Broker Asing Sudah Dominasi Efek Lokal - Tantangan Berat Hadapi MEA

NERACA

Jakarta – Meskipun industri pasar modal saat ini tengah giat-giatnya mempersiapkan daya saing menghadapi persaiangan pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA 2015), namun dominasi asing sudah begitu besar di pasar modal. Rupanya, tidak hanya jumlah investor tetapi juga broker asing yang mendominasi pasar efek lokal.

Direktur Teknologi dan Informasi PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Adikun Basirun mengatakan, dari 117 perusahaan efek yang ada, pangsa pasar perdagangan efek telah dikuasai oleh 28 perusahaan efek (broker) yang melakukan kerja sama dengan broker asing. Dimana porsi penguasaan pasar efek lokal oleh 28 broker tersebut telah dikuasai lebih dari 50%,”Broker kita belum menjadi tuan rumah di negeri sendiri, padahal kami itu bermimpi broker lokal dapat menguasai pasar yang besar di dalam negeri,” ujarnya di Jakarta, Kamis (2/10).

Dia mengungkapkan, sulit untuk membedakan antara broker asing dengan broker lokal. Hal ini disebabkan karena semua broker asing telah melakukan kerjasama dengan broker dalam negeri dan mendapatkan ijin dari pihak regulator. “Adanya seperti itukan, jadi memang tidak 100% lokal ataupun asing,” tukasnya.

Hal tersebut malah berbanding terbalik jika dibandingkan dengan kondisi broker efek di Malaysia. Menurut Investment Banking Association, bahwa dari 28 broker efek di Malaysia, ada 8 perusahaan efek yang siap untuk melakukan ekspansi pasar ke negara lain,”Mereka itu sudah siap, dan ada 8 perusahaan, seperti misalnya saja CIMB dan Maybank, mereka siap untuk ekspansi keluar dari negaranya,”tandasnya.

Fakta dilapangan, dominasi kepemilikan investor asing di pasar modal makin bertumbuh pesat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, aksi beli investor asing (net buy) sepanjang Juli 2014 mencapai Rp13,07 triliun atau mengalami peningkatan sebesar Rp3,57 triliun bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar Rp9,5 triliun.

Pengamat pasar modal dari Universitas Pancasila, Agus Irfani pernah bilang, ditengah kapitalisasi pasar yang terus tumbuh hingga Rp 5.200 triliun, rupanya kepemilikan saham masih di dominasi investor asing. Dia menambahkan, berbagai fasilitas dan kemajuan infrastruktur pasar modal belum menjadi kebanggaan bila peran investor lokal di bursa masih sedikit.

Bahkan dirinya menilai, pasar modal Indonesia ternyata belum siap menyongsong (MEA). Pasalnya, perangkat seperti perundang-undangan belum memungkinkan. Di antara hambatan itu, masalah cross border offering atau penawaran saham publik lintas negara masih terhambat karena ketentuan mengenai profesi penunjang belum ada, bahkan di level ASEAN,”Sebelum memasuki MEA, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) harus menyiapkan regulasi terlebih dahulu. Masyarakat ekonomi ini awalnya konsepnya kerja sama, tapi akhirnya yang terjadi adalah persaingan. Bisa dilakukan karena terbentur regulasi, bisa terjadi bilateral antara negara-negara yang siap terlebih dahulu,” kata dia.

Menurut dia, Indonesia memang memiliki potensi untuk menjadi pasar yang besar selama produktivitas yang menjadi fondasi sudah cukup kuat. Sehingga pasar modal Indonesia masih dianggap menjadi pasar bagi investasi asing yang merajai pasar modal di Indonesia yang hampir mencapai 60 sampai 70% investor asing di pasar modal Indonesia.“Market Mekanisme kita masih dinikmati oleh investor asing sehingga memerlukan penguatan bagi investor lokal supaya dapat bersaing dengan inebstor asing tersebut,” ujar Agus irfani. (bani)

Related posts