Harga Mulai Naik, Bulog Diminta Gelar Operasi Pasar

NERACA

Jakarta – Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan inflasi pada September 2014 sebesar 0,27%. Kendati inflasi tetap terkendali, namun komoditas beras menjadi penyumbang inflasi sebesar 0,02%. Menanggapi hal itu, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi meminta agar Perum Bulog segera melakukan operasi pasar untuk mengantisipasi dan meredam kenaikan harga beras di beberapa wilayah. “Bagitu harga beras naik Rp100 per kilogram, inflatoar langsung menjadi masalah. Saya sudah meminta Kepala Bulog untuk segera mengintervensi," kata Lutfi, di Jakarta, Kamis (2/10).

Lutfi mengatakan beberapa waktu lalu dirinya juga telah meminta Bulog untuk melakukan impor beras untuk menghadapi kondisi seperti saat ini, selain itu juga meminta Bulog untuk segera mamasok beras di pasar-pasar yang sudah mengalami kenaikan harga untuk komoditas tersebut. “Di beberapa pasar seperti Padang dan Kupang harga beras sudah naik, saya meminta agar Bulog segera memasok, agar tidak terjadi inflasi yang tinggi,” ujar Lutfi.

Berbeda dengan Lutfi, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Chairul Tanjung (CT) memandang, belum tentu diperlukan intervensi pasar oleh Perum Bulog pada Oktober 2014, meskipun sudah terjadi kenaikan harga gabah kering panen (GKP) sebesar 2,69%. “Belum (tentu Oktober). Artinya gini, kalau nanti implikasi terhadap inflasinya berlebihan, baru kita intervensi. Kalau belum terlalu berlebihan terhadap inflasi, kita enggak perlu melakukan intervensi. Karena kasihan petaninya,” katanya.

CT menuturkan, kenaikan harga beras dalam taraf wajar akan membantu meningkatkan kesejateraan petani. Sebab, kenaikan harga beras membuat pendapatan petani meningkat. Namun di sisi lain, dia bilang pemerintah memang ingin agar inflasi tetap terkendali. Pemerintah juga ingin menaikkan kesejateraan petani secara gradual, namun pasti. “Dan jangan lupa, kontribusi pekerja kita dari sektor pertanian itu masih sangat banyak,” tutur CT.

Namun, menurut CT, kenaikan GKP di bulan September 2014 masih dalam taraf aman, dan tidak mengerek inflasi besar-besaran. “So far, kami melihatnya tidak one by one sector. Kami melihatnya dari inflasi secara keseluruhan. So far, saya happy dengan hasil yang ada,” tukas CT.

BPS menilai kenaikan harga beras tersebut lebih disebabkan adanya spekulasi pasar yang melihat angka ramalan (aram) I produksi padi sebesar 69,87 juta ton gabah kering giling (GKG) atau mengalami penurunan sebesar 1,41 juta ton jika dibandingkan 2013. “Kemungkinan karena aram I BPS, dikarenakan mensiratkan penurunan produksi beras pada 2014, tampaknya hal tersebut yang dipegang oleh pedagang beras," kata Deputi Bidang Statistik, Distribusi, dan Jasa BPS, Sasmito Hadi Wibowo.

Menurut Sasmito, dikarenakan para pedagang berekspektasi adanya penurunan produksi, maka mereka mempertahankan harga beras tinggi. Ekspektasi tersebut terlihat dari kenaikan harga gabah kering panen (GKP) pada September 2014 sebesar 2,69% dibanding Agustus 2014, menjadi sebesar Rp 4.2828,54 per kilogram di tingkat petani, dan menjadi sebesar Rp 4.369,26 per kilogram di tingkat penggilingan.

Sementara impor beras, lanjut Sasmito, pada periode Januari-Agustus 2014 sangat kecil hanya 200.000 ton, dari konsumsinya yang diperkirakan mencapai 26 juta ton yang berarti selama kurun waktu tersebut produksi diperkirakan mencukupi untuk kebutuhan domestik. Pemerintah sendiri juga telah mengambil langkah untuk melakukan impor beras dengan meminta Perum Bulog untuk melakukan impor setelah BPS mengeluarkan aram I produksi padi.

Aram I produksi padi tersebut sebesar 69,87 juta ton gabah kering giling (GKG) atau mengalami penurunan sebesar 1,41 juta ton jika dibandingkan tahun 2013 lalu. Penurunan produksi tersebut diperkirakan terjadi karena penurunan luas panen seluas 265,31 ribu hektar atau 1,92% dan produktivitas sebesar 0,03 kuintal per hektar atau 0,06%. Sementara untuk produksi padi 2013 sebesar 71,28 juta ton gabah kering giling atau mengalami kenaikan sebanyak 2,22 juta ton, atau 3,22% jika dibandingkan dengan 2012.

BERITA TERKAIT

Pacific Paint Revitalisasi Pesantren Sirnarasa - Gelar Festival Religi

  NERACA   Ciamis - Indonesia dikenal sebagai masyarakat majemuk, tercermin dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang memiliki arti berbeda-beda…

Maskapai Asing, Solusi Tekan Harga Tiket?

Oleh: Pril Huseno Isu paling panas selain sidang sengketa hasil Pemilu di Mahkamah Konstitusi (MK) saat ini adalah, ide memasukkan…

Perlu Fasilitasi Investor Stabilkan Harga Garam

NERACA Jakarta – Pemerintah dinilai perlu untuk memfasilitasi lebih banyak investor ke bidang produksi garam dalam rangka menstabilkan harga garam…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Petani Kakao Butuh Kebijakan Jaminan Akses Pasar

NERACA Jakarta – Kalangan petani kakao lokal di berbagai daerah dinilai membutuhkan kebijakan pemerintah yang benar-benar dapat memberikan penjaminan kepada…

Pemerintah Patok Harga Batu Bara Acuan Juni US$81,48/Ton

NERACA Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mematok harga batu bara acuan pada bulan Juni 2019 sebesar…

Dunia Usaha - Industri Hasil Tembakau Disebut Signifikan Sumbang Ekonomi

NERACA Jakarta – Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Abdul Rochim menyampaikan bahwa industri hasil tembakau (IHT) menyumbang perekonomian secara…