Citra Buruk Perbankan Lokal

"PERANG" SUKU BUNGA DEPOSITO TINGGI

Kamis, 02/10/2014

Jakarta – “Perang” suku bunga deposito yang terjadi di sejumlah bank besar hingga menembus 11% untuk jangka 6 dan 12 bulan, makin membuat lebar selisih suku bunga (spread) antara bank di Indonesia dan negara ASEAN. Kondisi ini juga membuat citra buruk perbankan lokal di mata asing, dan mengundang kecurigaan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) untuk menelisik dugaan kartel bank di negeri ini

NERACA

Menurut data The Finance, rata-rata suku bunga dana di Singapura, Malaysia dan Thailand berkisar 2%-4%. Sedangkan suku bunga kreditnya dengan kisaran 3%-7% per tahun. Sementara di Indonesia dari data yang sama suku bunga deposito sekitar 10%-11,25%. Suku bunga kredit sekitar 13%-15%, bahkan suku bunga kredit mikro lebih tinggi hingga 24% per tahun.

CEO The Finance Eko B. Supriyanto menilai carut marutnya kondisi internal perbankan di dalam negeri menunjukkan belum efisiennya kinerja bank lokal. “Bank-bank BUMN harusnya jadi motor penekan bagi bank-bank lainnya untuk tidak memberikan suku bunga dana melebihi batas LPS Rate 7,75%, ternyata ikut bermain di pasar perbankan,” ujarnya kepada Neraca, Rabu (1/10).

Selain masalah carut marut internal perbankan di dalam negeri, Bank Indonesia (BI) pun belum mau menandatangani panduan ASEAN Banking Integration Framework (ABIF) atau Kerangka Kerja Integrasi Perbankan ASEAN. Alasannya, ada beberapa hal yang masih harus diperjuangkan terkait asas resiprokal perbankan di kawasan ASEAN. Padahal dengan ditandatanganinya panduan tersebut, maka bank di Indonesia memiliki akses ke negara ASEAN.

Menurut guru besar ekonomi Prof Dr Didiek J Rachbini, tingginya suku bunga telah menjadi penyakit yang sulit untuk disembuhkan. Pasalnya hampir semua perbankan di Indonesia menerapkan suku bunga yang tinggi. Bahkan, Didiek menilai suku bunga perbankan di Indonesia merupakan yang paling tinggi di dunia. “Dibandingkan dengan negara-negara lain, hanya di Indonesia yang punya suku bunga setinggi ini. Jangan sampai nanti mengorbankan sektor rill,” ujarnya.

Dia mengatakan, tingginya suku bunga juga telah menyebabkan inefisiensi di perbankan dalam negeri. Tidak hanya inefisiensi, dia juga menilai ada penyebab lainnya. “Kalau dilihat dari spread bunga, benar-benar tidak masuk akal. Tapi tingginya sudah terlalu, berarti ada masalah lain di luar inefisiensi. Ketika ditelisik suku bunga tertinggi di dunia ini adalah masalah struktur pasar yang oligopolis karena Indonesia juga banyak yang super kaya,” kata Didiek.

Hal itu juga, menurut dia, yang membuat otoritas perbankan menjadi super hati-hati karena pemilik dana besar kerapkali juga menekan bank dengan meminta special rate. Saat ini suku bunga acuan sudah berada di level 7,75% dan bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) berada di kisaran itu, tetapi tambah Didik, bank masih ada yang memberikan bunga kredit tiga kali lipat. “Suku bunga kredit keterlaluan karena acuan SBI 5-6%, tapi di lapangan bisa 3 kali lipat 14-15%,” tukasnya.

Dengan suku bunga yang tinggi, menurut dia, perbankan Indonesia akan sulit bersaing di pentas regional. Pasalnya perbankan di negara-negara lainnya mempunyai suku bunga yang bersaing. Akibat suku bunga yang tinggi maka akan membuat sektor rill sulit untuk bangkit. “Makanya, proyeksi pertumbuhan tahun ini kita desain realistis. Kalau potensi agar bisa 6% masih bisa, tergantung pemerintah apakah menjalankan tugasnya,” tuturnya.

Persaingan Likuiditas

Pengamat perbankan Universitas Atma Jaya A. Prasetyantoko mengatakan, dengan semakin ketatnya persaingan likuiditas antarbank akan membuat target ekspansi kredit masing-masing bank terkoreksi karena bank kemungkinan besar akan memfokuskan dananya untuk menstabilkan angka likuiditas. Untuk menstabilkan angka likuiditasnya, bank-bank tentu akan menaikkan suku bunga deposito ataupun suku bunga kredit. Kenaikan suku bunga deposito dan kredit merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari karena bank butuh dana untuk mengamankan likuiditasnya.

"Apabila persaingan suku bunga deposito bank saat ini bukan dipicu karena ketatnya likuiditas. Oleh karenanya, tidak perlu adanya suku bunga deposito yang tinggi jika kondisi likuiditas dalam kondisi yang wajar dan berangsur normal. Kemudian, bila perbankan harus menaikkan suku bunga deposito secara terus-menerus untuk menstabilkan likuiditas, hal itu harus diimbangi dengan meningkatkan suku bunga kredit. Hal itu supaya net interest margin ( NIM) bank tidak tergerus banyak. Kalau NIM tergerus sih pasti, tetapi dihindari agar tidak tergerus banyak," kata dia.

