Idul Adha dan Pendidikan Multikultural

Oleh: Muhbib Abdul Wahab, Dosen Pascasarjana FITK UIN Syarif Hidayatullah dan UMJ

Senin, 06/10/2014
Idul Adha (Hari Raya Kurban) sejatinya merupakan kontinuitas "jalan kesalehan sosial spiritual" dari Idul Fitri. Jika Idul Fitri merupakan manifestasi kemenangan atas nafsu, egoisitas, dan individualitas maka Idul Adha merupakan manifestasi dari ketulusan berkorban, kerendahhatian untuk melakukan refleksi historis dalam mengenang perjuangan dan pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan putranya, Ismail AS, sekaligus memaknai nilai-nilai spiritual dari manasik haji.

Kedua hari raya tersebut bermuara pada nilai-nilai kepedulian, ketakwaan, dan kesalehan sosial berupa ketulusan memaafkan, etos berbagi (zakat fitrah dan daging kurban), dan signifikansi silaturahim. Keduanya berangkat dari panggilan iman dan berbuah kemanusiaan universal, terutama aktualisasi nilai-nilai hak asasi manusia, seperti diteladankan Nabi Muhammad SAW dalam khutbah wadanya di saat wukuf di Arafah maupun mabit (bermalam) di Mina.

Sejumlah seniman melakukan aksi teatrikal dengan mengenakan kostum spiderman dan sapi kurban di depan Stasiun Kotabaru, Malang, Jawa Timur, Selasa (30/9). Teaterikal menyambut Hari Raya Idul Adha yang diadakan sebuah lembaga zakat tersebut merupakan kampanye untuk mengajak umat Muslim untuk berkurban.

Ketika kita merayakan Idul Adha, para tamu Allah (dhuyuf ar-Rahman) itu sedang menapaktilasi aneka ritualitas haji di Tanah Suci. Mereka merengkuh jalan ketaatan dan ketakwaan dalam meraih predikat haji mabrur karena dimotivasi oleh spirit bahwa balasan haji mabrur tidak lain adalah surga (HR Muslim). Garansi kebahagiaan spiritual (surgawi) inilah yang memotivasi umat Islam untuk memenuhi panggilan Ilahi (berhaji), meninggalkan kampung halaman menuju Tanah Suci, dan meninggalkan sanak saudara menuju persaudaraan dan kemanusiaan universal.

Menarik dikritisi bahwa jumlah jamaah haji Indonesia adalah yang terbesar di dunia. Namun demikian, para hujjaj itu sering dikritisi, "Mengapa jumlah jamaah haji Indonesia yang terus meningkat setiap tahun, bahkan harus rela mengantre sesuai daftar tunggu, tidak berbanding lurus dengan penurunan kuantitas dan kualitas korupsi?"

Multinilai Haji

Haji itu ibadah multidimensi sekaligus multinilai. Manasik haji bukan sekadar ritualitas fisik-formal tanpa makna moral. Prosesi manasik haji adalah sebuah "drama kehidupan" yang sarat filosofi, simbol, nilai, dan makna, terutama makna sosial kultural. Haji dimulai dengan niat ihram di miqat (garis start haji).

Pakaian ihram mengandung pesan bahwa menjadi tamu Allah itu harus suci lahir batin, berhati tulus ikhlas, tidak egois, tetapi egaliter, emansipatoris, dan siap memenuhi panggilan ketaatan (talbiyah) dan hanya berharap memperoleh ridha-Nya. Menjadi tamu Allah haruslah menunjukkan kebersihan hati, ketulusan niat, dan kesungguhan komitmen untuk tidak memperlihatkan stratifikasi dan arogansi sosial yang sering kali disimbolkan dalam berpakaian.

Makna thawaf bukan sekadar mengelilingi Ka'bah tujuh kali. Thawaf mendidik jamaah haji bergerak dinamis dalam orbit tauhid. Konsistensi dalam bertauhid memacu gerak untuk maju dan terus berperilaku progresif. Orang yang berthawaf adalah orang yang antikemunduran dan kejumudan. Thawaf menyadarkan pentingnya nilai mobilitas dan progresivitas sosial. Thawaf merupakan titik tolak menuju transformasi sosial-kultural yang berkeadaban. Thawaf juga merupakan gerakan "tasbih universal" dengan menjadikan tauhidullah sebagai orbit kehidupan.

Sa'i (berusaha, berlari-lari kecil) antara shafa dan marwa melambangkan etos dan disiplin kerja yang tinggi. Hajar, ibunda Ismail, memberikan keteladanan sebagai seorang ibu yang sangat tulus dan pantang menyerah untuk berusaha demi masa depan anaknya. Etos dan disiplin kerja itu harus dimulai dari shafa (ketulusan hati dan kejernihan pikiran).

Sa’i harus maksimal agar mencapai marwa (kepuasan hati, hasil maksimal atau prestasi tinggi). Sa’i diperankan oleh seorang ibu yang tulus dan penuh kasih sayang terhadap anaknya. Sa’i mendidik kita untuk mendahulukan cinta sesama, dengan memperlihatkan berbagai upaya maksimal "menyelamatkan masa depan" anak bangsa.

Wukuf di Arafah merupakan kesadaran spiritual akan pentingnya "berhenti seraya berefleksi untuk makrifat diri" (introspeksi dan evaluasi diri) dan merasakan kehadiran Allah SWT. Sebagai lambang miniatur padang "makhsyar" di akhirat kelak, wukuf memberi kesadaran akan pentingnya introspeksi diri, pengenalan jati diri, dan "pengadilan terhadap diri sendiri".

