Sentimen Pasar dan Dinamika Politik

Senin, 06/10/2014

Oleh: Prof. Firmanzah., PhD

Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi dan Pembangunan

Dalam beberapa waktu terakhir banyak kalangan mengkhawatirkan dinamika perpolitikan nasional meningkatkan risiko instabilitas politik nasional dan mempengaruhi sentimen investor di pasar keuangan. Depresiasi nilai tukar rupiah dan terkoreksinya IHSG dipandang sebagai dampak dari dinamika politik di DPR-RI tentang voting Tata Tertib DPR, UU Pilkada, dan Pemilihan Pimpinan DPR-RI. Secara lebih spesifik banyak kalangan mengkhawatirkan eskalasi dua kubu yaitu Koalisi Indonesia Hebat dengan Koalisi Merah Putih akan menciptakan ketidakpastian politik sehingga risiko doing-business di Indonesia akan meningkat di kemudian hari.

Tesis di atas perlu kita cermati lebih mendalam mengingat pengalaman Indonesia dalam mengelola dinamika politik baik di parlemen (DPR dan DPRD) ataupun dinamika politik di akar rumput (Pilkada) sangatlah baik. Misalnya saja dinamika politik di DPR terkait dengan polemik bail-out Century yang menghasilkan dua kelompok yaitu mereka yang setuju dan tidak setuju. Terlepas dari analisa ekonomi, polemik ini menjadikan dinamika di DPR-RI waktu itu menjadi sangat dinamis dan kompleks. Namun begitu pada 2010-2011, kepercayaan investor dunia justru semakin meningkat dengan diberikannya Indonesia investment-grade oleh S&P, Moody’s, Fitch, Japan Credit Agency (JCRA).

Kembali mencermati perkembangan saat ini, kita melihat bahwa dinamika politik antara koalisi Indonesia Hebat dan Koalisi Merah Putih masih terjadi dalam tingkat yang wajar. Eskalasi konflik di antara mereka masih dalam koridor konstitusi dan pengalaman Indonesia di era demokrasi dalam mengelola konflik baik di parlemen maupun akar rumput merupakan bukti matangnya demokrasi di tanah air. Sehingga para investor tidak perlu khawatir dan cemas akan kepastian iklim politik di Indonesia. Terlebih secara fundamental ekonomi nasional masih sangat terjaga dan hal ini ditunjukkan oleh sejumlah indikator seperti inflasi, pertumbuhan ekonomi yang tetap positif, cadangan devisa, tren positif investasi langsung, terjaganya daya beli masyarakat, defisit fiskal terus di bawah 3% dan porsi utang yang tetap terjaga.

Kita melihat justru tekanan dan sentimen global terhadap rencana The Fed untuk mengakhiri stimulus moneter dan rencana disesuaikannya tingkat suku bunga acuan menjadi perhatian investor global. Pelemahan nilai tukar mata uang dialami banyak negara di Asia dan tidak terkecuali Indonesia. Investor global sedang melakukan konsolidasi atas portofolio mereka dengan melakukan penghitungan kembali baik risiko maupun imbal hasil atas rencana penempatan dana di banyak negara.

Pengakhiran stimulus moneter akan berdampak langsung terhadap likuiditas global dan hal ini perlu menjadi perhatian khusus bagi para pengambil kebijakan di banyak negara. Kebijakan moneter, fiskal dan sektor riil perlu segera dirumuskan sebagai langkah antisipasi agar dampak dari rencana penghentian stimulus moneter dan penyesuaian suku bunga di Amerika Serikat dapat di mitigasi. Sehingga risiko capital-outflow keluar dari Indonesia dapat terkelola secara baik sekaligus hal ini tidak membahayakan fundamental ekonomi nasional.