Menurut dia, jangan sampai para pelaku perbankan atau bankir memanfaatkan kondisi perbankan yang bisa dikatakan tidak stabil ini. Apabila terdapat bankir yang melakukan hal seperti itu, maka Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai lembaga pengawas lembaga keuangan jangan tinggal diam terhadap perbankan yang main-main menerapkan suku bunga deposito atau dana pihak ketiga (DPK).

"Perlu adanya sanksi sebagai langkah pengawasan industri keuangan, kalau bank tidak patuh maka ada aturan mainnya, mungkin teguran dan lain-lain. Kalau ada bank-bank yang tidak komit, tentunya OJK sebagai pengawas akan melakukan kebijakan untuk menindaknya," ujar Prasetyantoko.

Dia menambahkan perang suku bunga deposiito yang terjadi di industri perbankan hingga menembus 11% makin membuat lebar selisih suku bunga bank di Indonesia dengan negara-negara ASEAN. Rata-rata suku bunga dana di Singapura, Malaysia dan Thailand, berkisaar 2-4%. Sedangkan suku bunga kredit dengan kisaran 3-7%. Sementara di Indonesia, dari data yang sama, suku bunga kredit sekitar 11,25-11,3%. Untuk suku bunga kredit mikro lebih tinggi hingga 24%.

Prasetyantoko pun menjelaskan kebijakan penetapan suku bunga yang baik akan menjamin perlindungan konsumen dinilai perlu demi meningkatkan daya saing industri perbankan menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 mendatang. Suku bunga perbankan yang kompetitif dapat meningkatkan daya saing di MEA 2015 mendatang. Perbankan sebagai lembaga intermediasi merupakan urat nadi perekonomian nasional.

"Agar bisa kompetitif, makanya perlu menyetarakan tingkat suku bunga dengan negara lain. Pasalnya, tingkat suku bunga bank Indonesia menjadi paling tinggi di ASEAN mencapai 11,5% jika dibandingkan dengan Malaysia yang memiliki tingkat suku bunga 3% dan Vietnam sebesar 7,6 %," jelas dia.

Dia juga mengutarakan para pelaku perbankan harus berupaya bagaimana industri perbankan RI bisa memberikan kontribusi dalam perekonomian dengan memberikan bunga rendah kepada masyarakat. Kemudian efisiensi perbankan di tanah air menjadi kunci memenangkan persaingan dengan bank-bank dari negara kawasan regional lainnya, dalam lingkup MEA 2015.

"Meningkatkan daya saing itu kan caranya macam-macam. Salah satunya dengan menaikkan tingkat efisiensi (bank). Selain efisiensi, perbankan juga perlu meningkatkan modal, yang merupakan "jantung" bagi bank untuk menangkis berbagai risiko yang timbul, seperti risiko pasar, risiko operasional, risiko kredit, ataupun risiko likuiditas," tandas Prasetyantoko.

Peneliti perbankan Indef Eko Listiyanto mengatakan, tingginya suku bunga deposito perbankan di Indonesia yang berimbas langsung dengan tingginya bunga kredit menjadikan perbankan nasional tidak akan pernah bersaing kompetitif karena bunga deposito dan kredit di Indonesia terbilang tertinggi di ASEAN. “Apalagi nanti jika menjelang MEA jika memang perbankan nasional masih mempertahankan suku bunga tinggi bakal dilibas sama perbankan ASEAN lain,” ujarnya.

Disamping itu, jika perbankan nasional masih mempertahankan suku bunga tinggi menurutnya akan berdampak pada utang luar negeri (ULN) swasta bakal meningkat karena sektor riil (pengusaha) akan lari ke luar untuk mencari pinjaman. “Suku bunga tinggi, menjadikan pengusaha terutama perusahaan besar yang punya jaringan besar bakal lari mencari pinjaman di luar. Dan untuk pengusaha lokal bakal mencari pinjaman di luar bank, tentu saja kondisi ini akan menjadikan krisis kepercayaan masyarakat terhadap perbankan nasional,” imbuhnya.

Disinggung apakah perang suku bunga tinggi aji mumpung karena masa transisi pengawasan dari BI ke OJK, menurutnya ini karena likuiditas ketat maka dari itu perbankan mematok bunga tinggi, disamping itu bank juga tidak mau rugi. “Ini hanya karena menyelamatkan diri maka dari itu bank mematok di atas rata-rata yang ditetapkan oleh LPS,” ujarnya.

Namun demikian, jika perbankan nasional masih terus mempertahankan suku bunga tinggi dikhawatirkan dalam MEA 2015 nanti tidak mampu bersaing dengan bank Asean lain. Maka dari ini harus menjadi warning perbankan nasional jika ingin bersaing kompetitif di pasar bebas ASEAN nanti. “Jika masih mempertahankan bunga tinggi, bunuh diri sih nggak hanya saja patut di waspadai karena perbankan Asean lain tawaran bunganya lebih rendah dan menarik,” tegasnya. mohar/agus/bari