Ketimbang Bangun Kilang, Pertamina Pilih Fokus Tingkatkan Kapasitas

Jumat, 03/10/2014

NERACA

Jakarta – Ditengah kondisi impor Bahan Bakar Minyak (BBM) yang semakin membengkak lantaran tidak mempunyai kilang (refinery), PT Pertamina (Persero) justru tengah fokus untuk meningkatkan kapasitas kilang pengolahan minyak mentah yang ada. Dibawah kepemimpinan baru, M Husen yang menggantikan Karen Agustiawan yang mengundurkan diri menyatakan bahwa peningkatan kapasitas kilang lebih murah dibandingkan membangun kilang baru.

“Peningkatan kapasitas (upgrading) adalah upaya yang paling memungkinkan untuk kita kerjakan. Karena itu jauh lebih murah dibandingkan dengan membangun kilang minyak baru. Pertamina akan berkonsentrasi ke situ dulu,” kata Husen, Pelaksana Tugas Direktur Utama Pertamina di Jakarta, Kamis (2/10).

Pihaknya mengatakan bahwa menargetkan penambahan sebesar 500 ribu barel per hari. Dengan penambahan tersebut, maka total kapasitas kilang Pertamina mencapai 1,5 juta barel per hari dan akan mengurangi impor. Program upgrading akan dilakukan di semua kilang terutama Cilacap (Jateng), Balongan (Jabar), dan Balikpapan (Kaltim).

Menurut dia, ke depan, minyak yang bakal diolah di kilang, berjenis sour, karena pasokan dunia cukup banyak. “Disain awal kilang adalah sweet karena mengolah minyak dalam negeri. Tapi itu justru mahal. Jadi, ke depan, kami akan tingkatkan bisa olah sour karena di dunia lebih banyak sour,” katanya.

Menurut dia, tambahan 500.000 barel per hari dengan skema upgrading tersebut masih dikaji konsultan. Pertamina, lanjutnya, juga sedang merevisi rencana jangka panjang perusahaan (RJPP) dengan target selesai pada akhir 2014. “Kami lihat di RJPP, karena harus diitung semua uangnya seperti untuk akuisisi lapangan dan bangun kilang. Nanti terlihat bagaimana blue print-nya,” ujarnya.

Di sisi lain, tambah Husen, Pertamina masih berminat membangun kilang minyak dengan menggandeng Saudi Aramco dan Kuwait Petroleum Corporation. “Hanya saja memang perjalanannya masih panjang. Tapi, tetap jalan rencananya,” katanya.

Saat ini, lanjutnya, Pertamina dan mitra masih menghitung keekonomiannya. “Kilang ini bisnis US$10 miliar, jadi butuh waktu lama,” ujarnya. Pertamina kini memiliki enam kilang pengolahan minyak dengan total kapasitas 1,1 juta barel per hari. Keenam kilang itu adalah Dumai, Riau 170.000 barel per hari, Plaju, Sumsel 118.000 barel, Cilacap, Jateng 348.000 barel, Balikpapan, Kaltim 260.000 barel, Balongan, Jabar 125.000 barel, dan Kasim, Papua Barat 10.000 barel.

Berantas Mafia

Wakil Presiden RI terpilih, Jusuf Kalla (JK) menyatakan Indonesia sudah sangat membutuhkan kilang minyak (refinery) baru yang besar. Saat ini kilang minyak yang ada di Indonesia relatif berusia tua, terbaru dibangun pada zaman Presiden Soeharto. Kilang minyak baru bisa menjadi solusi mengatasi permainan mafia minyak impor. “Belum ada refinery yang besar setelah Balongan. Itu perlu dibangun untuk atasi mafia migas,” katanya.

Lewat kilang baru ini, pengolahan minyak mentah bisa dilakukan di dalam negeri dalam jumlah besar. Indonesia bisa membeli minyak mentah langsung dari negara penghasil. Para mafia nantinya tidak bisa bermain terhadap harga minyak di pasar internasional karena pemerintah membeli langsung ke negara asal tanpa perantara. “Kalau ada refinery kita bisa kontrak jangka panjang dengan negara,” jelasnya.

Sementara itu, Mantan komisaris PT Pertamina, Umar Said menyatakan Indonesia mestinya membangun kilang pengolahan minyak sendiri jika ingin mendapat keuntungan dan penghematan Anggaran Pendapatan Belanja dan Negara (APBN) lebih banyak.

Menurut Umar, dengan memiliki kilang pengolahan minyak, Indonesia akan bisa memproduksi sendiri bahan bakar minyak (BBM) yang murah bagi warga masyarakatnya. Ini, sekaligus memperkecil ketergantungan pada pasar luar negeri yang dinamikanya sangat tinggi. “Harganya pasti lebih murah daripada kita beli di pasar Singapura. Sebab, kita beli langsung. penghematannya di situ," ujar Umar.

Selain itu, ia melanjutkan, jika Indonesia membangun kilang minyak sendiri berarti juga memperluas lapangan pekerjaan. Umar meyakini bahwa kenyataan Indonesia dalam kurun 10 tahun terakhir belum juga membangun kilang minyak, karena permainan pihak-pihak yang ingin mengejar keuntungan bagi dirinya sendiri. “Saya sangat menduga itu kerjaan mafia. Mafia kan, nggak mau ada kilang baru. Kalau ada kilang baru, impor kita berkurang dong,” kata Umar.

Menurut Umar, selama ini ada anggapan kurang tepat yang terlanjur berkembang bahwa membangun kilang tidak memberikan keuntungan yang besar. Padahal, membangun kilang itu merupakan investasi strategis yang sangat menguntungkan untuk jangka panjang. “Selalu digembor-gemborkan, kilang itu return-nya tipis. Memang tipis, tetapi selalu di atas cost of money. Jadi, dibiayai sepenuhnya dengan uang orang. Bodoh, kalau investasi dengan uang sendiri. Tetapi, uang pijaman ini jangan dikorup," kata Umar.

Anggota Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Azam Azman Natawijiana menilai melalui pembangunan kilang minyak baru, maka negara bisa memaksimalkan produksi Bahan Bakar Minyak (BBM) secara mandiri. Selain mengimpor minyak mentah, Indonesia turut memasok produk BBM dari luar negeri. “Yang jelas kita buat refinery sehingga BBM bisa diproduksi di indonesia dan pemerintah itu tidak dijual dan refinery di sini agar untuk rakyat,” tutur Azam.

Menurut dia ide pembangunan kilang minyak ini cukup baik di tengah kebutuhan BBM yang tiap tahunnya terus meningkat. Karena itu, seluruh pihak wajib mendorong pemerintah periode berikutnya untuk merealisasikan pembangunan kilang baru. “Itu merupakan ide yang bagus. Dan kita wajib mendorong pemerintah untuk membangun refinery,” kata dia.