Jurus Jaga Pasokan BBM Aman - Hingga Akhir Tahun

NERACA

Jakarta - Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral, Susilo Siswoutomo menyatakan, masyarakat harus puasa BBM bersubsidi saat akhir pekan agar kuota Bahan Bakar Minyak (BBM)/BBM bersubsidisebesar 46 juta Kilo liter (Kl) cukup sampai akhir tahun 2014.

Susilo optimistis, konsumsi BBM bersubsidi tahun ini akan melebihi dari jatah yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2015. Pasalnya, saat ini belum ada pengendalian yang ampuh menekankonsumsi BBM bersubsidi.

"Ya itung-itungannya saja juga sudah jelas (konsumsi lebihi kuota). Mau dikawal, kalau tetap saja ada yang nyelundup mau diapain?," kata Susilo, di Jakarta, kemarin.Susilo mengungkapkan, ada cara ampuh agar kuota BBM bersubsidi bisa cukup sampai akhir tahun, yaitu dengan meniadakan BBM bersubsidi saat Sabtu dan Minggu.

"Kecuali kalau dilarang misalkan seperti yang saya sampaikan. Kalau tiap sabtu minggu puasa subsidi. BBM subsidi tidak dijual selama weekend. Weekend kan orang pada jalan-jalan. Nggak ke kantor. Tidak dijual, nah saya yakin bisa," paparnya.

Susilo mengaku, hal tersebut akan menimbulkan risiko antrean pengisianBBM bersubsididi luar hari libur tersebut."Lho itu risiko dong. Orang minta hemat, kalau mau tidap melakukan apa-apa, lho kan tadi bertanya bagaimana caranya. Itu dilarang jual BBM saatweekend," ujarnya.

Sebelumnya, Pertamina memperkirakan kuota Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi sebanyak 46 juta kiloliter seperti dalam APBN Perubahan 2014, diperkirakan habis sebelum akhir tahun. Untuk BBM bersubsidi jenis premium, diprediksi habis pada 24 Desember 2014. Sedangkan solar bakal habis pada awal Desember mendatang.

Menurut, Wakil Presiden Senior Pemasaran dan Distribusi BBM PT Pertamina (Persero), Suhartoko mengatakan konsumsi BBM bersubsidi sudah mencapai 30,884 juta kiloliter per 31 Agustus 2014. "Sampai akhir 2014, konsumsi diperkirakan mencapai 46,976 juta kiloliter (dari kuota 46 juta kiloliter). Sesuai UU APBN, maka setelah kuota habis, BBM dijual dengan harga nonsubsidi," kata Suhartoko.

Suhartoko menjelaskan kondisi ini dipicu pengendalian konsumsi BBM subsidi dengan pengitiran tidak berjalan sesuai rencana. Di tambah lagi, tidak efektifnya aturan BPH Migas dalam mengendalikan BBM bersubsidi. "Akibatnya, konsumsi melebihi kuota," tegasnya.

Kelebihan kuota 1,62 juta kiloliter akan terjadi pada semua jenis BBM. Konsumsi premium bersubsidi sampai 31 Desember 2014 diperkirakan mencapai 29,811 juta kiloliter, yang berarti berlebih 521.000 kiloliter atau 1,8% di atas kuota 29,29 juta kiloliter.

Lalu, konsumsi solar diperkirakan 16,243 juta kiloliter yang berarti berlebih 1,078 juta kiloliter atau 7,1% di atas kuota 15,165 juta kiloliter. Serta minyak tanah akan mencapai 921.000 atau berlebih 21.0000 atau 2,4% di atas kuota 900.000 kiloliter.

Sementara realisasi konsumsi sampai 31 Agustus 2014 terdiri atas premium 19,747 juta kiloliter, solar 10,518 juta kiloliter, dan minyak tanah 619.000 kiloliter. Pada September ini, konsumsi premium diperkirakan mencapai 2,494 juta kiloliter, Oktober 2,559 juta kiloliter, November 2,427 juta kiloliter, dan Desember 2014 2,585 juta kiloliter.

Untuk konsumsi solar, September diperkirakan mencapai 1,422 juta kiloliter, Oktober 1,464 juta kiloliter, November 1,433 juta kiloliter, dan Desember 2014 1,405 juta kiloliter. Sedangkan konsumsi minyak tanah, pada September-Desember 2014 diprediksi sama 75.540 kiloliter per bulan. [agus]

BERITA TERKAIT

JAGADIRI Rilis Produk Asuansi Jaga Motorku - Gandeng Kerjasama Allianz

NERACA Jakarta – Memanfaatkan potensi pasar pengemudi roda dua, PT Central Asia Financial (CAF) atau dikenal dengan brand Asuransi JAGADIRI…

KAI Tawarkan Kupon Bunga Hingga 8% - Terbitkan Obligasi Rp 2 Triliun

NERACA Jakarta – Danai pengembangan ekspansi bisnisnya dan termasuk peremajaan armada, PT Kereta Api Indonesia (Persero) berencana menerbitkan obligasi I…

Tertib di Tiga Tahun Pemerintahan Presiden Jokowi

Oleh: Joko Setiabudi, Mahasiswa Pasca Sarjana FISIP- UI Menjelang tiga tahun masa pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Tarif Cukai Rokok Naik 10% di 2018

      NERACA   Jakarta - Pemerintah secara resmi akan menaikkan tarif cukai rokok rata-rata sebesar 10,04 persen mulai…

Menyampaikan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika Lewat Kesenian

    NERACA   Jakarta – Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) Yudi Latief menyampaikan bahwa pendiri bangsa…

Grand Eschol Residences & Aston Karawaci Hotel Kembali Dibangun - Sempat Tertunda

    NERACA   Jakarta - PT Mahakarya Agung Putera, pengembang Grand Eschol Residence & Aston Karawaci City Hotel, menegaskan…