Terapkan Bioteknologi di Sektor Pertanian

Tekan Impor Pangan

Senin, 06/10/2014

NERACA

Jakarta – Beberapa kalangan akademisi menilai dengan menerapkan bioteknologi di sektor pertanian maka diperkirakan akan mampu mengurangi impor bahan pangan yang nilainya terus bertambah seiring dengan kebutuhan pangan dalam negeri. Hal tersebut seperti diungkapkan oleh beberapa kalangan akademisi seperti dari Direktur Program Pascasarjana Manajemen dan Bisnis IPB, Dr Arief Daryanto, Vice President Concervastion International (CI) Indonesia Ketut Sarjana Putra, dan Presiden Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) Shinta W Kamdani.

Arief Daryanto mengungkapkan perkembangan teknologi untuk sektor pertanian menjadi hal penting untuk menghasilkan komoditas pertanian dengan kualitas yang lebih baik. “Dampak positif inovasi dan teknologi pertanian, peningkatan produktivitas pertanian,” katanya di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Kondisi tersebut, tambahnya akan mampu mengurangi impor bahan pangan mampu mengurangi impor bahan pangan yang nilainya terus bertambah dari tahun ke tahun. Keuntungan inilah yang juga akan menimbulkan efek berantai ke industri dan sektor lainnya seperti peternakan, perunggasan, makanan olahan dan sebagainya. “Kalau negara lain sudah menerapkan dan hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan bioteknologi memberikan keuntungan ekonomi, kenapa kita tidak menerapkannya,” katanya.

Menurut dia, sudah saatnya bioteknologi diterapkan dalam sektor pertanian Indonesia, agar tidak tertinggal dengan negara tetangga yang sudah menerapkan. Sebab, selain mampu meningkatkan produktivitas, pendapatan petani, juga mampu menghasilkan produksi yang berkualitas. Penerapan bioteknologi, katanya bisa mengatasi hambatan-hambatan pertanian yang dihadapi petani seperti perubahan musim, ancaman serangan hama dan penyakit serta keterbatasan lahan.

Dia mengharapkan pemerintah ke depan lebih progresif untuk menerapkan bioteknologi karena jika tidak segera dilakukan maka Indonesia akan kehilangan peluang menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang diterapkan akhir 2015. “Mulai 1 Januari 2016 harus berdaya saing sehigga mendapatkan sosial ekonomi,” katanya.

Pada kesempatan tersebut juga diungkapkan populasi dunia yang diperkirakan akan meningkat mencapai 9 miliar di tahun 2050, yang berdampak terhadap kenaikan kebutuhan pangan sekitar 70 persen.

Sementara itu, Ketut Sarjana Putra menyatakan, dibutuhkan pendekatan baru yang menekankan peran fundamental dari lingkungan. “Ekosistem yang sehat dan keanekaragaman hayati berperan dalam menyokong produksi pertanian,” katanya.

Sedangkan Presiden IBCSD Shinta W Kamdani menyatakan, saat ini terdapat beberapa praktik pertanian oleh petani kecil di daerah penyangga yang harus diarahkan menuju praktik pertanian berkelanjutan/sistem agroforestry untuk mencegah deforestasi dan hilangnya jasa ekosistem.

Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Direktur PG Economics Limited, Graham Brookes, penerapan bioteknologi di sejumlah negara maju telah mampu meningkatkan produktivitas pertanian.

“Seperti contoh di Filipina yang sudah lebih dulu menerapkan bioteknologi, dapat menghasilkan keuntungan sebesar US$135 per hektar pada musim kering dan US$125 per hektar selama musim hujan. Sementara petani Indonesia saat ini hanya mampu menghasilkan US$7 per hektar,” ujar Brookes.

Brookes memaparkan hasil studi terbaru yang dilakukan selama 17 tahun ini mengenai dampak sosial-ekonomi dan lingkungan penerapan bioteknologi. Dalam pemaparannya, Brookes mengatakan, bahwa tanaman bioteknologi telah membantu petani baik di negara maju maupun negara berkembang untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus penghasilan petani. “Hasil studi ini menujukkan, penerapan bioteknologi mampu mendorong peningkatan pendapatan petani hingga total 116,6 miliar dolar dan justru petani meraup keuntungan tertinggi adalah petani dari negara berkembang dengan lahan sempit,” ujarnya.

Ia mengatakan, tanaman hasil bioteknologi senantiasa menjadi investasi yang menguntungkan bagi petani di seluruh dunia. “Sejak pertama diterapkan, 16,7 juta petani dari 29 negara telah menanam biotek di lahan seluas 1,25 miliar hektar atau 25 persen lebih besar dari total tanah di Amerika Serikat, atau Tiongkok dan 90 persen petani berasal dari negara-negara berkembang,” ujar Graham.

Bioteknologi bisa dikatakan sebagai metode pemuliaan tanaman yang lebih modern, yakni dengan cara perakitan tanaman transgenik menggunakan teknologi DNA rekombinan. Hanya gen interest pembawa karakter unggul yang di dipindahkan melalui metode transformasi, sehingga mempercepat seleksi varietas baru yang diharapkan 5 sampai 10 tahun lebih cepat. Sedangkan, bila menggunakan metode tradisional membutuhkan waktu 10 sampai 15 tahun. Teknologi ini dipercaya dapat mengatasi kurangnya produksi pangan nasional dengan meminimalisir angka impor bahan pangan yang semakin merajalela.