Wajah Baru DPR Memalukan

Jumat, 03/10/2014

Ketika 560 anggota DPR periode 2014-2019 usai dilantik siang hari (1 Oktober 2014), belum 24 jam berakhir anggota dewan terhormat ini dilantik,sudah mulai memperlihatkan watak dan perangai aslinya yang tidak punya etika ,sopan santun dalam berbicara di podium rapat.

Suasana ricuh muncul saat rapat paripurna yang dipimpin oleh ketua pimpinan sidang sementaraIbu Popong dan Ade Rizkiyang merupakan anggota DPR tertua dan termuda. Sejumlah anggota DPR itu maju secara bergerombolan menuju meja pimpinan sidang. Sementara yang lainnya menghujani interupsi. Mereka berebut berusaha naik ke podium pimpinan sidang.Tingkah laku mereka layaknya seperti anak TK yang ingin berusaha mendekati gurunya. Sungguh terlalu kejadian ini ditonton jutaan rakyat Indonesia melalui siaran televisi.

Sidang paripurna ini berjalan ricuh ,karena adanya protes dari kedua kubu dan kemudian terjadi saling dorong dan sikut dan saling berteriak sampai situasi sulit untuk dikendalikan oleh pimpinan sidang sementara.Akhirnya aggota pengamanan DPR turun tangan

Ini menggambarkan perilaku asli anggota dewan yang baru dilantik dan disumpah di hadapan petinggi negara. Padahal mereka beberapa hari sebelumnya telah difasilitasi begitu mewah di hotel-hotel berbintang di Ibukota negara. Para wakil rakyat itu sudah boleh menikmati hidup serba terjamin dengan menguras uang negara bahkan belum mulai bekerja pun mereka sudah memperoleh kemudahan mendapat sejumlah uang muka untuk membeli mobil.

Tapi sesaat kemudian, ruang sidang paripurna berubah menyedihkan dan memalukan. Sidang Paripurna masa awal jabatan itu berlumuran perilaku arogan, ambisi politik hitam, premanisme tanpa merasa malu ditonton banyak kalangan.

Ruang sidang yang semula diharapkan menjadi tempat bagi orang terhormat, cerdas, politisi andalan yang membawa amanah rakyat, sebaliknya justru memperlihatkan tontonan yang memuakkan hanya demi kepuasan pribadi untuk memuntahkan kebencian kepada kelompok lain tanpa etika sedikitpun, atau politik balas dendam.

Sama sekali tidak ada etika profesional sebagai orang-orang pilihan rakyat untuk taat pada azas demokrasi. Ruang sidang tersulap menjadi arena pertarungan bagai “macan” yang sedang mengamuk oleh naluri liar hewaninya. Memalukan !

Lalu bagaimana dengan sumpah dan janji yang diucapkan beberapa jam sebelumnya dipastikan berakhir tanpa makna. Tuhan yang disimbolkan hadir melalui kitab-kitab suci berbagai agama menjadi semacamperisai kemunafikan tanpa kendali yang tak pernah ditakuti. Nafsu politik yang telah terbentuk untuk memenuhi negosiasi politik kepentingan, ternyata mengabaikan norma kesantunan dan etika berorganisasi yang sehat.

Karena itu, kita memprediksi kinerja DPR lima tahun mendatang tampaknya sulit untuk merepresentasikan wakil rakyat yang jernih. Ada kesan anggota DPR yang baru ini hanya akan mempersiapkan kekuatan politik untuk berkuasa pada lima tahun mendatang. Ini benar-benar meresahkan rakyat. Masih perlukah kita berdemokrasi dengan sehat?