Pemerintah akan Turunkan Target Ekspor 2014

Jumat, 03/10/2014

NERACA

Jakarta – Pemerintah dalam hal ini Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menyatakan bahwa pihaknya berencana untuk merevisi target ekspor Indonesia 2014, dari sebelumnya US$190 miliar menjadi kurang lebih US$180,5 miliar atau turun sebesar lima persen. “Kita akan merevisi turun sekitar lima persen dari US$190 miliar, untuk tahun ini,” kata Lutfi usai melakukan jumpa pers kinerja ekspor-impor di Jakarta, Kamis (2/10).

Penurunan target ekspor 2014 tersebut tercatat lebih rendah daripada pencapaian pada tahun 2013, karena pada saat itu Kementerian Perdagangan menargetkan ekspor senilai US$179 miliar, sementara realisasinya mencapai US$182,6 miliar. Lutfi mengatakan keputusan tersebut akan diambil setelah melihat kondisi yang ada dalam waktu dua minggu ke depan, hal tersebut khususnya berkaitan dengan turunnya harga crude palm oil (CPO) yang merupakan komoditas andalan ekspor Indonesia. “Kemungkinan dalam waktu dua minggu yang akan datang, jika tidak ada suatu terobosan yang baik maka kita harus merevisi turun,” ujar Lutfi.

Menurut Lutfi, penurunan harga CPO sudah mulai terjadi sejak awal Januari 2014 lalu, dimana pada saat itu tercatat harga CPO sebesar US$920 per metric ton, sementara saat ini sudah berada pada level US$726 per metric ton. “Saya sedang menghitung apabila tidak ada perbaikan, terlebih tahun lalu ekspor CPO kita mencapai US$20 miliar,” kata Lutfi.

Namun, Lutfi meyakini bahwa untuk tahun 2015, diperkirakan kinerja ekspor akan menjadi jauh lebih baik mengingat struktur industri dalam negeri sudah mengalami perbaikan yang terlihat dari tingginya jumlah impor untuk barang modal dan bahan baku penolong “Jika kita berinvestasi untuk barang-barang tersebut, kita akan mendapatkan keuntungannya 2-3 tahun kedepan, dengan struktur ekspor yang mulai berbeda dan bernilai tambah tinggi,” kata Lutfi.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melansir bahwa neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2014 mengalami defisit sebesar US$318,1 juta, dengan demikian, defisit neraca perdagangan secara kumulatif mencapai US$1,41 miliar. Sementara itu, secara kumulatif, kinerja ekspor Indonesia untuk periode Januari-Agustus 2014 mencapai US$117,42 miliar atau menurun 1,52% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2013.

Dengan demikian, defisit neraca perdagangan Indonesia untuk periode yang sama mencapai US$1,41 miliar kendati neraca perdagangan non-migas mampu mengantongi surplus sebesar US$7,18 miliar, namun harus tertekan dengan defisit neraca perdagangan migas sebesar US$8,59 miliar.

Dalam keterangan sebelumnya, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan Nus Nuzulia Ishak mengatakan target peningkatan ekspor 2014 tersebut dilakukan berdasarkan pertumbuhan produk ekspor yang terbagi dalam kategori produk utama (main products), produk prospektif (prospective products), dan produk nonmigas lainnya.

“Berdasarkan target pertumbuhan ekspor pada 2014, maka diperlukan peran aktif dari stakeholders, terutama kalangan dunia usaha. Melalui kerja sama ini diharapkan mampu menjadi poros kemitraan strategis dalam setiap usaha peningkatan kinerja ekspor,” katanya.

Setidaknya ada sepuluh produk yang termasuk dalam produk utama yaitu Crude palm oil (CPO) dan turunannya, Tekstil dan produk tekstil (TPT), elektronik, karet dan produk karet, produk kayu, pulp dan furnitur, produk kimia, produk logam dan mesin–mesin, makanan olahan dan otomotif.

Nus juga menyampaikan kepada seluruh daerah memperkuat sinergi dengan pemerintah pusat untuk mendorong pencapaian target ekspor tahun ini. “Sinergi dan sinkronisasi pemerintah pusat dan daerah dapat membuat masing-masing pihak lebih proaktif sehingga dapat membantu dunia usaha dalam mencapai target ekspor pemerintah," katanya.

Ketua LP3E Kadin Indonesia Ina Primiana yang meyakini target ekspor 2014 yang hanya 5% kemungkinan besar dapat dengan mudah dicapai. Hanya saja, perlu untuk diperhatikan apakah realisasi ekspor nantinya mencakup komponen lokal yang tinggi. “Perlu dilihat, kenaikan ekspor itu berapa persen komponen lokalnya. Ekspor yang termasuk paling kencang saat ini adalah otomotif, tapi otomotif itu 80% komponennya impor,” jelasnya.

Untuk itu, startegi yang seharusnya ditempuh Indonesia adalah menggenjot industri komponen agar industri prioritas RI tidak lagi tergantung pada bahan baku dan barang modal yang diimpor dari negara lain. Selain itu, penekanan pada ekspor barang bernilai tambah perlu diperhatikan agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada penjualan komoditas mentah. “Sampai akhir tahun ini, kalau saya lihat ekspor memang akan cukup tinggi. Namun, ini lebih dipengaruhi oleh nilai dolar yang kuat dan efek naiknya harga komoditas. Jadi [pertumbuhan ekspor] ini lebih karena nilai, tapi kenaikan volumenya tidak terlalu besar. Lagipula, negara-negara tujuan ekspornya juga masih dalam tahap pemulihan,” terangnya.