India Terus Buka Pintu Investasi Bagi Indonesia

Penanaman Modal

Senin, 06/10/2014

NERACA

Jakarta – India terus membuka peluang investasi bagi Indonesia, lapangan pekerjaan serta kerja sama alih teknologi dan ekspor impor komoditas. Duta Besar India untuk Indonesia Gurjit Singh di Jakarta, Jumat mengatakan, pihaknya mendorong pelaku bisnis Indonesia memperbesar hubungan kerja sama dengan India melalui hubungan "business to bussiness" (B to B) untuk memanfaatkan peluang ekonomi yang besar di negara itu.

"Saya terus mendorong hubungan B to B Indonesia dan India untuk memanfaatkan peluang bisnis di Indonesia yang sangat besar," kata Dubes Singh dalam Seminar "Getting India Right" yang digelar Kementerian Luar Negeri, dikutip dari Antara, Minggu (5/10).

Menurutnya selama ini usahanya mendorong B to B Indonesia-India masih mengalami kendala dalam keberlanjutan kerja sama bisnis sehingga peluang diambil oleh pebisnis dari negara lain. "Meskipun saya terus mendorong hubungan B to B, tapi kerja sama yang saya harapkan tidak berjalan, akibatnya pebisnis India lebih sering bekerja sama dengan pebisnis Malaysia dan Singapura," tuturnya.

Dalam kesmpatan itu Dubes Singh mengatakan selama ini hubungan perdagangan India -Indonesia sangat menguntungkan bagi Indonesia. Pada 2013 ekspor Indonesia ke India senilai 13 juta dolar AS, sedangkan impornya hanya 3,9 juta dolar.

Sementara itu Wakil Menteri Luar Negeri RI Dino Pati Djalal mengatakan selama ini Indonesia kurang memanfaatkan kesempatan bisnis di India padahal potensi bisnis yang ada sangat besar. "India sebagai kekuatan ekonomi terbesar ketiga dunia memiliki potensi yang besar dan di sanalah pentingnya Indonesia memanfaatkan potensi yang ditawarkan negara itu," ujarnya.

Terkait target peningkatan ekspor Indonesia ke India pada 2015, Dino mengatakan peningkatan dapat diambil dari semua sektor, tapi paling utama dari sektor manufaktur dan komoditas. Selain itu, ia mengatakan dalam penjualan komoditas yang sedang menurun, seperti minyak sawit, Indonesia juga dapat menjadikan India sebagai pasar baru.

Terkait hal ini, tahun lalu, Duta besar India untuk Indonesia, Gurjit Singh menekankan bahwa Indonesia memilik potensi besar bagi investor asing (khususnya India) untuk mengembangkan bisnisnya disini. Dia mengatakan bahwa Indonesia dan India memiliki banyak kesamaan dari budaya dan ekonomi. Bahkan menurutnya Indonesia merupakan salah satu sahabat baik India dalam hal bisnis."Permasalahan ekonomi India dan Indonesia tidak jauh berbeda. Pertemuan hari ini bisa menjadi salah satu cara untuk mengukur kemampuan kita dalam menghadapi pasar bebas dan mencari jalan keluar bersama", ujar Gurjit Singh.

Salah satu hal yang menarik menurut Gurjit Singh adalah Indonesia memiliki angka yang tinggi, yakni 60% untuk populasi usia produktif (dibawah 40 tahun) yang tinggal di perkotaan. "Tidak semua negara memiliki kondisi seperti itu", ujar Gurjit. Kondisi tersebut tentu membuat Indonesia sangat berpotensi untuk menjadi sasaran investasi. Tidak hanya terhubung dalam bisnis atau B2B (Business to Business), tetapi juga Indonesia bisa menjadi target pasar yang menjanjikan.

Adapun saat itu, Wakil Ketua Umum Kadin bidang IT, Telekomunikasi dan Sektor Penyiaran, Didie W Soewondho menuturkan niat investor asing khususnya dari India untuk menyimpan dananya dalam bentuk investasi masih cukup banyak. Tak ayal, menurut dia, setidaknya pengusaha asal India akan merealisasikan kerjasama investasinya dibidang otomotif, kesehatan, IT, pendidikan, pariwisata, infrastruktur dan energi.

“Pengusaha asal India telah menyiapkan dana diatas US$300-400 juta atau sekitar Rp4,3 triliun per proyeknya. Akan tetapi, dari pihak India belum bisa menjabarkan proyek-proyeknya. Yang penting fokus bidangnya, fokus project dan juga fokus pemainnya,” kata Didie.

Ia menyebutkan beberapa pengusaha asal India tertarik untuk melakukan investasi di Indonesia lantaran di Indonesia menyimpan banyak peluang dalam berinvestasi dan juga budaya yang menarik. “Kesan yang baik, pengusaha India memang mengakui tingkat investasi di India sulit. Nah kalau di Indonesia juga sulit tapi tingkat kesulitannya lebih kecil,” imbuhnya.