Quantum Leap Phapros Jadi Farmasi Go Global

Komitmen Tingkatkan Daya Saing

Kamis, 02/10/2014

NERACA

Jakarta - Meskipun saat ini nilai tukar rupiah masih terkoreksi terhadap dollar AS dan menjadi beban bagi perusahaan farmasi lantaran hampir 100% bahan bakunya impor dari luar, namun tidak menyusutkan permintaan pasar farmasi di dalam negeri. Perusahaan riset dan konsultasi sektor kesehatan internasional GlobalData menilai, volume penjualan pasar farmasi Indonesia berpotensi meningkat hingga menembus US$ 9,9 miliar atau Rp 114,5 triliun pada 2020.

Disebutkan, pertumbuhan signifikan itu dipicu meningkatnya pengeluaran jaminan kesehatan pemerintah dan tingginya keinginan untuk bertahan hidup dari masyarakat. Saat ini, pangsa pasar Indonesia masih berada di level US$ 5 miliar dengan rata-rata pertumbuhan per tahun sebesar 10,2%. Pertumbuhan tersebut didorong program layanan kesehatan pemerintah seperti Jamkesmas dan Program Keluarga Harapan yang ditujukan untuk meyediakan asuransi kesehatan bagi seluruh masyarakat Indonesia pada 2019 mendatang,”Total obat-obatan yang dipatenkan mengisi sebagian besar pasar farmasi Indonesia. Segmen terapi, seperti penyakit menular dan pernapasan, diprediksi tumbuh secara signifikan dalam beberapa waktu mendatang. Itu semua karena meningkatnya insiden penyakit menular tertentu,”kata Direktur Healthcare Industry Dynamics GlobalData, Joshua Owide.

Selain itu, besarnya populasi masyarakat Indonesia masih menjadi pasar yang menjanjikan bagi industri farmasi di dalam negeri. Tak ayal banyak perusahaan farmasi luar negeri yang sudah ekspansi ke Indonesia. Bahkan menurut Chairman of the Board Tianjin Lu Yan Chang, besarnya potensi pasar farmasi Indonesia yang diperkirakan mencapai 50% dari total pasar farmasi di Asia Tenggara membuat pengusaha asal China tertarik untuk berinvestasi di sektor ini. Potensi pasar tersebut dilirik oleh perusahaan asal China, Tianjin Pharmaceutical Group Co Ltd.

Tentunya melihat besarnya minat perusahaan farmasi asing ekspansi di Indonesia, menjadi tantangan bagi perusahaan farmasi dalam negeri untuk meningkatkan daya saing untuk menjadi pemain dan bukan penonton. Apalagi memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA 2015). Kata Ketua Komisi Tetap (Komtap) Bidang Kebijakan Kesehatan Kamar Dagang Indonesia (KADIN) Adib Yahya, industri farmasi dalam negeri dapat menjadi kekuatan dalam menghadapi ASEAN Economy Community (AEC) 2015. Namun, jika pengelolaannya tidak benar, maka industri farmasi bisa menjadi boomerang.

Ambisi menjadi pemain dan rising star dalam industri farmasi, rupanya sudah dipersiapkan secara matang PT Phapros Tbk untuk bersaing ditingkat regional hingga global. Direktur Utama Phapros Iswanto menuturkan, pada tahun ini akan melakukan sejumlah langkah, seperti perluasan pasar serta penguatan standardisasi produk dan laboratorium berbasis ISO,”Setelah melewati masa penuh tantangan di 2013 yang merupakan masa transisi menuju SJSN dan kondisi makroekonomi yang kurang menguntungkan, kami akan memperkuat langkah stabilisasi sehingga dapat menciptakan pertumbuhan yang positif tahun ini,” katanya.

Untuk siap berkompetisi, Phapros yang merupakan anak usaha PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) ini berencana memperkuat pangsa pasar dengan mengakuisisi bisnis usaha lainnya dan memperluas pasar ekspor. Kiprah Phapros di industri farmasi selama 60 tahun sudah memantapkan perseroan untuk ekspansi lebih besar lagi di Asia. Saat ini, perseroan telah berhasil melakukan ekspor produk farmasi perdana ke Kamboja. Sementara untuk meningkatkan pasar ekspor, perseroan akan masuk ke pasar Vietnam dan Afganistan.

Diversifikasi Produk

Disebutkan, untuk pasar ekspor Vietnam, perseroan akan mengekspor obat-obatan dan suntikan. Sementara negara Afganistan ada beberapa obat-obatan serta multivitamin anak. Oleh karena itu, guna mengantisipasi permintaan pasar yang terus meningkat, perseroan juga memperluas pabrik guna meningkatkan kapasitas produksi.

Kata Direktur Keuangan Phapros, Budi Ruseno, perluasan pabrik di Semarang Jawa Tengah merupakan langkah perusahaan untuk mencapai target produksi obat tablet hingga 6 miliar per tahun, “Di Pabrik baru tersebut, Phapros menerapkan sistem teknologi tinggi untuk obat generik yang tinggi juga permintaannya, terutama untuk melayani kebutuhan obat BPJS kesehatan,”ujarnya.

Perseroan mengklaim, pabrik baru ini memiliki tingkat efisiensi yang tinggi dalam menghasilkan produk yang kompetitif dikarenakan Phapors dihadapkan dengan kondisi low price kompetisi. Disamping itu, perluasan pabrik dan upgrade sistem TI dilakukan untuk menangkap peluang bisnis yang masih terbuka lebar untuk pasar obat-obatan, baik di dalam maupun luar negeri.

Kemudian guna meningkatkan daya saing, Phapros juga berencana mengeluarkan produk produk baru, berupa stem cell tulang pada tahun 2015 mendatang. Produk hidroksi appetite tersebut akan digunakan sebagai pengganti tulang pada tubuh manusia.“Produk stem cell ini nanti akan tumbuh menjadi tulang keras. Jadi, ini bisa digunakan untuk penderita kanker tulang atau lainnya. Ini terbuat dari tulang sapi, yang nanti akan ditambahkan sedikit dengan sentuhan teknologi,” kata Direktur Utama Phapros Iswanto.

Dia menambahkan, terkait produk tersebut, Phapros akan memegang hasil riset Rumah Sakit Soetomo di Surabaya, sedangkan produksinya akan dibuat di pabrik Phapros di Semarang. Sampai saat ini, pihaknya sudah melakukan proses tahap registrasi untuk produk anyar tersebut. Nantinya, setelah registrasi dikantongi, dia berharap, produk stem cell ini pada tahun depan tidak hanya dikembangkan di pasar domestik, namun akan menyasar pasar global.

Diharapkan, produk baru ini bisa menjadi salah satu produk yang dapat memberi kontribusi terhadap pertumbuhan pendapatan perseroan ke depan. Disamping itu, perseroan akan terus melakukan diversifikasi produk. Rencananya, dalam 5 tahun ke depan Phapros akan menjajaki mengembangkan produk implant, biosimilar, serta herbal. (bani)