Jika selama ini manusia cenderung mengadili orang lain atau tidak pernah berbuat adil, Arafah adalah momentum yang tepat untuk mengambil keputusan yang arif, apakah selama ini jamaah haji yang berwukuf sudah benar-benar menjadi hamba-Nya ataukah masih menjadi hamba selain-Nya: hamba kekuasaan, hamba kebendaan, hamba kesenangan duniawi? Apakah yang berwukuf itu sudah meneladani akhlak Allah atau masih selalu mengikuti hawa nafsu dan setan?

Karena itu, di malam hari menuju Mina, para jamaah haji diminta bermabit di Muzdalifah (mendekatkan diri) untuk bertaubat dan bermunajat kepada Allah sambil menyiapkan "amunisi jihad" di tempat pelemparan (jamarat) di Mina. Mina adalah simbolisasi cita dan cinta. Karena cinta-Nya yang tulus kepada dan karena Allah semata, Nabi Ibrahim rela "mengorbankan" anak tercinta, Ismail.

Berjuang melawan setan dan hawa nafsu hanya bisa dimenangi oleh rasa cinta yang tulus kepada Allah. Dengan cinta karena-Nya, Ibrahim AS akhirnya memperoleh cita-citanya: anaknya tidak jadi "dikorbankan" karena manusia memang tidak pantas dikorbankan, terutama korban hawa nafsu dan keserakahan, baik serakah harta maupun kekuasaan.

Pendidikan Multikultural

Haji adalah ibadah yang paling sarat nilai multikultural karena diikuti oleh jamaah dari berbagai suku bangsa, bahasa, negara, adat istiadat, watak, karakter, latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya. Melalui ibadah haji ini, Allah menitipkan pesan-pesan moral-kultural agar sesama hamba Allah saling mengenal, berdialog, berempati, toleransi, menghargai, cinta damai, disiplin dan etos kerja tinggi, serta menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia.

Karena itu, di antara indikator kemabruran haji adalah seberapa jauh tamu Allah itu pulang dengan memberikan keteladanan multikultural. Keteladanan itu, antara lain, seperti sabda Nabi SAW berikut, "Tebarkan salam, berilah makan (kepada yang lapar), sambungkan tali silaturahim, biasakan qiyamul lail (shalat malam) ketika orang lain tidur, niscaya engkau akan masuk surga dengan damai." (HR Bukhari dan Muslim).

Aktualisasinya, salam berarti perdamaian: tegur sapa, murah senyum, ramah, bersikap dialogis, semangat memberi pelayanan yang prima, tidak sinis, tidak emosional, mudah mengulurkan tangan, empati, tidak mudah menyelesaikan persoalan dengan cara-cara kekerasan, dan sebagainya. "Memberi makan" berarti menunjukkan solidaritas sosial, mau meringankan penderitaan orang lain, dan berusaha mencari solusi.

"Menyambung tali silaturahim" dapat diaktualisasikan dalam sikap suka dan supel bergaul, mau memberi advokasi, tidak bermusuhan, bersahabat, bekerja sama, saling melindungi, dan sebagainya. Sedangkan "qiyamul lail" sebagai bentuk spiritualisasi diri dimaknai selalu zikir kepada Allah, istiqamah (teguh pendirian) dalam beribadah, berdoa, ikhlas beramal, sabar, optimistis, dan sebagainya.

Jika pendidikan multikultural seperti itu dapat diaktualisasikan oleh para alumni haji, maka haji bukan sekadar menunaikan kewajiban (agama), melainkan proses transformasi sosial budaya yang bermuara pada tegaknya sistem sosial kultural yang mengedapankan keluhuran moral dan kedalaman spiritual. Haji adalah panggilan ketuhanan sekaligus jihad kemanusiaan. Menjadi haji berarti berusaha menjadi manusia yang peduli terhadap norma-norma agama, hukum, sosial kultural, dan siap melayani orang lain dengan rela berkorban jiwa, raga, harta, ilmu, dan jasanya demi kesejahteraan dan kemaslahatan umat manusia.

Pendidikan multikultural haji dapat diinternalisasikan dalam diri para tamu Allah itu melalui tiga hal. Pertama, optimalisasi pendidikan nilai haji melalui pendidikan dan pelatihan haji harus dikelola secara profesional, tidak sekadar berorientasi bisnis. Kedua, pemberian keteladanan yang baik dari para pemimpin, alim ulama, dan tokoh-tokoh agama yang sudah berhaji. Ketiga, peningkatan kontrol sosial terhadap mereka yang sudah berhaji.

Karena itu, jika terbukti melakukan pelanggaran hukum, penyimpangan moral, dan perbuatan tidak terpuji lainnya, maka sudah saatnya para alumni Tanah Suci itu diberikan "hukuman" moral dan sosial yang tegas, sehingga dapat memberikan efek jera bagi yang bersangkutan maupun bagi yang lain. Jadi, nilai-nilai pendidikan multikultural haji semakin bermakna jika para jamaah haji memiliki kesadaran dan keteladanan multikultural.

Kita yang tidak hadir (berhaji) di Tanah Suci dan kini merayakan Idul Adha di Tanah Air, idealnya tetap mewarisi pesan pentingnya berkurban: "menyembelih" egoisitas, mengorbankan apa yang paling kita cintai demi meraih kedekatan (kurban) kepada Allah SWT dan sesama, sehingga kita menjadi hamba-Nya yang kaya cinta kasih dan kaya budaya (multikultural), seperti cinta kasih Ibrahim AS yang luar biasa tinggi kepada Allah SWT, anaknya, dan kepada kemanusiaan. (haluankepri.com)