Tingkatkan Basis Kepemilikan Investor Domestik

Senin, 06/10/2014

NERACA

Jakarta - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) berencana untuk mengurangi porsi kepemilikan asing atau share bond holders di Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia. Tercatat, per September 2014 porsi asing mencapai sekira Rp447,7 triliun atau 37,33 persen.

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Bambang PS Brodjonegoro mengatakan, hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi porsi utang asing adalah memperdalam pasar domestik. "Pertama menambah instrumen, terus kedua menambah investornya sendiri," ucap Bambang di kantornya, Jakarta, Jumat (3/10), pekan lalu.

Menurutnya, saat ini investor domestik masih belum banyak sehingga menyebabkan asing masih lebih mendominasi. Untuk itu, dia meminta kepada pemerintahan mendatang perlu memperdalam pasar dengan meningkatkan jumlah investor domestik. "Tambah instrumen dan mendorong potensial investor untuk masuk ke surat berharga tidak hanya sekedar bank," paparnya.

Sebelumnya, menteri Keuangan (Menkeu) berkeinginan agar porsi kepemilikan asing atau share bond holders di Surat Berharga Negara (SBN) di Indonesia beralih ke domestik. Hal ini berguna untuk menangkal krisis keuangan yang melanda jika ada kebijakan ekonomi global sekaligus mengurangi porsi asing yang masih mendominasi.

Menurut Chatib, porsi asing di pasar sekunder domestik mencatatkan kepemilikan tertingginya pada 29 September 2014 mencapai sekira Rp447,7 triliun atau 37,33 persen.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, aksi beli investor asing (net buy) sepanjang Juli 2014 mencapai Rp 13,07 triliun atau meningkat Rp 3,57 triliun dibandingkan bulan sebelumnya; Rp 9,5 triliun.

Investor asing mendominasi kepemilikan obligasi terbitan pemerintah dengan nilai lelang Rp 237,57 triliun dari total penawaran Rp 499,66 triliun. Dibandingkan periode yang sama pada 2013, kepemilikan investor asing meningkat signifikan; dari Rp323,65 triliun atau 32,52 persen pada akhir 2013 menjadi Rp443,72 triliun atau 37,07 persen pada 22 September 2014.

Sedangkan menurut Ketua OJk Muliaman D Hadad, mengatakan pihaknya terus mendorong peningkatan investor domestik dalam mengakses pasar keuangan di Indonesia. Hal itu terus dilakukan dengan harapan ekonomi lebih tahan banting ketika investor asing keluar dari Indonesia.

“Sejauh ini OJK akan tetap fokus pada hal-hal yang berkaitan dengan fundamental ekonomi Indonesia, termasuk yang berkaitan dengan pasar modal. Pasar modal harus memberikan kontribusinya dengan baik,” katanya.

Dijelaskan, potensi industri pasar modal dalam negeri harus terus digali lebih dalam dan termasuk investor lokalnya. Pasalnya, jika lebih banyak perusahaan yang IPO, nantinya kalau investor keluar-masuk itu tidak terlalu menggangu pasar modal dalam negeri karena sudah ditopang kuat investor domestik.

Dia juga berharap bahwa hal tersebut dapat terealisasi dengan baik. Tetapi, Muliaman mengakui hal demikian tidak akan terwujud dalam kurun waktu sebentar. Banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Bila mampu diselesaikan, bukan tidak mungkin perekonomian Indonesia akan lebih stabil dan berdaya tahan tinggi.

“Ini PR yang mestinya dari kemarin-kemarin kita lakukan sehingga kita harus makin lama makin punya daya tahan,” tegasnya. [agus]