Berkorban

Oleh: Dr. H. Sugeng Listiyo Prabowo, M. Pd, Wakil Rektor II UIN Malang

Senin, 06/10/2014
Berkorban merupakan satu kata yang sering kali diucapkan untuk menunjukkan seberapa besar kesungguhan seseorang dalam memperjuangkan suatu tujuan, atau menyelesaikan suatu pekerjaan. Orang yang berkorban kemudian disebut dengan orang yang melaksanakan pekerjaan dengan penuh pengorbanan. Pengorbanan yang dilakukan tidak hanya berkaitan dengan materi, tetapi juga bersifat non materi, bahkan juga dapat berupa dirinya sendiri (nyawa).

Berkorban memiliki konotasi heroik, kejadian tentang berkorban dicontohkan dengan sangat heroik pada peristiwa dimana Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim AS menyembelih putranya Ismail AS. Dalam peristiwa itu Allah SWT kemudian menggantikan Ismail AS dengan domba. Namun penggantian tersebut tentu tidak diketahui sebelumnya oleh Nabi Ibrahim AS. Peristiwa tentang berkorban yang lain juga dilakukan oleh Nabi Nuh As ketika diperintahkan untuk membuat perahu, yang tidak diketahui bahwa kapan banjir akan datang, sehingga menjadi bahan ejekan dan tertawaan kaumnya selama bertahun-tahun.

Dalam kasus lain berkorban ditunjukkan oleh para pahlawan perjuangan yang harus mengorbankan nyawa dan harta bendanya untuk mencapai suatu kemerdekaan atau untuk melindungi masyarakat umum dari ketertindasan. Pangeran Diponegoro, Pangeran Antasari, Jendral Soedirman, sampai dengan Bung Karno dan Bung Hatta adalah orang-orang yang mengorbankan dirinya untuk kepentingan banyak orang, jauh dari kepentingan diri sendiri, dengan tujuan untuk melindungi masyarakat dari perlakuan tidak adil dan ketertindasan.

Jika menilik berbagai fenomena yang tersebut, berkorban merupakan perbuatan yang dilakukan seseorang untuk melaksanakan suatu perintah atau untuk mencapai suatu tujuan dengan memberikan atau mengurangi seluruh atau sebagian dari sesuatu yang dimiliki dan disayanginya guna melaksanakan perintah atau mencapai tujuan tersebut. Dengan demikian berkorban selalu harus “kehilangan sesuatu yang dimiliki dan dicintainya” secara sukarela untuk tercapainya suatu tugas atau tujuan. Besarnya kehilangan sesuatu yang dicintai tersebut akan menandai besarnya pengorbanan yang dilakukan seseorang, juga akan berkaitan dengan tingkat keheroikannya. Mengapa demikian? karena berkorban memiliki unsur keberanian, semakin mampu seseorang untuk berkorban, semakin berani orang tersebut. Keberanian sangat tergantung pada kesetiaan, dan kesetiaan sangat dipengaruhi oleh kecintaan. Jadi perilaku berkorban bukan perilaku yang tiba-tiba, tetapi dari perilaku ini akan dapat diukur seberapa keberanian, kesetiaan, dan kecintaan seseorang terhadap suatu hal.

Pepatah mengatakan “cinta adalah pengorbanan” kecintaan seseorang akan mempengaruhi seberapa berani orang tersebut berkorban. Kecintaan Nabi Ibrahim AS merupakan kecintaan yang tidak tertandingi tingginya, Kecintaan tersebut dibuktikan dengan berbagai peristiwa pengorbanan yang luar biasa. Mulai dengan meninggalkan Istri dan Putranya di padang yang tandus, sampai dengan menyembelih Putra kesayangannya. Karena kecintaan dan kesetiaan tersebut kemudian Allah SWT menjadikan peristiwa keberanian dan pengorbanan tersebut memiliki berkah dan manfaat yang luar biasa.

Dari pengorbanan yang dilakukan Nabi Ibrahim AS meninggalkan Istri dan Putranya di padang tandus dan peristiwa pengorbanan Ismail AS kemudian memberikan berkah yang luar biasa kepada daerah tersebut, bahkan kepada seluruh negara tersebut pada saat ini. Dengan ditinggalnya Istri dan Putra Nabi Ibrahim dipadang pasir tandus tersebut kemudian munculah sumber air Zam-zam dan juga dibangunya Ka’bah di daerah tersebut, dengan peristiwa pengorbanan Ismail AS oleh Nabi Ibrahim kemudian timbulah ritual ibadah Haji dan Umrah. Melalui peristiwa-peristiwa tersebut kemudian daerah tersebut menjadi pusat ibadah umat Islam dari seluruh dunia. Yang kemudian dampaknya adalah daerah tersebut menjadi daerah tujuan orang terbesar dari seluruh dunia untuk melakukan ibadah Haji dan Umrah. Dampaknya adalah daerah tersebut menjadi daerah yang sangat makmur. Tentu saja ketika pengorbanan tersebut terjadi tidak terpikir oleh Nabi Ibrahim AS bahwa dampak pengorbanan yang dilakukannya sedemikian hebat dan berdampak sampai ribuan atau bahkan sampai kiamat.

Oleh karena perilaku berkorban tersebut selalu didahului oleh nilai-nilai baik, maka perilaku tersebut harus diajarkan dengan cara yang benar. Jika tidak, maka bisa jadi perilakunya ada, tetapi nilai-nilainya tidak kena. Persitiwa ini yang sering disebut dengan pura-pura berkorban. Misalnya seorang guru mengajarkan kepada anak-anak untuk berkorban dengan cara bersedekah setiap hari Jumat. Anak-anak kemudian bilang kepada orang tuanya bahwa setiap Jumat harus bersedekah di sekolah. Kemudian orang tua memberikan kepada anaknya uang untuk bersedekah dan uang saku untuk anak tersebut. Kemudian anak-anak di sekolah memberikan uang sedekah yang diberikan oleh orang tua tersebut kepada gurunya. Contoh diatas terlihat bahwa kegiatan bersedekah berjalan dengan normal, tetapi nilai-nilai tidak terinternalisasi kepada anak. Anak-anak hanya memindah uang bersedakah dari orang tua kepada guru. Orang tua juga tidak melakukan pengorbanan semestinya karena uang sedekah yang dikeluarkan besarnya disesuaikan dengan anak-anak. Mestinya guru harus mengajarkan bahwa yang harus disedekahkan adalah uang saku anak-anak. Anak-anak tidak boleh meminta uang sedekah secara khusus kepada orang tua. Dengan demikian anak-anak akan mengorbankan uang sakunya untuk kegiatan bersedekah tersebut. Berapapun yang dikeluarkan oleh anak-anak dari uang sakunya itu adalah pengorbanan yang dilakukannya untuk berbagi kepada orang lain. Dengan demikian, kegiatan bersedekah tersebut peristiwanya ada dan nilai-nilainya terinternalisasi.

Hari raya Idul Adha yang ditandai dengan kegiatan berkorban menjadi penting untuk berbagai hal, jika nilai-nilai yang menandai peristiwa berkorban termasuk didalamnya. Hari raya Idul Adha menjadi wahana untuk melakukan pendidikan bagaimana seseorang harus mencintai sesama, utamanya mencintai orang-orang yang tidak beruntung secara ekonomi, mendidik untuk mereduksi keinginan pribadi untuk sesuatu kepentingan yang lebih besar, mendidik untuk berani berkorban melalui inisiatif pribadi, mendidik untuk mencitai Allah SWT sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim AS.(uin-malang.ac.id)