Biotekhnologi Mampu Tingkatkan Produksi Pertanian

Senin, 06/10/2014

NERACA

Jakarta - Kalangan akademisi menilai penerapan bioteknologi pertanian mampu meningkatkan produksi sektor pertanian sehingga mampu menekan impor bahan pangan yang nilainya terus bertambah dari tahun ke tahun.

Direktur Program Pascasarjana Manajemen dan Bisnis IPB, Dr Arief Daryanto mengatakan, perkembangan teknologi untuk sektor pertanian menjadi hal penting untuk menghasilkan komoditas pertanian dengan kualitas yang lebih baik.

"Dampak positif inovasi dan teknologi pertanian, peningkatan produktivitas pertanian," katanya dalam diskusi bertema " Kemitraan Pertanian Berkelanjutan" yang digelar Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD), di Jakarta, Jumat (3/10), pekan lalu.

Kondisi tersebut, tambahnya akan mampu mengurangi impor bahan pangan mampu mengurangi impor bahan pangan yang nilainya terus bertambah dari tahun ke tahun.

Keuntungan inilah yang juga akan menimbulkan efek berantai ke industri dan sektor lainnya seperti peternakan, perunggasan, makanan olahan dan sebagainya. "Kalau negara lain sudah menerapkan dan hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan bioteknologi memberikan keuntungan ekonomi, kenapa kita tidak menerapkannya," katanya.

Menurut dia, sudah saatnya bioteknologi diterapkan dalam sektor pertanian Indonesia, agar tidak tertinggal dengan negara tetangga yang sudah menerapkan.

Sebab, selain mampu meningkatkan produktivitas, pendapatan petani, juga mampu menghasilkan produksi yang berkualitas.

Penerapan bioteknologi, katanya bisa mengatasi hambatan-hambatan pertanian yang dihadapi petani seperti perubahan musim, ancaman serangan hama dan penyakit serta keterbatasan lahan.

Dia mengharapkan pemerintah ke depan lebih progresif untuk menerapkan bioteknologi karena jika tidak segera dilakukan maka Indonesia akan kehilangan peluang menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang diterapkan akhir 2015.

"Mulai 1 Januari 2016 harus berdaya saing sehigga mendapatkan sosial ekonomi," katanya.

Pada kesempatan tersebut juga diungkapkan populasi dunia yang diperkirakan akan meningkat mencapai 9 miliar di tahun 2050, yang berdampak terhadap kenaikan kebutuhan pangan sekitar 70 persen.

vice President Concervastion International (CI) Indonesia, Ketut Sarjana Putra menyatakan, dibutuhkan pendekatan baru yang menekankan peran fundamental dari lingkungan.

"Ekosistem yang sehat dan keanekaragaman hayati berperan dalam menyokong produksi pertanian," katanya.

Sedangkan Presiden IBCSD Shinta W Kamdani menyatakan, saat ini terdapat beberapa praktik pertanian oleh petani kecil di daerah penyangga yang harus diarahkan menuju praktik pertanian berkelanjutan/sistem agroforestry untuk mencegah deforestasi dan hilangnya jasa ekosistem.

Pada kesempatan berbeda, Menteri Pertanian (mentan) Suswono, mengatakan langkah pembangunan sektor pertanian dimasa depan adalah penerapan teknologi tepat guna. Indonesia memiliki wilayah yang sangat luas dan berbeda karakteristik lahannya. Oleh karena itu, penerapan teknologi tertentu tidak dapat diseragamkan dari Sabang sampai Marauke.

Menurutnya, teknologi pertanian harus maju dan berkembang, salah satunya penerapan bioteknologi. Ditambah lagi dengan perbaikan angkutan, penerapan tarif pajak, suku bunga, dan produktivitas tenaga kerja. Pada tahap ini, kreativitas menjadi prioritas. “Teknologi merupakan suatu keniscayaan pembangunan pertanian yang berkelanjutan,” pungkasnya. [agus]