Perkuat Basis Investor Lokal

Jumat, 03/10/2014

Oleh: Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Derasnya dana asing yang masuk ke pasar modal tentunya menjadi kabar positif bila ekonomi Indonesia masih tetap tumbuh ketimbang di negara-negara Asia. Pertimbangannya, Indonesia masih menjadi surganya berburu margin yang besar karena menawarkan bunga yang tinggi. Namun disatu sisi, kondisi ini menjadi ancaman bagi industri pasar modal dalam negeri lantaran besar dominasi asing sehingga membuat pasar modal mudah rapuh dipengaruhi sentimen global. Apalagi, bila dana asing keluar dari pasar modal.

Besarnya dominasi asing tidak memberikan benefit jangka panjang, namun hanya jangka pendek karena mampu meningkatkan likuiditas pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Negatif lainnya, kondisi ini menjadi gambaran bila daya saing investor lokal masih lemah. Lihat saja, berdasarkan data dari BEI menyebutkan total jumlah investor pasar modal sekitar 480 ribu orang, 60% masih di kuasai investor asing dan sisanya 40% dimiliki investor lokal.

Tahukah angka ini tidak pernah maju dalam 10 tahun terakhir dan tidak ada perkembangan signifikan, padahal potensi bisnis investor Indonesia sangat banyak. Tidak hanya itu saja, hampir 50% lebih broker yang ada di pasar modal adalah di dominasi asing atas pasar efek lokal. Kondisi ini menjadi miris, disaat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama lembaga SRO-nya tengah sibuk-sibuknya meningkatkan daya saing dan memicu investor lokal menghadapi pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA 2015), ternyata secara tidak sadar saat ini kepemilikan saham oleh investor asing sudah mengendalikan pasar modal di Indonesia.

Suka tidak suka, dalam perjalanannya pengenalan industri pasar modal di masyarakat masih tertinggal ketimbang industri perbankan yang memang lebih awal. Maka tidak heran, masyarakat lokal lebih familiar ketimbang instrument investasi di bursa. Meski begitu, hal ini tidak serta merta masyarakat Indonesia dinyatakan melek finansial. Buktinya, berdasarkan survei OJK menyebutkan bila tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia baru 21,8% atau tertinggal dibandingkan Filipina sudah di atas 30% dan Malaysia 60-70%.

Namun begitu, tidak ada kata terlambat guna meningkatkan pertumbuhan investor lokal ditengah rendahnya tingkat literasi keuangan saat ini. Langkah kongkrit yang perlu dilakukan adalah sosialisasi dan edukasi secara berkelanjutan. Dimana sosialisasi ini, tidak hanya diperuntukkan bagi masyarakat yang berduit saja tetapi bisa membidik siswa atau mahasiswa yang dinilai menjadi investor potensial.

Berikutnya, memberikan kemudahaan dalam pelayanan untuk berinvestasi. Asal tahu saja, kendala masyarakat untuk mengakses industri keuangan baik itu bank atau pasar modal tidak hanya minimnya edukasi serta literasi yang rendah, tetapi juga layanan yang dirasakan sulit. Ditengah kemajuan teknologi saat ini, kondisi ini bisa dimanfaatkan berbagai industri keuangan untuk melayani secara cepat, tepat dan terarah.

Bagaimanapun juga tengah kompleksnya berbagai investasi saat ini, maka makin canggih pula kejahatan industri keuangan. Maka untuk itu, perlindungan hukum menjadi sebuah keniscayaan agar dana yang investasikan ada dan tidak menjadi khawatiran bagi investor.

Kemudian yang tidak kalah pentingnya adalah perlindungan terhadap investor dan kepastian hukum. Bagaimanapun juga di tengah kompleksnya berbagai investasi saat ini, makin canggih pula kejahatan industri keuangan. Maka untuk itu, perlindungan hukum menjadi sebuah keniscayaan agar dana yang investasikan ada dan tidak menjadi kekhawatiran bagi investor.