Perusahaan Plat Merah Didorong Lebih Giat Ekspor - Jaga Perekonomian Nasional

NERACA

Jakarta – Perusahaan plat merah yaitu perusahaan – perusahaan di bawah naungan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) didorong untuk menggiatkan ekspor hasil produksinya. Menteri BUMN Dahlan Iskan menyatakan, Indonesia harus menggiatkan ekspor ke seluruh negara agar mampu menjaga stabilisasi ekonomi. “Dengan kondisi (politik ekonomi) saat ini, maka saya menginginkan bagaimana ekspor harus ditingkatkan dalam skala jihad,” kata Dahlan di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Menurut dia, kegiatan ekspor dapat dilakukan oleh perusahaan pelat merah dan swasta nasional. Oleh sebab itu, Dahlan giat menggalakkan ekspor kepada perusahaan negara, serta menekan impor. “Karena kalau kita hanya berharap pada suku bunga, tidak cukup untuk memperbaiki fundamental ekonomi kita,” tegasnya.

Ia mengaku Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang akan mengatasi suku bunga perbankan sebagai langkah bijak. Di sisi lain, tindakan perdagangan gelap, subsidi bahan bakar minyak, hingga inflasi turut mengguncang perekonomian. “Mendengarkan politik tidak akan ada insentifnya. Sehingga kita butuh ekspor dengan memberikan insentif bagi pengekspor,” ungkapnya.

Lebih jauh lagi, Dahlan menjelaskan pada kondisi ekonomi seperti saat ini, dimana nilai tukar rupiah terhadap dollar melemah, maka perusahaan harus meningkatkan pendapatan dolar dengan ekspor tersebut. "BUMN yang memiliki pendapatan dolar melalui ekspor harus meningkatkan ekspornya sekuat tenaga," ujarnya.

Menurutnya saat ini ada dua kondisi yang dihadapi perusahaan-perusahaan BUMN, yaitu ada perusahaan yang mendapatkan rezeki nomplok misalnya perusahaan produsen karet yang memasarkan produknya keluar negeri. Selain itu ada juga yang perusahaan yang terkena dampak mini krisis tersebut. "Bagi BUMN yang menderita semoga tabah dan tidak memperparah krisis saat ini," ujarnya.

Dahlan juga memaparkan pada kondisi pelemahan rupiah saat ini pendapatan perusahaan BUMN sebagian ada yang meningkat ada juga yang turun, sehingga tidak akan berpengaruh banyak bagi laba BUMN. Saat ini, beberapa perusahaan pelat merah yang telah melakukan ekspor adalah PT Perkebunan Nusantara VIII dengan ekspor pisang, PTPN X ekspor buncis ke Jepang, PT Perikanan Nusantara Persero ekspor ikan ke Asia.

Tak hanya diminta untuk tetap melakukan ekspor, perusahaan plat merah juga diminta untuk memberikan labanya kepada negara. Pemerintah menargetkan pendapatan negara yang bersumber dari bagian laba BUMN mencapai Rp41 triliun pada rancangan anggaran pendapatan dan belanja negara (RAPBN) 2015. Jumlah tersebut tercatat naik 2,5% dibandingkan dengan APBN-Perubahan 2014 sebesar Rp40 triliun.

Target pendapatan bagian laba BUMN tahun 2015 tersebut berasal dari pendapatan laba BUMN perbankan sebesar Rp8,79 triliun dan pendapatan laba BUMN non-perbankan sebesar Rp32,2 triliun. Perolehan laba bersih tahun ini, akan dicatat sebagai pendapatan negara pada Tahun Anggaran 2015.

Padahal, khusus perusahaan BUMN yang tercatat di pasar modal saja, laba bersih 20 emiten BUMN turun 2,73% year on year (y-o-y) menjadi Rp40,08 triliun dari sebelumnya Rp41,2 triliun. Sejak dipimpin oleh Dahlan Iskan, laba bersih 20 emiten BUMN tercatat tumbuh 8,9% pada semester I/2014 dibandingkan dengan periode yang sama pada 2012. Dahlan Iskan dilantik sebagai Menteri BUMN sejak 19 Oktober 2011 menggantikan Mustafa Abubakar.

Tercatat 4 BUMN mengalami rugi yang cukup besar mencapai Rp4,14 triliun pada paruh pertama tahun ini. Kinerja sejumlah emiten juga diprediksi terus tertekan karena perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional. Maskapai penerbangan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. mencatatkan diri sebagai emiten BUMN dengan pertumbuhan kerugian terbesar hingga 1.838%. Pada semester I/2014, Garuda membukukan rugi bersih hingga US$211,7 juta dari sebelumnya rugi US$10,9 juta.

Disusul kemudian oleh PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. yang merugi hingga US$88,67 juta pada paruh pertama tahun ini dari sebelumnya laba US10,63 juta. Kinerja tersebut tercatat merosot tajam hingga 933% y-o-y. Begitu juga dengan PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. yang tercatat mengalami lonjakan kerugian hingga 270,94% menjadi Rp638,5 miliar dari sebelumnya laba Rp373,5 miliar.

Setali tiga uang, PT Indofarma (Persero) Tbk. mencatatkan pertumbuhan kerugian hingga 447,9% menjadi Rp50,9 miliar dari semester I/2013 yang membukukan rugi Rp9,29 miliar. Sementara itu, laba BUMN pada semester I/2014 tercatat mencapai Rp30,21 triliun. Perolehan tersebut merupakan pencapaian 75,53% dari target laba BUMN 2014 sebesar Rp40 triliun.

Penerimaan pemerintah atas laba BUMN per 30 Juni 2014 itu terdiri dari laba BUMN perbankan sebesar Rp8,791 triliun dan laba BUMN non-perbankan sebesar RP21,419 triliun. Pemerintah sempat mengusulkan penurunan target dividen BUMN menjadi Rp37,9 triliun. Tetapi, DPR tetap mematok target setoran dividen sebesar Rp40 triliun pada tahun ini.

Related posts