jakarta – Ditengah derasnya sentiment luar negeri terkait pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat, diyakini Direktur Utama PT Trimegah Sekuritas, Denny Taher tidak akan banyak mempengaruhi pertumbuhan bisnis reksa dana di dalam negeri.

Oleh karena itu, dirinya menilai, pertumbuhan dana kelolaan reksa dana di Indonesia tahun ini di kisaran 10%,”Tantangan politik domestik tahun ini masih cukup berat, di tengah pulihnya ekonomi AS dan pelemahan ekonomi Asia, namun minat investor institusi masih terjaga sehingga pasar reksa dana saya kira bisa tumbuh moderat 10%,” ujarnya di Jakarta, kemarin.

Hingga Agustus 2014, total nilai dana kelolaan /asset under management/AUM reksa dana tumbuh sebesar 9% menjadi Rp 203,68 triliun dari periode yang sama tahun lalu. Sedangkan, jumlah unit penyertaan (UP) yang beredar sebanyak 126,37 miliar. Rinciannya, reksa dana saham Rp 84,76 triliun (41,61%), reksa dana terproteksi Rp 42,81 triliun (21,02%), reksa dana pendapatan tetap Rp 28,77 triliun (14,12%), reksa dana campuran Rp 18,15 triliun (9,25%).

Kemudian reksa dana pasar uang Rp 17,14 triliun (8,41%), reksa dana syariah Rp 8,85 triliun (4,43%), reksa dana exchange trade fund/ ETF Rp 2,65 triliun (1,3%) dan reksa dana indeks Rp 0,55 triliun (0,2%). Sementara reksa dana yang aktif diperdagangkan tercatat mencapai 843 reksa dana, dimana ada 121 reksa dana baru dan 130 reksa dana yang dinon-aktifkan terutama reksadana terproteksi.

Deni menilai kenaikan AUM reksa dana tidak terlepas dari kinerja para manager investasi yang mampu mencatat return produk reksa dana cukup baik,”Ini mendorong investor institusi khususnya untuk melakukan upsize dari investasi yang mereka miliki," katanya

Asal tahu saja, guna mendorong pertumbuhan industri reksa dana lebih agresif lagi. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberi kesempatan bagi lembaga non-bank untuk menjadi agen penjual efek reksa dana (APERD).

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Nurhaida pernah bilang, kesempatan lembaga non bank menjadi agen penjual efek reksa dana dimaksudkan pula untuk memperluas basis pemodal domestic,” "Saya yakin jumlah investor domestik khususnya ritel akan meningkat cukup progresif di 2015 mendatang dengan dukungan lembaga non-bank yang berfungsi sebagai APERD,”ujarnya.

Menurutnya, semua lembaga non bank dengan jaringan yang luas dan pengalaman panjang sebagai pemasar produk keuangan bisa ikut berpartisipasi menjadi agen penjual efek reksa dana, seperti perusahaan perasuransian, perusahan pembiayaan, pergadaian, bahkan perusahaan jasa pos bisa mengajukan permohonan sebagai APERD mulai tahun depan.

Dia menjelaskan, partisipasi dari lembaga non bank itu merupakan salah satu strategi khusus untuk mendorong pendalaman pasar keuangan oleh OJK. Selain itu, guna mendorong jumlah pemodal domestik, OJK juga terus mengembangkan infrastruktur di pasar modal,”OJK bersama KSEI akan memperluas penerapan 'Single Investor Identification' (SID) yang sebelumnya hanya untuk investor yang tercatat di KSEI akan diperluas untuk investor reksa dana, investor yang terdaftar di BAE, dan investor Surat Berharga Negara," tuturnya.

Nurhaida menambahkan, sistem penyelesaian transaksi juga akan semakin disempurnakan dengan pengembangan "C-Best Next Generation" (C-BEST NG) milik kustodian sentral efek Indonesia (KSEI), "e-Clears" milik kliring penjamin emisi Indonesia (KPEI), dilibatkannya Bank Kustodian sebagai "settlement agent", dan dukungan Bank Indonesia untuk penyelesaian transaksi yang lebih efisien. (bani)